Oleh: subair | September 25, 2014

Fatwa PP Muhammdiyah 2003


Pertanyaan dari Haji Abdul Gani, D.
Jl. Karangpaci Rt. 3 no. 27 Buntok Kal.Sel.

Pertanyaan:
1. Kapankah waktu membayar dam, sebab diantara kita, ketika membayar dam berbeda-beda, dan siapa yang wajib bayar dam? Mohon dijelaskan lengkap dengan dalilnya!

Jawab:
i. Jama’ah haji yang melakukan haji Tamattu’, atau haji Qiran, wajib membayar dam, berupa seekor kambing, dan disembelih pada hari nahar (10 Zulhijjah)sebelum tahallul, atau apda hari tasyriq, sebagaimana disebutkan dalam suatu
hadis:
( وَكُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ ( أخرجه أحمد : 1 6151
“Seluruh hari tasyriq merupakan hari penyembelihan”. (ditahrijkan oleh Ahmad) Jika tidak mampu menyembelih kambing, maka harus diganti dengan puasa 10 hari. Tiga hari dikerjakan di Makkah, pada waktu haji, dan tujuh hari dekerjakan
setelah kembali ketempat asal. Sebagimana disebutkan dalam firmanNya:
.. .فَ إِذَا أَمِنْتُمْ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ فَمَنْ لَمْ
يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ …
“…Apabila kamu telah merasa aman, maka bagi yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji, ia wajib menyembelih korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka ia wajib berpuasa
tiga hari pada masa haji, danntujuh hari apabila telah pulang kembali, itulah sepuluh hari penuh”. (alBaqarah
(2): 196)
ii. Jama’ah haji yangb masih dalam keadaan ihram, tetapi melakkan mencukur/memotong rambut, memotong kuku, memakai pakaian berjahit, memakai parfum (wangiwangian), w ajib membayar dam dengan memilih salahsatu diantara menyembelih seekor kambing, berpuasa tigahari, atau memberi makan 6 orang miskin, masingmasing 3 sha’ (9,3 liter), sebagaimana diaturdalam firman Allah:
.. .فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ
أَوْ نُسُكٍ ..
“Barangsiapa diantara kamu sakit, atau terdapat penyakit dikepalanya, wajiblah ia membayar fidyah, yaitu puasa, bersedekah atau menyembelih kambing”. (alBaqarah(2): 196) Dalam hadis Nabi disebutkan lebih rinci:
عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مَرَّ بِهِ زَمَنَ الْحُدَيْبِيَةِ فَقَالَ لَهُ آذَاكَ هَوَامُّ رَأْسِكَ قَالَ نَعَمْ فَقَالَ لَهُ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْلِقْ رَأْسَكَ ثُمَّ اذْ بَحْ شَاةً نُسُكًا أَوْ صُمْ ثَلَاثَةَ
أَيَّامٍ أَوْ أَطْعِمْ ثَلَاثَةَ آصُعٍ مِنْ تَمْرٍ عَلَى سِتَّةِ مَسَاكِينَ ( أخرجه مسلم )
“Dari Ka’b bin ‘Ujrah, bahwa Nabi saw bersabda:” Cukurlah rambutmu, kemudian sembelihlah seekor domba sebagai ibadah, atau berpuasalah 3 hari atau memberi makan sebanyak tiga sha’ kurma kepada 6 orang miskin”. (ditahrijkan
oleh Muslim, kitab alHajj)
iii. Jama’ah haji yang terhalang jalannya sehingga tdak dapat meneruskan haji atau umrah, wajib membayar dam dengan cara menyembelih seekor kambing dan mencukur rambut, dan penyembelihannya ditempat terhalang, sebagimana
disebutkan dalam firmanNya:
. .فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ
الْهَدْيُ مَحِلَّهُ
“Apabila kamu terhambat (terhalang olehmusuh atau karena sakit) maka (sembelihlah kurban) yang mudah didapat, dan janganlah mencukur kealamu sebelum kurban sampai ditempat penyembelihannya”. (alBaqarah (2): 196

iv. Apbila membunuh binatang liar, wajib membayardam denga menyembelih binatang yang nilainya sebanding dengan binatang liar yang dibunuhnya, dan penyembelihannya dilakukan ditanah haram. Apabila tidak dapat menyembelih
binatang, maka diganti dengan memberi makan fakir miskin seniali binatang yang dibunuh, atau berpuasa sebanyak hari nilai binatang yang dibunuh, dengan perhitungan, setiap seperempat sha’ (gantang) sama dengan satu hari, sebagimana
disebutkan dalam:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَ مِّدًا
فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ
كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ …
“Hai orangorang yang beriman, jangnlah kamu membunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa diantar kamu membunuhnyadengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbnag dengan burun yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil diantara kamu sebagai hadya, yag dibawa sampai Ka’bah, atau denda membayar kafarat dengan memberi makan orangorang miskin, atau berpuasa seibang dengan mekanan yang dikeluarkan itu, supay dia merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya …(alMa’idah (5): 95)

v. Apabila mengumpuli isteri sebelum tahallul, maka selain hajinya batal, ia jiga wajib membayar dam, dengan cara menyembelih unta, jika tidak bisa, diganti dengan menyembelih sapi, jika tidak bisa, diganti dengan menyembelih tujuh ekor kambing. Jika tidak bisa juga, diganti dengan berpuasa sebanyak nilai unta, dengan perhitungan setiap seperempat sha’ (gantang) sama dengan satu hari. Cara ini berdasarkan ftawa Umar, Ali dan Abu Hurairah.

2. Menurut seorang muballigh, ganjaran salat di masjid alHaram adalah 100.000 lipat bila dibandingkan dengan ganjaran salat dimasjid lainnya, sedang menurut muballigh lainnya, ganjarannya sama. Mohon penjelasan dengan dalildalilnya!

Jawab:
Jika dilihat dari latar belakang pembangunannya, maka masjid dapat dibagi menjadi dua macam:

i. Masjid yang dibangun atas dasar taqwa; masjid inilah tempat ibadah yang
diridahi Allah SWT, sebagaimana ditegaskan dalm firmannya:
.. .لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيه …
“. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya”

ii. Masjid yang dibangun ats dasar kemadaratan; masjid inilah yang disebut masjid dirar, sebagimana disebutkan dalam firmanNya:
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ
حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ
إِنَّهُمْ لَكَاذِبُون . لَا ت قُمْ فِيهِ أَبَدًا ..
“Dan (di antara orangorang munafik itu) ada orangorang yang mendirikan mesjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orangorang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan RasulNya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam
sumpahnya).Janganlah kamu bersembayang dalam masjid itu selamanya… Dari kedua ayat tersebut, jelaslah bahwa masjid yang dibangun dimuka bumi ini berbedabeda tingkatannya, sesuai dengan motivasi pembangunannya. Rasulullah saw pun membedakan antara satu masjid dengan masjid lainnya, sehingga ada masjid yang lebih utam untuk berziarah kepadanya, seperti Masjid alHaram, Masjid alNabawiy dan Masjid alAqsa, sebagaimana disebutkan dalam suatu hadis:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا
تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهم
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى ( أخرجه البخاري )
“Dari Abi Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda: Tidak disunnahkan bepergian (berziarah) kecuali kepada tiga masjid, yaitu: alMasjid alHaram, Masjid Rasul saw dan alMasjid alQqsa”. (ditahrijkan oelh alBukhari, kitab alKusuf,
bab fadlu ashshalah, I: 135) Dalam hadis lainnya disebutkan sebagai berikut:
عن أَبَا هُرَيْرَةَ يُخْ بِرُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا يُسَافَرُ
إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِ الْكَعْبَةِ وَمَسْجِدِي وَمَسْجِدِ إِيلِيَاءَ ( أخرجه مسلم )
“Dari Abi Hurairah ra, bahwa Nabi saw bersabda: Bepergian (ziarah yang disunnahkan) hanyalah kepada tiga masjid, yaitu: Masjid alKA’bah, Masjidku dan Masjid Iliya’ (Aqsha)”. (ditahrijkan oleh Muslim, I, kitab alHajj,
no. 511/1397: 636) Hadis tersebut menunjukkanadanya perbedaan antara satu masjid dengan lainnya. Ada masjid yang dibangun atas dasar taqwa kepada Allah SWT, ada masjid yang dibangun untuk memecah belah umat Islam atau atas dasar kufur. Ada pula masjid yang dibangun nilainya sangat tinggi, sehingga jika beribadah dimasjid tersebut pahalanya seratus ribu kali pahala dimasjid lainnya, sebagaimana diungkapkan dalam hadis Nabi saw:
الصلاة في المسجد الحرام بمائة ألف صلاة رواه الصلاة في مسجدي بألف
صلاة والصلاة في بيت المقدس بخمستمائة صلاة
“Salat di alMasjid alHaram pahalanya seratus ribu salat, dan salat di masjidku pahalanya seribu salat dan salat di Bait alMaqdis lima ratus salat (jika dibandingkan edngan masjid lainnya)”. (ditahrijkan oleh alBazzar,dari Abi Darda’; asShan’aniy,1960, II: 177) Menurut atTahawiy, yang dimaksudkan dengan salat pada hadis tersebut ialah salat fardu, sebab salat sunnah yang paling utama adalah dirumah sendiri.

3. Sebagian muballigh menyatakan bahwa berdo’a di Raudah di Masjid Nabawiy do’anya makbul. Tetapi sebagian muballigh mengatakan, bahwa tidak perlu menggunakan tempat tertentu untuk berdo’a, asalkan sudah masuk masjid sudah cukup, dan makbul. Manakah yang benar?

Jawab:
Sebelum menjawab pertanyaan saudara, baiklah kami kutipkan bebrapa persyaratan berdo’a. menurut jumhur ulama, persyaratan berdo’a antar lain ialah:

i. Beriman kepada Allah SWT dan memenuhi kewajibankewajiban kepadaNya dan meninggalkan laranganlaranganNya,
sebagaimana ditegaskan dalam firmanNya:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
فَلْيَسْتَجِيبُوا ل ي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Dan apabila hambahambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi
(segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

ii. Berdo’a langsung kepada Allah SWT tanpa perantara, sebagaimana ditegaskan
dalam firmaNya:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

iii. Memperbanyak istighfar (mohon ampunan) kepada Allah SWT, sebagaimana diperintahkan Allah SWT:
اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا . وَيُمْدِدْكُمْ
بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anakanakmu, dan mengadakan untukmu kebunkebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungaisungai.

iv. Meyakini bahwa do’a yang diucapkan itu akan dikabulkan Allah SWT, sebagaimana ditegaskan dalam firmanNya:
… ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَك م …
…”Berdo`alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu….

v. Berdo’a disertai dengan berusaha, sebagaimana ditegaskan dalam firmaNya:
.. .إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ …
…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…. Demikianlah persyaratan bagi seseorang yang berdo’a kapada Allah SWT. Apabila persyaratan tersebut terpenuhi, niscaya Allah akan mengabulkan do’anya, kapan dan dimanapun ia berdo’a, dimasjid, drumah, di alMasjid
alNabawiy atau di alMasjid alHaram. Karena waktu dan tempat beribadah berbeda keadaanya, maka tentu saja ada waktu yang afdal, dan ada pula tempat yang afdal, seperti diisyaratkan dalam hadis Nabi saw: Waktu yang afdal untuk berdo’a:
i. Pada hari Jum’at, sebagaimana diungkapkan dalam suatu hadis:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ
فَقَالَ فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْ لِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى
شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَ ا*
“Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw membicarakan hari Jum’at, maka beliau bersabda: Pada hari Jum’at terdapat suatu saat yang tidak dijumpai oleh seorang muslim yang sedang melakkan salat danberdo’a
(memohon) sesuatu kepada Allah, kecuali Dia mengabulkan do’anya, dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya bahwa saat itu sangat singkat”. (ditahrijkan oleh alBukhariy, kitab Jum’at, 1:224)
ii. pada waktu antara azan dan iqamat, sebagaiman disebutkan dalam suatu hadis Nabi:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُرَدُّ
الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ ( رواه أبو داود )
“Diriwaytkan dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasululah saw bersabda: “Tidak ditolak do’a yang dipanjatkan antara azan dan iqamat”. (diriwaytkan oelh Abu Dawud, atTirmizi dan Ahmad; Sunan Abi Dawud, I, kitah ashShalah, no.521)
iii. Pada waktu sujud, sebagiamana disebutkan dalam suatu hadis:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقْرَبُ مَا
يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ ( أخرجه مسلم )
“Dari Abi Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda:” Saat seorang hamba yang paling dekat dengan Tuhannya, ialah ketika ia bersujud, maka perbanyaklah do’a (ketika itu)”. (ditahrijkan oleh Muslim, no. 482, bab arRuku’)
iv. Waktu sepertiga malam terakhir, sebagimana diungkapkan dalam suatu hadis:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ
يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي
فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ ( أخرجه البخار ي)
“ Dari Abi Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tuhan kita yang Maha Pemberi berkah dan Maha Agung turun ke langit dunia setiap malam, ketika tersisa sepertiga malam akhir, seraya berfirman: Barangsiapa berdo’a kepadaKu
maka akan Aku kabulkan. Barangsiap meminta kepadaKu maka akan Aku beri, dan barangsiapa mohon ampun kepadaKu,
maka akan Aku ampuni”. (ditahrijkan oleh alBukhariy, kitab alTahjjud, no. 1145)
v. Ketika berpuasa, sebagimana diungkapkan dalam suatu hadis:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ
دَعْوَتُهُمُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ و دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ
دُونَ الْغَمَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ بِعِزَّتِي
لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ ( رواه إبن ماج ه)
“Dari Abi Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda:” Tiga kelompok yang do’anya tidak ditolak (oleh Allah): Orang yang berpuasa hingga berbuka, Pemimpin yang adil, dan do’a orang yang teraniaya. Allah mengangkat do’a
(mereka) diats awan dan membukakan baginya pintupintu langit, kemudian Tuhan berfirman:”Demi keagunganKU Aku benarbenar akan menolongmu walaupun sesudah ini”. (Ibnu Majah, no. 1742) Haditshadits tersebut memberi pengertian bahwa ada waktuwaktu tertentu yang lebih baik untuk berdo’a kepada Allah. Adapun tempat tertentu yang lebih baik untuk berdo’a, dapat dilihat pada hadis yang menyatakan bahwa salat di Masjid Nabawiy pahalanya 1000 kali salat di
masjid lainnya, salat di alMasjid alHaram pahalnya 100.000 kali dansalat dimasjid alAqsa pahalanya 500 kali, mengisyaratkan bahwa ada tempattempat tertentu yang afdal, walaupun tidak dijelaskan secara eksplisit. Do’a yang dilakkan Rasulullah ditempat tertentu, juga menunjukkan bahwa tempat tersebut adalah terbaik untuk berdo’a, misalnya Nabi mendirikan salat di Maqam Ibrahim ketika bertawaf, kemudian di Shafa, ketika bersa’i. Setelah sampai di Muzdalifah beliau berdo’adibukit Quzah, Rasulullah juga berdo’a di dekat Jamrah. (Hadis ini ditahrijkan oleh
alBukhariy dan Muslim, diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah, maaf tidak kami kutip karena hadis tersebut sangat panjang) Hadits tentang Raudah juga mengiyaratkan adanya tempat tetentu yangsangat baik untuk berdo’a, sebagaimana diungkpakan dalamsuatu hadis:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ الْمَازِنيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا
بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّ ةِ* ( أخرجه مسل م)
“Dari Abdillah bin Yaid alMaziniy, bahwa Rasulullah bersabda: “Antar rumahku dan mimbarku adalahsuatu raudah (kebun) dari sebagian kebunkebun di surga”. (ditahrijkan oleh Muslim, I, Kitab alHajj, no. 500/1390: 633) Hadis tersebut memang tidak menetapkan bahwa Raudah adalah tempat yang sangat baik untuk berdo’a, tetapi terdapat isyarat kuat bahwa tempat tersebut mempunyai keistimewaan, sebab jika tidak mempunyaikeistimewaan, niscaya Rasululah saw tidak menjelaskan secara khusus. Dari sinilah jumhur ulama berpendapat bahwa Raudah yang berada di Masjid anNabawiy tersebut merupakan tempat yang sangat baik untuk berdo’a. tetapi tidaklah berarti bahwa berdo’a dilain tempat tidak makbul. Sebab berdo’a dmana saja asal memenuhi persyaratan berdo’a, niscaya dikabulkan Allah SWT

Oleh: subair | Oktober 15, 2010

Aktivitas di bulan Ramadhan 1431H


Patut bersyukur kepada Allah S.W.T. bahwa kita bertemu kembali dengan bulan mulia Ramadhan 1431H. Ada komitmen bahwa amaliah ramadhan tahun ini harus lebih baik dari tahun sebelumnya, namun kenyataan menunjukkan bahwa belum juga termerdekakan dari jeratan kehidupan dunia lantaran tugas-tugas sebagai aparat pemerintah dalam berbagai koordinasi dengan berbagai kalangan di berbagai kota, lebih dari separuh ramadhan tahun ini (1431H) habis di perjalanan, tetapi ada kebanggaan tersendiri karena ibadah puasa dan amaliah ramadhan lainnya tetap terjaga bahkan sempat hatam bacaan Al-Qu’an walaupun itu dilakukan diatas kapal laut, pesawat udara atau di hotel tempat penginapan.

Menjelang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan seharusnya digunakan untuk meningkatkan takarrub Ilallah, i’tikaf di mesjid memohon ampunan Allah dan menunggu kehadiran lailatul qadar, ternyata juga terusik dengan kegiatan lain melayani berbagai permintaan ceramah di berbagai tempat, seperti di Kampus, sekolah dan mesjid-mesjid kecil di kampung. Menjelang Idul Fitri berangkat ke pulau Tomia salah satu diantara pulau-pulau kecil di kawasan laut Banda Indonesia Bagian Timur, disana ada proyek zakat dan infak yang menjadi komitmen bersama masyarakat pada ramadhan tahun lalu (1430H) yaitu membangun sebuah mesjid dan mengefektifkan kembali penyelenggaraan Madrasah Diniyah yang pernah ada di Kelurahan Tongano Barat Kecamatan Tomia Timur Kabupaten Wakatobi.

Ketua Panitia Pembangunan Mesjis As-Shobirin menerima bantuan dari Masyarakat Tomia di Rantau.


Mesjid As-Shobirin sebagai tempat penyelenggaraan shalat lima waktu dan shalat Jum’atan juga berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan madarasah Diniyah Awaliyah dan Diniyah Wusta. Di Madrasah itu anak-anak SD, SMP dan SMA belajar agama pada sore hari setelah pagi hari belajar di sekolah. Kapasitas tampung mesjid As-Shobirin semakin terbatas maka pada Ramadhan tahun lalu (1430H) disepakati untuk membangun mesjid baru pada lokasi yang lebih luas tidak jauh dari mesjid itu, juga disepakati pula bahwa mesjid lama akan tetap berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan lembaga pendidikan agama Islam.

Lembaga pendidikan yang ada didaerah itu semuanya lembaga pendidikan umum (SD, SMP dan SMA) sementara semua penduduknya beragama islam. Itulah sebabnya Madrasah Diniyah yang berdiri sejak tahun 1989 itu tetap dipertahankan bahkan dikembangkan, namun kendalanya adalah tenaga Pembina tetap belum ada, kegiatan belajar mengajar hanya dilakukan oleh remaja mesjid dibantu oleh pengurus mesjid dan terkadang juga ada bantuan dan bimbingan teknis dari Pembina OSIS sekolah.

Oleh: subair | Oktober 1, 2009

REFLEKSI RAMADHAN 1430


Sudah menjadi harapan yang rutin setiap tahun untuk selalu bertemu bulan suci Ramadhan tahun berikutnya. Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah S.W.T. yang telah mengabulkan harapan itu untuk bertemu Ramadhan 1430 H. Antara dua Ramadhan telah dijalani dengan segala suka-duka menju kemuliaan hidup di hari depan dan kemuliaan hidup di akhirat kelak, namun sebagai manusia biasa tentu banyak kekurangan dan kehilafan yang terjadi, itulah sebabnya memasuki Ramadhan tahun ini kita berusaha untuk takarrub kepada Allah megharapkan rahmat, ampunan, dan keselamatan serta pembebasan dari siksa neraka di hari kemudian.

Agenda keluarga pada Ramadhan tahun ini adalah meningkatkan kualitas ibadah wajib yaitu melaksanakan shalat wajib tepat waktu secara berjamaah. Shalat Magrib dilaksanakan secara berjama’ah di rumah sesuai berbuka puasa bersama, shalat Isya dan shalat Subuh dilaksanakan di Mesjid, pelaksanaan shalat Zlohor dan Ashar diberikan kepada masing-masing anggota keluarga untuk melaksanakan secara berjamaah di Mesjid atau di tempat kerja. Sementara ibadah sunnah dan amaliah Ramadhan lainnya dilaksanakan masing-masing anggota keluarga sesuai tuntunan Allah dan Rasul Muhammad S.A.W untuk memperoleh sebanyak-banyaknya pahala yang dijanjikan oleh Allah S.W.T. Semoga Allah mencurahkan rahmat dan karunianya kepada orang-orang bertaqwa.

Sampai hari ke 10 di bulan suci Ramadhan ibadah puasa berjalan lancer sesuai tuntunan dan agenda keluarga, namun ada perbedaan kualitas dari masing-masing anggota keluarga. Memasuki hari-hari berikutnya agenda keluarga mulai terabaikan, ada kegiatan yang harus dilaksanakan yang tidak terantisipasi dalam rencana, yaitu tuntutan kehidupan sosial kemasyarakatan serta tugas dan tanggung jawab sebagai aparat yang harus ditunaikan, keluar daerah dan berpisah dengan keluarga mrngikuti berbagai kegiatan. Dalam hal ini bukan hanya agenda keluarga yang terpengaruh tetapi pola ibadah juga turut terganggu, terkadang berbuka puasa bukan lagi diawal waktu, makan sahur bukan lagi diakhir waktu, shalat wajib Zlohor dan Ashar serta Magrib dan Isya kadang-kadang juga digabung karena alasan musyafir, syukur tidak membatalkan puasa karena alasan itu.

Dari Bandara Betoambari Bau-Bau menuju Makassar

Dari Bandara Betoambari Bau-Bau menuju Makassar

Waktu untuk melaksaakan ibadah sunat dan amaliah Ramadhan lainnya sebagian bergeset untuk menjelesaikan tugas-tugas dan kewajibab yang bersifat keduniaan. Pada 10 hari-hari paruh kedua di bulan suci Ramadhan 1430 H sebagian besar waktu digunakan untuk terbang dari satu kota ke kota lain, menginap di hotel

Rakor & Workshop Manajemen BOS dalam rangka Wajar 9 Tahun di Makassar

Rakor & Workshop Manajemen BOS dalam rangka Wajar 9 Tahun di Makassar

mewah, berderet-deret di kursi meeting menerima materi workshop dan diskusi-diskusi untuk kemaslahatan negeri, makan sahur dan buka puasa di di dinning room mewah, kolaborasi dengan mitra kerja untuk kemajuan negeri, hampir-hampir terlupakan bahwa kita dalam keadaan ibadah puasa. Semoga Allah memberikan ampunan atas segala kesalahan dan kehilafan.

Memasuki 10 hari paruh ketiga di bulan Ramadhan 1430 H agenda keluarga mulai berjalan normal, bershaf-shaf di mesjid sambil meperebutkan shaf terdepan pada shalat wajib, sebagian malam digunakan untuk takarrub Ilallah di mesjid, menbaca kitab suci Al-Qura’an serta berdo’a memohon kesempuranaan rahmat dan ampunan Allah sambil menanti kehadiran malam Lailatul Qadri. Siang hari mempersiapkan agenda membayar zakat dan membagi sedekah. Zakat fitrah dibayarkan melalui Badan Amil Zakat di Mesjid kampung tempat biasa shalat berjama’ah, zakat maal akan disalurkan melalui Badan Amil Zakat di Mesjid tempat kelahiran dan pertama kali belajar agama di kampung seberang. Sedekah dibagikan kepada fakir-miskin yang ada di tetangga dan kerabat di kampung seberang, untuk itu mudik lebaran harus dilaksanakan.

Rakor Badan Akreditasi Sekolah/Madrasah Propinsi Sutra tahun 2009 di Kendari

Rakor Badan Akreditasi Sekolah/Madrasah Propinsi Sutra tahun 2009 di Kendari

Mudik lebaran bukan berarti pulang kampung karena kampug saya disini, bukan berari mudik karena saya warga di tempat ini, pulang kampung atau mudik lebaran saya artikan menengok kampung halaman tempat kelahiran dan tempat dibesarkan sampai akhirnya memutuskan untuk hijrah ke daerah ini. Kegiatan ini adalah bagian dari agenda keluarga pada Ramadhan tahun ini, sayangnya istri dan anak-anak lebih memilih merayakan Idul Fitri di tempat. Mereka terikat dengan ziara ke kuburan orang tua dan mertua yang meninggal dunia di tempat ini, maka mudik menengok kampungpun dilakukan sendirian.

Menjelang tiga hari sebelum hari raya Idul Fitri, ibadah puasa dilakukan diatas kapal yang menuju pulau-pulau kecil di kawasan laut Banda, menyinggahi beberapa pulau di gugusan pulau-pulau kabupaten Wakatobi, untuk silaturahim dengan kerabat dan keluarga di sana, sehari sebelum Idul Fitri, tiba di Pulau Tomia sebuah pulau paling buncit di jazirah tenggara pulau Sulawesi, disana tempat kelahiran dan menimba ilmu, disana ada SD Negeri 2 Usuku dan SMP Negeri 1 Tomia, di kedua sekolah itu tamat dan memperoleh ijazah kemudian melanjutkan pendidikan di rantau, di sana ada amal usaha yang saya didirikan 30 tahun yang lalu. Berdirinya amal usaha itu berkenaan dengan saat-saat rencana Reuni Alumni SMP Negeri 1 Tomia (dulu bernama SMP Negeri Usuku), amal usaha itu bernama TK Bustanul Athfal Al-Hikmah Tongano Barat, di Tomia Timur ada kuburan kakek dan nenek, di sana ada famili dan teman-teman masa kecil, bahagia rasanya berada di antara mereka, mengenang masa lalu yang indah.

Ibadah Zakat Maal diserahkan melalui Badan Amil Zakat di Mesjid As-Shabirin tempat menimba pelajaran agama dimasa kecil, bekas tetangga berdatangan meminta oleh-oleh, alhamdulillah dapat berbagi alakadarnya dengan mereka. Di sebuah desa tempat kelahiran istri, saya didaulat untuk membaca Hutbah Idul Fitri 1430.

Hari Raya Idul Fitri dirayakan bersama keluarga di desa Kulati Tomia Timur. Dalam pesan Hutbah yang saya bacakan menyapaikan kepada jama’ah Idul Fitri untuk meningkatkan taqwa kepada Allah S.W.T, menjadikan Nabi Muhammad S.A.W. sebagai contoh teladan dalam beribadah, beramal dan menjalani kehidupan, meningkatkan kualitas mempelajari agama Islam yang sebanar-benarnya sebagai agama yang dianut oleh seluruh warga masyarakat, menghindari dan mencegah hadirnya ajaran sesat seperti yang dilakukan oleh kaum terorisme dan ajaran yang menyimpang dari ajaran Islam yang sesungguhnya.

Dalam pesan hutbah itu pula disampaikan kepada pemerintah dan masyarakat Wakatobi untuk meperlakukan secara adil seluruh warga Indonesia yang datang di Wakatobi, baik sebagai pedangang, wisatawan, pegawai negeri dan lain-lain dengan memberikan penghargaan yang pantas sesuai kualitas dan sumbangsihnya terhadap kemajuan daerah, menjauhi sifat perimordial dan tindakan nepotisme yang akan mengecewakan sesama rakyat Indonesia. Sebagai daerah wisata yang kedatangan wisatawan dunia ratusan bahkan ribuan orang setiap bulan diharapkan agar pemerintah dan warga masyarakat memperlihatkan dan menampilkan budaya Islam yang santun dan menyejukkan yaitu budaya yang dianut oleh warga masyarakat selama ini agar mereka tertarik mempelajari nilai-nilai Islam sebagai Agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam serta tidak memberi kesempatan kepada mereka yang ingin mengembangkan budaya hedonis dan budaya materialistis yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai kehidupan dan peradaban masyarakat Wakatobi yang sudah terpatri dan tertanam sejak ratusan tahun yang lalu.

Idul Fitri di desa kecil itu berlangsung damai, jama’ah mengikuti shalat Idul Fitri dengan khusyu, mendengarkan hutbah dengan tertib dan tenang. Selamjutnya silaturahim antar warga spontan terlaksana, kunjung-mengunjugi antar keluarga, sajian makanan dan minuman pada hari itu melimpah, Nampak kegembiraan di wajah setiap orang yang dijumpai, semoga saja kegembiraan ini karena kemengan setelah berhasil melaksanakan puasa sebulan penuh. Ziara kubur dilaksanakan oleh sebagian warga masyarakat, semoga saja ziara kubur dimaknai sebaga wahana mengingat mati bahwa sebentar lagi kita akan terbaring bersama merekan di sini, juga dimaknai sebagai wahana amal saleh bagi yang masih hidup untuk mengirim do’a keselamatan kepada almarhum orang tua dan mereka yang berjasa dalam kehidupan.

Hari-hari berikutnya berlangsung kegiatan kemasyarakatan, ada perkawinan, sunatan, dan acara kekeluargaan lainnya. Salah satu acara yang menarik adalah Reuni ke 6 Alumni SMP Negeri 1 Tomia. Oleh alumni yang hadir mengadakan seminar nasional pengembangan profesi guru, sunatan massal, pertandingan olahraga dan acara manga lewu-lewu (makan bersama) salah satu acara seni budaya di daerah ini, berkunjung ke lokasi wisata Tadu Sampalu (sebuah lokasi wisata yang paling keras ombaknya di kawasan Wakatobi) dan lokasi wisata Onemobaa (sebauah lokasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan manca negara yang melakukan diving menykaksikan keindahan bawa laut di kawasan itu). Pada acara puncak kegiatan Reuni itu terkumpul dana sumbangan alumni untuk membangun ruang osis SMP Negeri 1 Tomia sebesar Rp 45.000.000,-

Akhirnya teringat dengan kewajiban sebagai aparat, harus berada di kantor paling lambat 3 hari setelah Idul Fitri. Dengan kapal motor super cepat kembali menemui keluarga di Bau-Bau, delapan jam diperjalanan tiba kembali di rumah dan menemui istri dan anak sementara mejalankan puasa Syawal, mereka berkali-kali khatam bacaan Al-Qur’am, qiyamul lail tak pernah putus selama bulan suci Ramadhan ini. Subhanallah mereka pemenang dalam pergulatan ibadah Ramadhan tahun ini setidaknya dalam ageda Ramadhan keluarga. Dalam diri ada rasa iri dan bangga terhadap mereka, ada pengakuan dalam diri akan adanya kekurangan ibadah pada Ramadhan tahun ini. Semoga dengan ibadah yang dapat dilakukan itu, membawa dampak positif untuk menapaki kehidupan kedepan dan semoga saja panjang umur dan bertemu Ramadhan tahun-tahun berikutnya untuk meraih pahala ibadah sebayak-banyaknya di bulan yang mulia yang penuh rahmat, ampunan dan ridho Allah S.W.T.

Semoga dengan ibadah Ramadhan 1430 H tahun ini kita mencapai derajat Muttaqin. Wallahualam bisshawab.

Wastabiqul chairat.
Subair.

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: