Oleh: subair | Oktober 1, 2009

REFLEKSI RAMADHAN 1430

Sudah menjadi harapan yang rutin setiap tahun untuk selalu bertemu bulan suci Ramadhan tahun berikutnya. Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah S.W.T. yang telah mengabulkan harapan itu untuk bertemu Ramadhan 1430 H. Antara dua Ramadhan telah dijalani dengan segala suka-duka menju kemuliaan hidup di hari depan dan kemuliaan hidup di akhirat kelak, namun sebagai manusia biasa tentu banyak kekurangan dan kehilafan yang terjadi, itulah sebabnya memasuki Ramadhan tahun ini kita berusaha untuk takarrub kepada Allah megharapkan rahmat, ampunan, dan keselamatan serta pembebasan dari siksa neraka di hari kemudian.

Agenda keluarga pada Ramadhan tahun ini adalah meningkatkan kualitas ibadah wajib yaitu melaksanakan shalat wajib tepat waktu secara berjamaah. Shalat Magrib dilaksanakan secara berjama’ah di rumah sesuai berbuka puasa bersama, shalat Isya dan shalat Subuh dilaksanakan di Mesjid, pelaksanaan shalat Zlohor dan Ashar diberikan kepada masing-masing anggota keluarga untuk melaksanakan secara berjamaah di Mesjid atau di tempat kerja. Sementara ibadah sunnah dan amaliah Ramadhan lainnya dilaksanakan masing-masing anggota keluarga sesuai tuntunan Allah dan Rasul Muhammad S.A.W untuk memperoleh sebanyak-banyaknya pahala yang dijanjikan oleh Allah S.W.T. Semoga Allah mencurahkan rahmat dan karunianya kepada orang-orang bertaqwa.

Sampai hari ke 10 di bulan suci Ramadhan ibadah puasa berjalan lancer sesuai tuntunan dan agenda keluarga, namun ada perbedaan kualitas dari masing-masing anggota keluarga. Memasuki hari-hari berikutnya agenda keluarga mulai terabaikan, ada kegiatan yang harus dilaksanakan yang tidak terantisipasi dalam rencana, yaitu tuntutan kehidupan sosial kemasyarakatan serta tugas dan tanggung jawab sebagai aparat yang harus ditunaikan, keluar daerah dan berpisah dengan keluarga mrngikuti berbagai kegiatan. Dalam hal ini bukan hanya agenda keluarga yang terpengaruh tetapi pola ibadah juga turut terganggu, terkadang berbuka puasa bukan lagi diawal waktu, makan sahur bukan lagi diakhir waktu, shalat wajib Zlohor dan Ashar serta Magrib dan Isya kadang-kadang juga digabung karena alasan musyafir, syukur tidak membatalkan puasa karena alasan itu.

Dari Bandara Betoambari Bau-Bau menuju Makassar

Dari Bandara Betoambari Bau-Bau menuju Makassar

Waktu untuk melaksaakan ibadah sunat dan amaliah Ramadhan lainnya sebagian bergeset untuk menjelesaikan tugas-tugas dan kewajibab yang bersifat keduniaan. Pada 10 hari-hari paruh kedua di bulan suci Ramadhan 1430 H sebagian besar waktu digunakan untuk terbang dari satu kota ke kota lain, menginap di hotel

Rakor & Workshop Manajemen BOS dalam rangka Wajar 9 Tahun di Makassar

Rakor & Workshop Manajemen BOS dalam rangka Wajar 9 Tahun di Makassar

mewah, berderet-deret di kursi meeting menerima materi workshop dan diskusi-diskusi untuk kemaslahatan negeri, makan sahur dan buka puasa di di dinning room mewah, kolaborasi dengan mitra kerja untuk kemajuan negeri, hampir-hampir terlupakan bahwa kita dalam keadaan ibadah puasa. Semoga Allah memberikan ampunan atas segala kesalahan dan kehilafan.

Memasuki 10 hari paruh ketiga di bulan Ramadhan 1430 H agenda keluarga mulai berjalan normal, bershaf-shaf di mesjid sambil meperebutkan shaf terdepan pada shalat wajib, sebagian malam digunakan untuk takarrub Ilallah di mesjid, menbaca kitab suci Al-Qura’an serta berdo’a memohon kesempuranaan rahmat dan ampunan Allah sambil menanti kehadiran malam Lailatul Qadri. Siang hari mempersiapkan agenda membayar zakat dan membagi sedekah. Zakat fitrah dibayarkan melalui Badan Amil Zakat di Mesjid kampung tempat biasa shalat berjama’ah, zakat maal akan disalurkan melalui Badan Amil Zakat di Mesjid tempat kelahiran dan pertama kali belajar agama di kampung seberang. Sedekah dibagikan kepada fakir-miskin yang ada di tetangga dan kerabat di kampung seberang, untuk itu mudik lebaran harus dilaksanakan.

Rakor Badan Akreditasi Sekolah/Madrasah Propinsi Sutra tahun 2009 di Kendari

Rakor Badan Akreditasi Sekolah/Madrasah Propinsi Sutra tahun 2009 di Kendari

Mudik lebaran bukan berarti pulang kampung karena kampug saya disini, bukan berari mudik karena saya warga di tempat ini, pulang kampung atau mudik lebaran saya artikan menengok kampung halaman tempat kelahiran dan tempat dibesarkan sampai akhirnya memutuskan untuk hijrah ke daerah ini. Kegiatan ini adalah bagian dari agenda keluarga pada Ramadhan tahun ini, sayangnya istri dan anak-anak lebih memilih merayakan Idul Fitri di tempat. Mereka terikat dengan ziara ke kuburan orang tua dan mertua yang meninggal dunia di tempat ini, maka mudik menengok kampungpun dilakukan sendirian.

Menjelang tiga hari sebelum hari raya Idul Fitri, ibadah puasa dilakukan diatas kapal yang menuju pulau-pulau kecil di kawasan laut Banda, menyinggahi beberapa pulau di gugusan pulau-pulau kabupaten Wakatobi, untuk silaturahim dengan kerabat dan keluarga di sana, sehari sebelum Idul Fitri, tiba di Pulau Tomia sebuah pulau paling buncit di jazirah tenggara pulau Sulawesi, disana tempat kelahiran dan menimba ilmu, disana ada SD Negeri 2 Usuku dan SMP Negeri 1 Tomia, di kedua sekolah itu tamat dan memperoleh ijazah kemudian melanjutkan pendidikan di rantau, di sana ada amal usaha yang saya didirikan 30 tahun yang lalu. Berdirinya amal usaha itu berkenaan dengan saat-saat rencana Reuni Alumni SMP Negeri 1 Tomia (dulu bernama SMP Negeri Usuku), amal usaha itu bernama TK Bustanul Athfal Al-Hikmah Tongano Barat, di Tomia Timur ada kuburan kakek dan nenek, di sana ada famili dan teman-teman masa kecil, bahagia rasanya berada di antara mereka, mengenang masa lalu yang indah.

Ibadah Zakat Maal diserahkan melalui Badan Amil Zakat di Mesjid As-Shabirin tempat menimba pelajaran agama dimasa kecil, bekas tetangga berdatangan meminta oleh-oleh, alhamdulillah dapat berbagi alakadarnya dengan mereka. Di sebuah desa tempat kelahiran istri, saya didaulat untuk membaca Hutbah Idul Fitri 1430.

Hari Raya Idul Fitri dirayakan bersama keluarga di desa Kulati Tomia Timur. Dalam pesan Hutbah yang saya bacakan menyapaikan kepada jama’ah Idul Fitri untuk meningkatkan taqwa kepada Allah S.W.T, menjadikan Nabi Muhammad S.A.W. sebagai contoh teladan dalam beribadah, beramal dan menjalani kehidupan, meningkatkan kualitas mempelajari agama Islam yang sebanar-benarnya sebagai agama yang dianut oleh seluruh warga masyarakat, menghindari dan mencegah hadirnya ajaran sesat seperti yang dilakukan oleh kaum terorisme dan ajaran yang menyimpang dari ajaran Islam yang sesungguhnya.

Dalam pesan hutbah itu pula disampaikan kepada pemerintah dan masyarakat Wakatobi untuk meperlakukan secara adil seluruh warga Indonesia yang datang di Wakatobi, baik sebagai pedangang, wisatawan, pegawai negeri dan lain-lain dengan memberikan penghargaan yang pantas sesuai kualitas dan sumbangsihnya terhadap kemajuan daerah, menjauhi sifat perimordial dan tindakan nepotisme yang akan mengecewakan sesama rakyat Indonesia. Sebagai daerah wisata yang kedatangan wisatawan dunia ratusan bahkan ribuan orang setiap bulan diharapkan agar pemerintah dan warga masyarakat memperlihatkan dan menampilkan budaya Islam yang santun dan menyejukkan yaitu budaya yang dianut oleh warga masyarakat selama ini agar mereka tertarik mempelajari nilai-nilai Islam sebagai Agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam serta tidak memberi kesempatan kepada mereka yang ingin mengembangkan budaya hedonis dan budaya materialistis yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai kehidupan dan peradaban masyarakat Wakatobi yang sudah terpatri dan tertanam sejak ratusan tahun yang lalu.

Idul Fitri di desa kecil itu berlangsung damai, jama’ah mengikuti shalat Idul Fitri dengan khusyu, mendengarkan hutbah dengan tertib dan tenang. Selamjutnya silaturahim antar warga spontan terlaksana, kunjung-mengunjugi antar keluarga, sajian makanan dan minuman pada hari itu melimpah, Nampak kegembiraan di wajah setiap orang yang dijumpai, semoga saja kegembiraan ini karena kemengan setelah berhasil melaksanakan puasa sebulan penuh. Ziara kubur dilaksanakan oleh sebagian warga masyarakat, semoga saja ziara kubur dimaknai sebaga wahana mengingat mati bahwa sebentar lagi kita akan terbaring bersama merekan di sini, juga dimaknai sebagai wahana amal saleh bagi yang masih hidup untuk mengirim do’a keselamatan kepada almarhum orang tua dan mereka yang berjasa dalam kehidupan.

Hari-hari berikutnya berlangsung kegiatan kemasyarakatan, ada perkawinan, sunatan, dan acara kekeluargaan lainnya. Salah satu acara yang menarik adalah Reuni ke 6 Alumni SMP Negeri 1 Tomia. Oleh alumni yang hadir mengadakan seminar nasional pengembangan profesi guru, sunatan massal, pertandingan olahraga dan acara manga lewu-lewu (makan bersama) salah satu acara seni budaya di daerah ini, berkunjung ke lokasi wisata Tadu Sampalu (sebuah lokasi wisata yang paling keras ombaknya di kawasan Wakatobi) dan lokasi wisata Onemobaa (sebauah lokasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan manca negara yang melakukan diving menykaksikan keindahan bawa laut di kawasan itu). Pada acara puncak kegiatan Reuni itu terkumpul dana sumbangan alumni untuk membangun ruang osis SMP Negeri 1 Tomia sebesar Rp 45.000.000,-

Akhirnya teringat dengan kewajiban sebagai aparat, harus berada di kantor paling lambat 3 hari setelah Idul Fitri. Dengan kapal motor super cepat kembali menemui keluarga di Bau-Bau, delapan jam diperjalanan tiba kembali di rumah dan menemui istri dan anak sementara mejalankan puasa Syawal, mereka berkali-kali khatam bacaan Al-Qur’am, qiyamul lail tak pernah putus selama bulan suci Ramadhan ini. Subhanallah mereka pemenang dalam pergulatan ibadah Ramadhan tahun ini setidaknya dalam ageda Ramadhan keluarga. Dalam diri ada rasa iri dan bangga terhadap mereka, ada pengakuan dalam diri akan adanya kekurangan ibadah pada Ramadhan tahun ini. Semoga dengan ibadah yang dapat dilakukan itu, membawa dampak positif untuk menapaki kehidupan kedepan dan semoga saja panjang umur dan bertemu Ramadhan tahun-tahun berikutnya untuk meraih pahala ibadah sebayak-banyaknya di bulan yang mulia yang penuh rahmat, ampunan dan ridho Allah S.W.T.

Semoga dengan ibadah Ramadhan 1430 H tahun ini kita mencapai derajat Muttaqin. Wallahualam bisshawab.

Wastabiqul chairat.
Subair.

Oleh: subair | Agustus 30, 2009

Kegiatan pada Agustus tahun 2009

CIMG0054Hari ini tanggal 31 Agustus 2009 baru sempat berkunjung ke situs ini karena berbagai kesibukan, antara lain Pelatihan Pemanfaatan Dana BOS bagi Tim BOS Tingkat Sekolah dan Sosialisi program BOS langsung ke Masyarakat yang harus selesai sebelum tanggan 15 Agustus 2009. Setelah kesibukan itu usai muncul kesedihan atas meninggalnya Drs. H. Laode Halaka Mananarfa wakil walikota Bau-Bau. Ada kenangan tersendiri dengan beliau yang akan diceritakan pada kesempatan lain.

Seiring dengan itu, juga sibuk melayani mitra kerja bidang pengawasan dan penyidikkan dalam rangka penegakan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan Negara, mereka adalah aparat pemerikasaan dari BPK, BPKP dan Inspektorat dan aparat penyidikan dari kejaksaan dan kepolisian. Namun demikian masih sempat juga melaksanakan tugas kepanitiaan dalam rangka hari ulang tahun kemerdekaan RI ke 64 serta mengikuti upacara penaikan dan penurunan bendera, masih sempat juga menyaksikan pemberitaan media massa dan elektronik yang tayang siang malam tentang teroris, carut-marut pileg dan pilpres, pertikaian di tubuh KPK dan lain-lain.

Agustus yang ke 64 sejak kemerdekaan RI besok akan berlalu, dan tidak akan pernah kembali lagi, banyak kenangan dan harapan yang ditinggalakan, mari kita ambil sisi positif dari kenangan dan harapan itu, kita bawa bersama semangat Proklamasi 17 Agustus 1945 menjemput Agustus-Agustus lain di masa yang akan datang.

Pelatihan dan sosialisasi pemanfaatan dana BOS yang dilakukan serentak di seluruh Indonesia pada tingkat sekolah dan masyarakat. Kalau kegiatan ini dilakukan sesuai panduan dan dilandasi dengan keikhlasan dan rasa tanggung jawab yang tinggi pelatihan dan sosialisasi yang dilaksanakan akan membebaskan lembaga pendidikan (sekolah) dari penjara kecurigaan yang dikesankan oleh masyarakat selama ini. Sekolah akan terbantu dalam upaya mereka memproklamasikan kemerdekaannya sebagai lembaga otonom dan mandiri untuk meraih harapan dan angan-angan seluruh stakeholdesrnya.

Anggara pendidikan mendapatkan perhatian khusus di negeri ini, setidaknya undang-undang sistim pendidikan nasional mengamanatkan minimal anggaran pendidikan besarnya 20% dari APBN juga 20% dari APBD diluar gaji aparaturnya. Tetapi sejak undang-undang itu diberlakukan amanat itu belum juga terpenuhi. Kenapa ….. ?

Di dalam rumah tangga anak adalah buah hati tumpuan harapan masa depan orang tua, pewaris dan penerus keturunan. Di dalam Negara anak adalah calon penerima tongkat estafet perjuangan dan pembangunan bangsa, mereka adalah tumpuan masa depan Negara. Kenapa masih enggan mengeluarkan biaya yang cukup untuk pendidikan mereka? Cuma duapuluh porsen kok … !!!, masih ada delapan puluh persen untuk yang lain … !!!. Seorang awam berandai-andai, ia mengatakan mungkin negara belum punya uang yang cukup? saya katakan tidak ada hubungannya prosentase dengan cukup tidaknya uang, atau mungkin masih ada pembiayaan yang lebih perioritas? saya katakan tidak ada yang lebih perioritas dari pendidikan anak. Atau mungkin yang mengatur anggaran tidak punya anak? Tapi dia punya negara tempat berteduh dimasa tuanya, atau mungkin mereka yang punya uang tidak ikhlas untuk membiayai pendidikan? Hus….sudahlah, jangan teruskan itu bukan wilayah kita, itu wilayah politik di situ kita cuma berpartisipasi memilih pada pemilu (pileg, pilpres dan pilkada) selesai. Kembali laksanakan tugas sebagai pelayan masyarakat.

Sejak Juli 2005 pemerintah meluncurkan dana pendidikan yang dikemas sebagai Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Dana itu dikucurkan langsung ke sekolah melalui lembaga keuangan Negara (Bank dan PT Pos). Untuk kelancaran pengelolaan dana itu ada pendataan, panduan, sosialisasi, monitoring dan pelayanan administrasi lainnya yang dilakukan oleh sebuah tim manajemen ditingkat kabupaten/kota. Pada tingkat pusat dan propinsi juga ada tim manajemen dalam tugas pelayanan yang sesuai kondisinya.

CIMG0024Kurang lebih ada 470 tim manajemen kabupaten/kota yang tersebar di seluruh Indonesia, masing-masing tim beranggotakan kurang dari 10 orang dipimpin oleh seorang manajer, mitra kerja tim itu ialah sekolah, lembanga keuangan penyalur dana BOS dan instansi terkait lainnya.
Dalam pelaksanaan tugasnya tiap-tiap anggota Tim mempertanggung jawabkan tugasnya kepada pimpinan instansi (Kepala Dinas Pendidikan kabupaten/kota). Pelaksanaan tugas dan fungsi Tim Manajemen ini didukung oleh biaya mananajemen yang dinamakan Dana Sefeguarding dari pemerintah pusat. Dana safeguarding itu berkurang dari tahun ke tahun dan mencapai titik Rp 0,- pada tahun 2009 praktis Tim manajemen harus berpartipasi aktif tanpa biaya karena selama ini tidak pernah ada sering pembiayaan dari APBD, bersamaan dengan itu juga dana pendidikan selain dana BOS yang bersumber dari APBD kab/kota yang pernah ada di sekolah, juga turut mencapai titik Rp 0,- pada perubahan anggaran tahun ini. Mungkin hal ini pertanda akan adanya perubahan mendasar dalam manajemen pengelolaan dana pendidikan, kita tunggu saja perubahan itu.

Pembiayaan pendidikan di sekolah terdiri dari : 1) Biaya Investasi, 2) Biaya Operasional, 3) Biaya non Operasional. Yang dimaksud dengan sekolah gratis adalah sekolah yang membebaskan siswanya dari pembiayaan investasi dan pembiayaan operasional, sementara pembiayaan personal masih harus ditanggung oleh orang tua dan masyarakat.

Dana BOS diberikan ke sekolah berdasarkan jumlah siswa, pada tahun 2009 besaran dana BOS persiswa pertahun pada jenjang SD di daerah perkotaan sebesar Rp 400.000,- dan pada jenjang SMP di daerah perkotaan sebesar Rp 575.000,- Tujuan pemberian dana BOS adalah untuk menggratiskan biaya proses interaksi pembelajaran yang terjadi di sekolah untuk mengantar anak pada tingkatan situasi pengetahuan, sikap, tingkah laku dan kecakapan hidup sesuai usiuanya sebagaimana tuntutan kurikulum sekolah. Jadi bukan untuk dibagi kepada siswa untuk dimakan atau diminum oleh mereka.

Siswa usia SD dan usia SMP (usia 7 – 15 tahun) adalah usia emas pembentukan karakter dan kepribadian seorang anak, hal-hal yang terjadi dilingkungannya sangat mudah terekam dalam memorinya dan akan membekas dalam kelanjutan kehidupannya. Sekolah sebagai salah satu lingkungan yang dominan dalam kehidupan anak seharusnya mengambil peran untuk menetralisir pengaruh negative yang diterima oleh anak dari lingkungan lain. Oleh sebab itu sekolah harus ditata sebagai lingkungan kehidupan yang membawa kesejukan dan kedamaian hati, disana adalah cermin kejujuran, disana ada contoh teladan kehidupan, disana ada sopan santun dan kesalehan sosial, dari sana terpancar nilai-nilai budaya yang menyejukkan.

Dengan adanya dana BOS seharunya lingkungan sekolah yang kondusif sebagaimana dambaan di atas dapat terwujud. Wah … jangan terlalu banyak komentar nanti salah, tapi menurut anda kondisi sekolah saat ini bagaimana? Seorang awam menjawab, di daerah saya sekolah cenderung dicurigai oleh masyarakat. Kenapa? Karena ada dana BOS. Hus….!!! tidak usah dilanjutkan, kesimpulannya masih perlu perbaikan manajemen sekolah. Sekolah harus mandiri dan otonom yang mendapatkan kepercayaan dan dukungan partisipasi masyarakat di lingkungannya. Langka kearah itu kita akan mulai awal bulan Agustus 2009 ini.

Alhamdulillah sebelum Agustus 2009 telah dilaksanakan Training Of Trainer (TOT) atau pelatihan pelatih Pemanfaatan dana BOS di tingkat propinsi di Kendari, kegiatan pelatihan ini berakhir pada akhir September 2009 dan semua rangkaian persiapan sampai pada pelaksanaan pelatihan tingkat Kabupaten/Kota dan Sekolah baru tuntas 5 Agustus 2009, sementara kelanjutannya untuk melatih di kabupaten/kota harus selesai sebelum 15 Agustus 2009 ini. Demikian jadwal yang disepakati oleh Tim Manajemen BOS Propinsi Sulawesi Tenggara dengan para pelatih yang akan melaksanakan tugas pelatihan di lapangan.

Sekedar diketahui bahwa sasaran Pelatihan pemanfaatan dana BOS ini adalah semua sekolah penerima dana BOS pada jenjang SD/SDLB dan jenjang SMP/SMPLB dengan rincian peserta masing sekolah adalah Kepala Sekolah, Bendahara BOS Sekolah dan Ketua Komite Sekolah, sementara sasaran sosilalisasi ke masyarakat adalah tokoh masyarakat dari kecamatan, masing-masing kecamatan mengirimkan 15 orang peserta.

Suasana pelatihan dikemas sedemikian rupa sehingga terjadi keakraban antar peserta, kepala sekolah, bendahara dan Ketua Komite duduk satu meja, membuat pertanyaan merumuskan masalah di sekolahnya terkait materi pelatihan yang tengah didiskusikan. Semoga dengan pelatihan ini masing-masing peserta dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik sehingga tercipta keharmonisan dan keakraban yang mendukung penyelenggaraan sekolah yang berkualitas.

Sosialisasi BOS ke masyarakat yang dilakukan dengan benar dan sungguh-sungguh akan menghilangkan kecurigaan terhadap sekolah dan pada gilirannya nanti mereka akan berpartisipasi mendukung kegiatan sekolah dan mencukupi kebutuhan sekolah. Dalam sosialisasi ini diharapkan masyarakat memahami bahwa dana BOS yang ada baru sebahagian kecil dari dana yang dibutuhkan sekolah untuk melengkapi penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas.

Alhamdulillah pelatihan dan sosialisasi selesai dilaksanakan, semoga dengan ini akan terbagun manajemen sekolah yang mandiri dan otonom, mendapatkan dukungan partisipasi masyarakat dan meringankan tugas aparat pengawasan (BPK, BPKP dan Inspektorat) dan aparat penyidikan (Polisi dan KPK) semoga pula para eksekutor hukum (Jaksa dan hakim) akan kehilangan pekerjaan dari pelanggaran dan kesalahan dalam penyelenggaraan pendidikan. Terima kasih.

 Selamat tinggal Agustus 2009, Marhaban Ya Ramadhan.

Subair

Mereka berlomba menemukan sesuatu

Mereka berlomba menemukan sesuatu

Perahu yang membawaku ke pulau Makassar hampir merapat di pantai, kemah peserta festifal sudah berdiri berderet-deret di atas pasir putih merapat ke pimggir tebing di sepanjang pantai utara pulau Makasar, banyak orang berkeliaran dan sebagian di dalam kemah mempersiapkan sesuatu untuk penyambutan para tetamu. Anak-anak bermain di bibir pantai, ada yang berenang sambil berlomba ada pula yang berkejar-kejaran seperti memperebutkan sesuatu, akhirnya buritan perahu kadas dipantai,  saya melompat ke darat mencari tempat yang bagus agar leluasa menyaksikan keindahan alam Pulau Makasar dan sekitarnya.

Aku berdiri diatas sebuah batu besar, dari sana aku menikmati keterpaduan keindahan pantai dengan keramaian pengunjung, dari sana aku melempar pandang menyapu sampai jauh ke tepi langit di hadapam  Pulau Makasar, nampak ketepaduan tiga zona yang indah, zona laut yang luas dan tenang, zona daratan yang hijau keabu-abuan dan zona langit yang cerah berawan tipis, selanjutnya aku menuju bagian atas pulau, disana ada hamparan kebun kelapa, tidak ada jalan setapak, tapi banyak pengunjung berkeliaran, anak-anak setengah baya menjajakan minuman dan penganan ada juga penjual berbagai macam makanan khas daerah, kemudian aku turun kembali ke pantai menemui teman-teman di kemah, disana kami bercerita santai sambil menunggu keadatangan Walikota, aku tak sabar ingin segera melihat situasi pulau itu, akhinya aku pamit meneruskan perjalanan. Dalam perjalanan selalu mengenang pulau tempat aku dilahirkan 53 tahun yang lalu, sebuah pulau di gugusan Wakatobi yang konon terletak di jantung segitiga karang dunia yaitu pulau Tomia, disana aku dibesarkan sampai tamat SMP kemudian hijrah ke Bau-Bau melanjutkan pendidikan dan menetap hingga saat ini.

Sudah puluhan kemah aku lewati dan ratusan orang yang menyapa, kecapean terasa dan aku butuh istrahat lalu memilih tempat yang bisa melihat sebagian besar arena festifal, tempat itu di ujung sebuah jembatan yang berhadapan dengan Lowu-lowu. Disana aku ngelantur tidak karuan, mengenang masa kecilku bersama adik-adik menapaki kehidupan di pulau kecil Tomia yang mirip pulau Makasar ini, mengenang teman-teman di dunia maya yang terbelalak menykasikan foto-foto pembukaan festival ini, guru-guru dan siswa-siswa yang menyapa selama perjalanan ini, sampai pada pertanyaan untuk apa aku datang kesini?,   cuma untuk berhibur diri? atau untuk mewujudkan mimpi masa lalu mengelilingi pulau ini?, tidak cuma itu ada yang lain yang berkaitan dengan tugas  sebagai aparat pendidikan, apa itu? ngelantur dilanjutkan …!!!

Ada sebuah inkonsistensi yang terjadi di negeri ini, yang hangat dibicarakan saat ini adalah meningkatnya jumlah pengangguran, terbatasnya lapangan kerja, dan kemiskinan semakin meluas, di sisi lain juga hangat dibicarakan bahawa negeri ini memliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah tetapi kenapa masih ada kemiskinan?  Dari kenyataan ini pasti ada yang salah, lalu siapa yang salah? dan siapa yang akan dikambing hitamkan? Sistim pendidikan?, Pemimpin?, Pemerintah?, Teroris?, atau masyarakat?, tidak tau. Lalu apa relevansi dan kontribusi Featifal Perairan Pulau Makasar dengan permasalahan ini? Hus …!!! jangan Tanya itu nanti marah yang punya festifal. Lha…. kau juga bertanggung jawab atas suksesnya festival ini, berpikir dong …!!!.

Awan yang menaungi tempat aku beristrahat mulai menggeser, panas matahari terasa menyengat, sebaiknya aku pindah, lalu menuju pangkal jembatan, di sana ada Pos Penjagaan dan beberapa orang yang berteduh. Aku minta tempat dan mereka mempersilahkan, setelah berbincang-bincang beberapa saat diketahui bahwa mereka juga pendatang seperti aku. Aku berbaring dan meneruskan lamunanku …!!!

Pada rangkaian acara kegiatan festifal ini kabarnya ada berbagai macam lomba yang berkaitan dengan kelautan dan perikanan seperti lomba berenang, lomba mengedalikan perahu, lomba menangkap ikan, lomba jesskey, lomba perahu tradisional dan lain-lain, juga ada lomba yang berkaitan dengan budaya lokal, pserta lomba itu atas nama kecamatan dan kelurahan. Dari keterangan tidak resmi saya mendengar bahwa sebagian besar peserta lomba direkrut dari anak sekolah dan guru. Ini menarik untuk dicermati, sebuah kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi lain (Dinas Pariwisata). Kegiatan yang mengandung nilai-nilai pendidikan yang berfungsi sebagai media praktek pembelajaran yang dilakukan di sekolah serta memicu motivasi guru dan siswa untuk belajar langsung di alam terbuka. Mungkin ini salah satu model pelaksanaan Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education) yang sampai saat ini belum mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah.

Aku sadar dari lamunanku, dan ternyata mereka yang disampingku telah pergi tanpa pamit, semoga mereka tidak kecewa karena aku sibuk dengan diriku sendiri, dan kurang serius menanggapi sapaan-sapaan mereka. Akupun beranjak melanjutkan perjalanan mengelilingi Pulau Makasar. Dan diperjalanan lamunan terus berlanjut …. !!!.

Para cerdik pandai di negeri ini pasti mengetahui penyebab terjadinya kebodohan dan kemiskinan yang tengan melanda negeri ini, tentang ini aku tidak terlalu paham, tetapi perjalanan sejarah negeri ini sejak masa penjajahan dan masa kemerdekaan tidak serius menangani pendidikan anak bangsa. Pendidikan yang ditangani setengah hati apalagi dengan niat untuk menguasai dan mempertahankan kekuasaan rasanya itu bukan pendidikan yang mencerdaskan dan memberdayakan tetapi bagi aku itu adalah penipuan, pembodohan dan pemiskinan. Kejadian semacan itu bukan hanya terjadi di negeri ini tetapi juga di negara-negara miskin dan berkembang lainnya, sampai akhirnya timbul kesadaran kolektif untuk mengatasi situasi pendidikan di negara-negara miskin dan berkembang yang dilaksanakan di Jamtie Thailad Tahun 1990 sampai Forum pendidikan dunia di Dakar Snegal tahun 2000 yang melahirkan kesepakatan Dakar dimana Indonesia turut aktif mengambil bagian. Salah satu goal (tujuan) pada deklarasi itu adalah : menjamin bahwa kebutuhan belajar semua manusia muda dan orang dewasa terpenuhi melalui akses yang ada pada program-program belajar dan keterampilan hidup yang sesuai;

Lalu bagaimana pelaksanaan goal (tujuan)  itu di Kota Bau-Bau? Lihat Laporan Pokja Pendidikan Kecakapan Hidup PUS Kota Bau-Bau disini : http://ustombb.blogspot.com/

Juga bagaimana pelaksanaan goal (tujuan)  itu ditingkat nasional? Sepertinya kita masih disibukan dengan pemerataan dan perluasan pendidikan bagi seluruh rakyat yang demikian besar jumlahnya, seiring dengan itu peningkatan mutu dan relevansi pendidikan dilaksanakan seperti memenangkan lomba olimpiade  sains dan teknologi tingkat dunia untuk membuktikan bahawa ternyata orang Indonesia tidak terlahir sebagai orang bodoh, peningkatan kuantitas dan kualitas pendidikan menengah kejuruan dan lain-lain, serta perbaikan manajemen pendidikan yang intinya pada pembangunan moral aparatur yang pernah dirusak oleh hegemoni kekuasaan masa lalu, serta perwujudan keterbukaan dan kejujuran untuk akuntabilitas dan citra publik pengelolaan negeri ini.

Bagaimna dengan pengangguran, terbatasnya lapangan kerja, dan kemiskinan? juga kemampuan mengolah sumberdaya alam yang melipah? Hemat saya pendidikan harus diselenggarakan terkoordinasi dan terintegrasi dengan program lainnya Semoga “Festifal Perairan Pulau Makasar “ termasuk salah satu model untuk mengatasi masalah itu.

Subair                                                                                                                       (Poasa-asa Pohamba-hamb)

Tulisan Sebelumnya »

Kategori