Oleh: subair | Februari 9, 2018

MATAN KEYAKINAN DAN CITA-CITA HIDUP MUHAMMADIYAH


Sebuah perkumpalan, persyarikatan, jam’iyyah, atau organisasi, tak terkecuali persyarikatan Muhammadiyah, didirikan pasti memiliki cita-cita, maksud atau tujuan. Bahkan, kekuatan, kejayaan dan kelangsungan suatu organisasi sangat tergantung pada kemuliaan dan keluhuran cita-cita para pendiri dan penerusnya, kemaslahatan (idealitas) dan kemanfaatan (fungsionalitas) maksud atau tujuan yang diperjuangkan. Cita-cita dan tujuan organisasi itu biasanya dirumuskan dalam core bilief, core value, visi, misi dan tujuan organisasi yang dalam Muhammadiyah disebut MKCH atau MKCHM singkatan dari Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah. Dengan demikian, MKCHM itu meliputi core bilief atau keyakinan inti  organisasi massa (ormas) keagamaan lain, core value atau nilai-nilai inti/dasar menjadi pedoman atau nilai-nilai dasar perjuangan.   Visi atau khittah menjadi blue print arah gerak dan perjuangan.  Misi atau core business atau bidang/tugas utama menjadi medan gerakan dan perjuangan, dan tujuan atau objective yaitu sasaran langsung yang hendak diwujudkan dari gerakan dan perjuangannya.

Tulisan ini mencoba untuk melihat MKCH secara historis dan subtantif.  Di satu sisi, tulisan ini juga mencoba secara kritis menjelaskan Muhammadiyah terkait dengan hakekat dan kiprahnya.  Tulisan ini juga mencoba masuk ke arah yang lebih dalam dengan mengungkap entitas  visi-misi, tujuan dan cita-cita yang diidealkan oleh Muhammadiyah.

  1. Sejarah dan Rumusan MKCH

Menurut Mochlas Abror, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muahmmadiyah, yang kemudian disingkat menjadi MKCH, pada mulanya merupakan putusan dalam Siding Tanwir Muhammadiyah tahun 1969, di Ponorogo Jawa Timur dalam rangka melaksanakan amanat Muktamar Muhammadiyah ke 37 tahun 1968 di Jogyakarta. Kemudian, MKCH dirumuskan kembali dan disempurnakan pada tahun 1970 dalam Sidang Tanwir Muhammadiyah di Jokyakarta.

MKCH hasil Sidang Tanwir Muhammadiyah, tahun 1969, di Ponorogo Jawa Timur terdiri dari 9 (Sembilan ayat), yang kemudian dirumuskan kembali dan disempurnakan pada tahun 1970 dalam Sidang Tanwir Muhammadiyah di Jokyakarta menjadi 5 (lima) ayat.  Pada tahun 1968, Muktamar Muhammadiyah ke 37 di Jokyakarta dengan tema “Tajdid” menggagas pembaharuan dalam lima bidang yaitu: Ideologi, Khittah Perjuangan, Gerak dan Amal Usaha, Organisasi dan Sasaran.

Tajadid dalam bidang ideologi akhirnya menjadi salah satu keputusan Muktamar Muhammadiyah ke 37 di Jokyakarta, yang terkenal dengan istilah: “Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah”.  Pertanyaan-pertanyaan tentang siapa konseptor MKCH, sampai saat ini tidak pernah terjawab dengan pasti, tetapi beberapa nama tokoh Muhammadiyah tercatat sebagai penggagas yang memiliki saham terbesar dalam perumusan MKCH tersebut.  Tokoh-tokoh tersebut antar lain: Buya KH. Malik Ahmad, Buya AR Sutan Mansur, Prof. Dr. HM. Rasyidi, KH. M. Djindar Tamimy, KH. Djarnawi Hadikusumo, KH. AR. Fachruddin, dan Drs. Muhammad Djazman Al-Kindi.

Pada tahun 1970, Pimpinan Pusat Muhammadiyah membentuk “Tim Ideologi” yang dipimpin oleh KH. M. Djindar Tamimy dan Drs. Muhammad Djazman Al-Kindi, yang kemudian memberi saran, tanggapan, penyempurnaan terhadap konsep MKCH hasil Sidang Tanwir tahun 1969 di Ponorogo, Jawa Timur.  Dan hasilnya menjadi rumusan baku MKCH yang terdiri dari 3 (tiga) kelompok rumusan dari 5 (lima) ayat, dari semula 9 (Sembilan) ayat.

Kelompok pertama adalah kelompok Ideologi, yang mengandung pokok-pokok persoalan yang bersifat ideologi (terdiri atas ayat 1 dan 2), yang berisi:

Ayat 1 : Muhammadiyah adalah gerakan berasas Islam, bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, untuk melaksanakan fungsi dan misi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.

Ayat 2 : Muhammadiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada para rasul-Nya, sejak nabi Adam As. Sampai dengan nabi Muhammad SAW. Sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada umat manusia sepanjang masa dan menjamin kesejahteraan hidup materil dan spiritual, dunia dan ukhrawi.

Kelompok kedua adalah kelompok paham agama dalam Muhammadiyah (terdiri atas ayat 3 dan 4), yaitu berisi:

Ayat 3 : Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam berdasarkan : a) Al-Qur’an; b) al-Hadits, dengan menggunakan akal pikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam.

Ayat 4 : Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran yang meliputi bidang-bidang: a) Aqidah, yaitu ajaran yang berhubungan dengan kepercayaan; b) Akhlaq, yaitu ajaran yang berhubungan dengan pembentukan sikap mental; c) Ibadah, yaitu ajaran yang berhubungan dengan peraturan dan tata cara hubungan manusia dengan Tuhan; d) Mua’amalah duniawiyah, yaitu ajaran yang berhubungan dengan pengolahan dunia dan pembinaan masyarakat.

Kelompok ketiga adalah kelompok fungsi dan misi Muhammadiyah (tersebut dalam ayat 5), yang berisi:

Ayat 5 : Muhammadiyah mengajak segala lapisan bangsa Indonesia yang telah mendapat karunia Allah berupa tanah air yang mempunyai sumber-sumber kekayaan, kemerdekaan bangsa dan Negara Republik Indonesia yang berfalsafah Pancasila untuk berusaha bersama-sama menjadikan Negara Republik Indonesia tercinta ini menjadi “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafut” (Negara yang adil makmur dan diridhai Allah SWT).

2. Hakikat Muhammadiyah

Muhammadiyah adalah sebuah fenomena yang multi facet: pespektif teologis, historis, budaya, sosiologis dan bahkan politik.  Secara teologis, Muhammadiyah adalah gerakan Islam dan dakwah amar makruf nahi munkar berakidah Islam dan bersumber pada al-Qur’an dan al-Sunnah al-Maqbulah, bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya masyarakat utama, adil makmur yang diridloi Allah SWT, untuk melaksanakan fungsi dan misi sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.

Dalam perspektif historis, Muhammadiyah adalah gerakan keagamaan yang dalam kesejarahannya selalu berusaha merespon berbagai perkembangan kehidupan dengan senatiasa merujuk pada ajaran Islam (al-ruj’u ila al-Qur’an wa al-Sunnah, menjadikan al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai sumber rujukan).  Di satu sisi, sejarah selalu melahirkan berbagai persoalan, dan pada sisi yang lain Islam menyediakan referensi normative atas berbagai persoalan tersebut.  Orientasi pada dimensi ilahiyah inilah yang mebedakan Muhammadiyah dari gerakan sosio-kultur lainnya, baik dalam merumuskan masalah, menjelaskannya maupun dalam menyusun kerangka operasional penyelesaiannya. Orientasi inilah yang mengharuskan Muhammadiyah meproduksi pemikiran, meninjau ulang dan merekonstruksi pemikiran keislamannya.

Dalam perspektif budaya, Muhamaadiyah adalah sebuah state of mind, yaitu mengembangkan pemikiran keIslaman meliputi segala sesuatu yang berkaitan dengan tuntunan kehidupan keagamaan secara praktis, wacana moralitas publik dan discourse (wacana) keIsalaman dalam merespon dan mengantisipasi perkembangan kehidupan manusia.  Masalah yang selalu hadir dari kandungan sejarah tersebut mengharuskan adanya penyelesaian.  Muhammadiyah berusaha menyelesaikannya melalui proses penafsiran dinamik antara normativitas ad-din (agama) , berupa al-ruj’u ila al-Qur’an wa as-Sunnah (keharusan merujuk kepada al-Qur’an dan as-Sunnah), historisitas (kenyataan sejarah tentang adanya) penafsiran atas ad-din, realitas kekinian dan prediksi masa depan.  Mengingat proses penafsiran dinamik ini sangat dipengaruhi oleh asumsi (pandangan dasar) tentang agama dan kehidupan, di samping pendekatan dan tekhnik pemahaman terhadap ketiga aspek tersebut, maka Muhammadiyah perlu merumuskannya secara spesifik.  Dengan demikian, diharapkan ruhul ijtihad (semangat untuk menggali ajaran agama dari sumber-sumbernya) dan tajdid (upaya pemurnian dan pembaharuan pemikiran keIslaman) terus tumbuh dan berkembang.

Dalam perspektif sosiologis,  Muhammadiyah adalah gerakan sosial yang selalu berusaha menjawab tantangan zaman dengan visi keIslaman dan gerakan sosial yang dikembangkan.  Visi keIslaman Muhammadiyah adalah Islam yang berkemajuan dan kaum muslim gagah dan memiliki  semangat filantropis. Gerakan sosial Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan dan pelayanan sosial adalah sebuah fenomena sosiologi yang paling fenomenal dari gerakan sosial Muhammadiyah.  Di samping itu, komitmen Muhammadiyah pada dakwah amar makruf nahi munkar berimplikasi sangat luas  dalam kehidupan berbangsa dan bernegara termasuk dalam pemberantasan korupsi dan gerakan sosial lainnya.

Dalam perspektif politik, walaupun Muhammadiyah bukan partai politik, Muhammadiyah merupakan kekuatan politik dan pressure group yang signifikan.  Di masa pergerakan kemerdekaan, Muhammadiyah bekerjasama dengan komponen-komponen bangsa pejuang dan gerakan kemerdekaan seperti Boedi Oetomo, Serikat Islam, BPUPKI dan PPKI.  Muhammadiyah bukan hanya menjadi bagian dari bangsa dan Negara Indonesia, melainkan pendiri republik ini.  Kepanduan Muhammadiyah yaitu Hizbul Wathon (pembela tanah air) menjadi komponen penting dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan salah satu putra terbaik Muhammadiyah menjadi jenderal dan panglima TNI yang pertama yaitu Jenderal Besar Soedirman yang sangat legendaries itu.

Pada era kemerdekaan dan masa orde lama, Muhammadiyah menjadi pendiri dan anggota istimewa partai Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia).  Sebagaimana kita ketahui, Bung Karno adalah warga Muhammadiyah, bukan hanya karena beliau mempersunting Fatmawati seorang putri pimpinan Muhammadiyah Kota Bengkulu, tetapi pemikiran keagamaan Bung Karno menggambarkan seorang Muhammadiyah tulen.  Akan tetapi, karena komitmen Muhammadiyah bukan pada orang melainkan idealisme Islam dan bangsa Indonesia, maka Muhammadiyah punya peran penting dalam pembubaran  Partai Komunis Indonesia tahun 1965, yang melahirkan pemerintahan Orde Baru.  Masa akhir pemerintahan Orde Lama tidak mengurangi rasa cinta Muhammadiyah terhadap Bung Karno sebagai kader Muhammadiyah dan putra terbaik bangsa ini.  Bapak proklamator yang sampai sekarang namanya tetap harum bukan hanya di Indonesia tetapi juga seantero bangsa-bangsa Muslim Timur Tengah bahkan seluruh dunia.

Pada era Orde baru,  pemikiran keagamaan Muhammadiyah dijadikan sebagai basis dan model keberagamaan untuk pembangunan bangsa Indonesia dan tokoh-tokoh Muhammadiyah banyak berkiprah dalam pembangunan. Presiden Suharto adalah kader terbaik Muhammadiyah, pernah dididik di lembaga pendidikan Muhammadiyah dan menjadi Bapak Pembangunan pada masanya.

Pada era reformasi, Muhammadiyah berada di garda depan gerakan reformasi yang menjadi tonggak era reformasi dan demokratisasi di Indonesia.  Amin Rais adalah tokoh utama gerakan reformasi yang melahirkan Indonesia Baru yang demokratis dan sedang berjuang melawan korupsi.

3. Cita-cita Muhammadiyah

Cita-cita adalah niat atau kesatuan ketetapan hati,  pkiran dan tindakan.  Dalam sebuah Hadits Mutawatir dikatakan bahwa kekaryaan itu tergantung niat dan hasil karya juga tergantung pada apa yang diniatkan.

Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang memiliki cita-cita ideal, yaitu mewujudkan “masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”.  Dengan cita-cita yang ingin diwujudkan itu Muhammadiyah memiliki arah yang jelas dalam gerakannya.  Cita-cita ideal yang ingin diwujudkan Muhammadiyah  terkandung dalam rumusan maksud dan tujuan Muhammadiyah, yakni menegakkan dan menjunjung tinggi  agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” (Bab III pasal 6).  Sering muncul pertanyaan seputar makna atau kandungan  isi dari maksud dan tujuan Muhmmadiyah tersebut.  Apakah yang dimaksud dengan kalimat “menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam” itu?  Apa pula, dan ini lebih sering dipertanyakan, yang dimaksud dengan “masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” itu?  Dua pertanyaan yang elementer, tetapi memang sangat penting  untuk diketahui dan dipahami khususnya oleh anggota Muhammadiyah.  Guna menjawab pertanyaan tersebut, pertama-tama perlu diketahui konteks lahirnya perumusan  maksud dan tujuan Muhammadiyah tersebut,  yang kedua substansi atau isinya dengan merujuk pada pemikiran-pemikiran yang Selama ini berkembang dalam Muhammasiyah.

Jika dilacak pada rumusan Anggaran Dasar  (statuten) Muhammadiyah sejak berdiri tahun 1912 hingga muktamar ke 45 tahun 2005, Muhammadiyah telah menyusun dan melakukan perubahan Anggaran Dasar (AD) sebanyak 15 (lima belas) kali yaitu pada berturut-turut pada tahun 1912, 1914, 1934, 1941, 1943, 1950 (dua kali), 1959, 1966, 1968, 2000, dan 2005.  Adapun untuk Aggaran Rumah Tangga (ART) sebanyak 8 (delapan) kali dimulai dari berturut-turut tahun 1922, 1933, 1952, 1961, 1967, 1969, 1987, 2000, dan 2005.  Dari kandungan isi AD/ART Muhammadiyah tersebut ditemukan data bahwa rumusan tujuan mewujudkan/terwujudnya “masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” ditetapkan pada AD tahun 1946, sedangkan sejak berdirinya sampai awal tahun kemerdekaan Indonesia tersebut tidak ditemukan rumusan tujuan sebagaimana dimaksud.

Dari data yang dihimpun Mh. Djaldan (1998), ditemukan pula bahwa rumusan maksud dan tujuan Muhammadiyah sebagaimana yang dimaksud mengalami perubahan redaksional yang sedikit berbeda yakni, tahun 1946 dan 1959, serta perubahan isi pada tahun 1985. Pada AD tahun 1946 tertera kalimat “Maksud dan tujuan persyarikatan ini akan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam, sehingga dapat mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”.  Sementara pada AD tahun 1959 berbunyi “Maksud dan tujuan persyarikatan ialah menegakkan dan menjujung tinggi agama Islam, sehingga dapat terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”

Pada tahun 1985, maksud dan tujuan Muhammadiyah mengalami perubahan isi menjadi “Maksud dan tujuan persyarikatan ialah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil, makmur yang diridlai Allah Subhanahu wata’ala”.   Penggantian tahun 1985, terjadi karena pemaksaan rezim Suharto di era Orde Baru yang melalui undang-undang tahun 1985 yang mengharuskan seluruh organisasi  politik dan kemasyarakatan untuk berasas (tunggal) Pancasila, sehingga Muhammadiyah diharuskan selain mengganti asas Islam yang telah dirumuskan sejak tahun 1959 menjadi asas Pancasila, sekaligus mengubah rumusan tujuannya melalui proses yang sangat alot hingga menunda muktamarnya selama dua tahun.

Dalam statute (Anggaran Dasar) tahun pertama, rumusan maksud/tujuan Muhammadiyah belum mengarah ke format masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, kendati spritnya boleh jadi sama.  Pada statute 1912 artikel (pasal?) kedua dinyatakan sebagai berikut: “maka perhimpunan itu maksudnya: a. Menyebarluaskan pengajaran agama Kanjen Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam kepada penduduk Bumiputra di dalam residensi Yokyakarta, dan b. Memajukan hal agama kepada anggota-anggotanya”.

4. Visi-Misi, dan Tujuan Muhammadiyah

Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan watak tajdid yang dimilikinya senantiasa istiqomah dan aktif dalam melaksanakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar di semua bidang dalam upaya mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil’ alamin menuju terciptanya/terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Di satu sisi, Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar memiliki misi:

  1. Menegakkan keyakinan tauhid yang murni sesuai dengan ajaran Allah SWT yang dibawa oleh para Rasul sejak Nabi Adam a.s. hingga Nabi Muhammad SAW.
  2. Memahami agama dengan menggunakan akal fikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan.
  3. Menyebarluaskan ajaran Islam yang bersumber pada al-Qur’an sebagai kitab Allah terakhir dan Sunnah Rasul untuk pedoman hidup umat manusia.
  4. Mewujudkan amalan-amalan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.

Secara umum, tujuan dan arah gerakan Muhammadiyah adalah sebagai berikut:

  1. Mempergiat dan memperdalam penyelidikan agama Islam untuk mendapatkan kemurniannya dan kebenarannya.
  2. Memperteguh iman, menggembirakan dan memperkuat ibadah serta mempertinggi akhlak.
  3. Memajukan dan inovasi dalam bidang pendidikan serta memperluas ilmu pengetahuan, teknologi dan penelitian.
  4. Mempergiat dan menggembirakan tabligh.
  5. Menggembirakan dan membimbing masyarakat untuk membangun dan memelihara tempat ibadah dan wakaf.
  6. Meningkatkan harkat dan martabat kaum perempuan menurut tuntunan agama Islam.
  7. Membina dan menggerakan angkatan muda sehingga menjadi kader Muhammadiyah, kader agama dan kader bangsa.
  8. Membimbing masayarakat kearah perbaikan kehidupan dan penghidupan ekonomi sesuai dengan ajaran Islam.
  9. Menggerakkan dan menghidup-suburkan amal tolong-menolong dalam kebajikan, kesehatan, sosial dan pengembangan masyarakat.
  10. Memberikan pelayanan informasi kepada masyarakat tentang kiprah Muhammadiyah.
  11. Mendokumentasikan kegiatan amal usaha Muhammadiyah serta mengembangkan pustaka di lingkungan sekolah/amal usaha dan keluarga Muhammadiyah.
  12. Merespon perkembangan sosial politik yang berkembang di tengah masyarakat.

Sementara itu, secara rinci, tujuan dan arah perjuangan Muhammadiyah meliputi bidang akidah, ibadah, akhlak dan muamalah duniawiyah sebagai berikut:

a. Akidah

Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya akidah Islam yang murni, bersih dari gejalah-gejalah kemusyrikan, bid’ah dan khurafat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi menurut ajaran Islam.

Fungsi aqidah dalam persoalan Keyakinan dan Cita-cita Hidup adalah sebagai sumber yang menentukan bentuk keyakinan dan cita-cita hidup itu sendiri.   Berdasarkan Islam, artinya ialah Islam sebagai sumber ajaran yang menentukan keyakinan dan cita-cita hidupnya.  Ajaran Islam, yang inti ajarannya berupa kepercayaan tauhid, membentuk keyakinan dan cita-cita hidup.  Hidup manusia di dunia ini semata-mata hanyalah untuk beribadah kepada Allah SWT, demi kebahagiaan dunia dan akherat.  Hidup beribadah menurut ajaran Islam ialah hidup bertaqarrub kepada Allah SWT, dengan menunaikan amanah-Nya serta mematuhi ketentuan-ketentuan yang menjadi peraturan-Nya guna mendapatkan keridhaan-Nya.  Amanah Allah yang menentukan fungsi dan misi manusia dalam hidupnya di dunia ialah manusia sebagai hamba Allah dan khalifah (pengganti)-Nya yang bertugas mengatur dan membangun dunia serta menciptakan dan memelihara keamanan dan ketertibannya untuk memakmurkannya.

Fungsi dan cita-cita/tujuan dalam persoalan Keyakinan dan Cita-cita Hidup ialah sebagai kelanjutan/konsekuensi dari aqidah.  Hidup yang beraqidah Islam tidak bisa lain kecuali menimbulkan kesadaran pendirian, bahwa cita-cita.tujuan yang akan dicapai dalam kehidupan dunia ialah terwujudnya tata kehidupan masyarakat yang baik, guna mewujudkan kemakmuran dunia dalam rangka ibadahnya kepada Allah SWT.  Dalam hubungan ini, Muhammadiyah telah menegaskan cita-cita/tujuan perjuangannya dengan “…… sehingga terwujudnya masyarakat utama, adil dan makmur, yang diridhai Allah SWT”. (AD PS.3).  Bagaimana bentuk/wujud masyarakat utama yang adil dan makmur, yang diridhai Allah SWT yang dimaksud itu harus dirumuskan dalam satu konsepsi yang jelas, gamblang dan menyeluruh.

Berdasarkan keyakinan dan cita-cita hidup yang beraqidah Islam dan dikuatkan oleh hasil penyelidikan secara ilmiah, historis dan sosiologis, Muhammadiyah berkeyakinan bahwa ajaran yang dapat dipakai untuk melaksanakan hidup yang sesuai dengan “aqidahnya” dalam mencapai “cita-cita/tujuan” hidup dan pejuangannya sebagaimana dimaksud hanyalah ajaran Islam.  Untuk itu, sangat diperlukan adanya rumusan secara kongkrit, sistimatis dan menyeluruh tentang konsepsi ajaran Islam yang meliputi seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia/masyarakat, sebagai isi dari masyarakat Islam yang sebnar-benarnya.

Keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah yang persoalan-persoalan pokoknya telah diuraikan dengan singkat di atas dibentuk/ditentukan oleh pengertian dan pahamnya mengenai agama Islam.  Agama Islam adalah sumber keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah.  Maka dari itu, paham agama bagi Muhammadiyah merupakan persoalan yang esensial bagi adanya keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah.

b. Ibadah

Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya ibadah yang dituntunkan  oleh Rasulullah SAW, tanpa tambahan dan perubahan dari manusia.  Ibadah ddikelompokkan menjadi ibadah ‘am dan ibadah khas.  Ibadah ‘am adalah segala perbuatan manusia yang diniatkan sebagai pengabdian kepada Allah, dilaksanakan dengan benar dan berkualitas serta diorientasikan untuk mendapat keridloan Allah SWT.  Sementara itu ibadah khas  adalah ibadah ritual yang telah ditetapkan tata caranya oleh Allah sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW seperti shalat, puasa dan haji.

Dalam urusan ibadah ini Muhammadiyah memiliki prinsip: dalam ibadah ‘am pada dasarnya semua diperbolehkan kecuali ada dalil yang melarangnya, sedangkan dalam ibadah khas, semuanya dilarang kecuali ada dalil yang memerintahkannya.  Dengan prinsip ini, Muhammadiyah memanggil dan mengajak umat Islam untuk mengembangkan kreatifitas dalam hidup ini dan memecahkan berbagai persoalan hidup berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dari siapa pun dan dari mana pun.  Rasulullah sendiri memberikan keleluasaan kepada umat Islam dalam menuntut ilmu walau sampai ke negeri China, dan dalam urusan dunia Rasulullah mengatakan:”Kamu lebih mengetahui urusan duniamu”.  Hanya saja dalam ibadah ‘am ini harus ditaati rambu-rambu atau koridor hokum, etika dan moral dan semuanya harus dilandasi keimanan dan ketaqwaan kepada Allah.

Dalam ibadah mahdhoh, Muhammadiyah mengajak umat Islam untuk bersikap hati-hati agar dalam beribadah sesuai dengan yang diperintahkan Allah SWT dalam al-Qur’an dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam as-Sunnah al-makbulah.  Dalam ibadah mahdhoh, tidak ada kreatifitas, karena kreatifitas dalam ibadah mahdhoh bernilai bid’ah.  Perilaku bid’ah akan menyibukkan umat Islam dalam urusan ibadah mahdhoh dan akan melalaikan dan atau membuat terlena untuk mengurus dunia.  Muhammadiyah berperinsip bahwa umat Islam harus menjadi umat yang taat hanya kepada Allah dan Rasul, tetapi juga berjaya dalam mengurus dunia.

c. Akhlak

Islam adalah agama untuk penyerahan diri semata-mata kerena Allah, agama semua Nabi; agama yang sesuai dengan fitrah manusia; agama yang menjadi petunjuk bagi manusia; agama yang mengatur hubungan dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesama; dan agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam.  Islam satu-satunya agama yang diridhai  Allah dan agama yang sempurna. Dengan beragama Islam setiap muslim memiliki dasar/landasan hidup tauhid kepada Allah, fungsi/peran dalam kehidupan berupa ibadah, menjalankan kekhalifahan, dan bertujuan untuk meraih ridha serta karunia Allah SWT.  Islam yang mulia dan utama itu akan menjadi kenyataan dalam kehidupan di dunia apabila benar-benar diimani, dipahami, dihayati dan diamalkan oleh seluruh pemeluknya (orang Islam, umat Islam) secara total dan kaffah dan penuh ketundukkan atau penyerahan diri.  Dengan pengamalan Islam yang sepenuh hati dan sungguh-sungguh itu, terbentuklah manusia Muslim yang memiliki sifat-sifat utama: keperibadian Muslim, keperibadian mukmin, keperibadian muhsin dalam arti berakhlak mulia, dan keperibadian muttaqin.

d. Muamalah duniawi

Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya mu’amalat duniawiyah (pengolahan dunia dan pembinaan masyarakat) dengan berdasrkan ajaran agama serta menjadi semua kegiatan dalam bidang ini sebagai ibadah kepada Allah SWT.  Muhammadiyah mengajak segenap lapisan bangsa Indonesia yang telah mendapat karunia Allah berupa tanah air yang mempunyai sumber-sumber kekayaan, kemerdekaan bangsa dan Negara Republik Indonesia yang berdasar pada Pancasila dan undang-undang dasar 1945, untuk berusaha bersama-sama menjadikan suatu Negara yang adil dan makmur dan diridhai AllahSWT “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”

                                                Sumber :

AIK III; Kemuhammadiyahan. Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun 2016.

Iklan
Oleh: subair | Februari 4, 2018

MUHAMMADIYAH SANG PENCERAH


Muhammadiyah sebagai organisasi masyarakat (ormas) keagamaan sudah diketahui keberadaannya oleh hamper seluruh Bangsa Indonesia, bahkan juga sangat popular di manca Negara.  Namun demikian, tidak banyak orang yang mengetahui secara lebih mendalam dan komprehensif, apalagi hakekatnya.  Pengetahuan tentang Muhammadiyah biasanya lebih karena amal usahanya terutama di bidang pendidikan, kesehatan dan panti asuhan dan melalui amal ritual yang dikembangkan dengan cara perbandingannya dengan ormas Islam lain, terutama Nahdlatul Ulama (NU).  Muhammadiyah selama ini dikenal sebagai ormas Islam modernis, tetapi ada juga yang menganggap Muhammadiyah itu salafi (puritan) dan bahkan wahabi.

Atas dasar itulah diperlukan penjelasan yang tepat, mudah dipahami tentang hakekat Muhammadiyah agar yang selama ini jauh menjadi dekat dan bahkan melekat di hatinya, dan agar yang belum kenal menjadi kenal dan kemudian mencintai dan bahkan membelanya.

  1. Pengertian Muhammadiyah

Secara harfiah (etimologi), kata “Muhammadiyah” dibentuk dari isim alam (nama) nabi “Muhammad” ditambaha dengan akhiran “yak nisbah” menjadi Muhammadiyyah dan kemudian disederhanakan menjadi Muhammadiyah yang berarti pengikut nabi Muhammad SAW yang setia, mencintai, mengidolakan, mengamalkan dan memperjuangkan misi dan ajran-ajarannya (Islam) sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an dan al-Hadits dan jejak-jejak perjuangannya dalam berdakwah dan juga dalam mebangun peradaban.

Pengambilan nama Muhammadiyah sebagai nama gerakan Islam ini berdasarkan al-Qur’an surat Ali Imran (3) ayat 31 yang artinya: “Katakanlah: ’Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’Allah maha pengampun lagi maha penyayang”.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa umat Islam harus mengikuti nabi Muhammad?  Karena ia adalah Nabi dan Rasul-Nya, yang dikehendaki dan paling dekat dengan Allah, menerima wahyu dari Allah dan pernah menghadap langsung kepada Allah tatkala Isra’ Mi’raj (lihat QS. Al-Isra’(17): 1) dan karenanya nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya orang paling tahu dan paling layak, paling menghayati dan paling berat tanggung jawabnya dalam membawakan dan mensyiarkan Islam.

Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul sebagaimana ditegaskan oleh Allah sendiri dalam surat an-Najm ayat 3-4 terjaga dari kesalahan (ma’sum) karena apa yang diucapkan oleh nabi Muhammad tidak berdasarkan hawa nafsu melainkan wahyu juga: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (QS. An-Najm 3-4)

Nabi Muhammad sebagaimana ditegaskan oleh Allah sendiri adalah contoh suri tauladan yang baik: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan banyak menyebut Allah” (QS. Al-Ahzab: 21). Di dalam sebuah hadists juga diriwayatkan, suatu ketika sahabat bertanya Aisyah, “kaifa akhlaquhu?” (bagaimana akhlak Nabi itu? Aisyah menjawab dengan singkat: “akhlaquhu al-Qur’an” (akhlaknya adalah al-Qur’an).

Dari uraian tersebut jelaslah bahwa ber-Islam yang benar itu adalah dengan meniru, mengikuti, mencontoh dan meneladani nabi Muhammad dengan penuh keimanan, kecintaan, kearfan, dan kebijaksanaan.  Dengan demikian, nama “Muhammadiyah” sebagai gerakan Islam adalah nama yang tepat dan indah, karena namanya sesuai dengan sifat dan tujuannya. Sebagimana nama “Islam”  adalah nama yang tepat dan indah  sebagai nama agama karena sesuai dengan sifat dan tujuannya yaitu pasrah, selamat, damai dan sejahtera.

2. Muhammadiyah, Para Sahabat Nabi dan al-Hawariyyun

 a. Muhammadiyah dan khulafa’ur Raasyidun

Walaupun Muhammadiyah itu didirikan sekitar 14 abad setelah nabi Muhammad wafat (yaitu tahun 13 H.), namun warga Muhammadiyah itu sangat mendambakan kedekatan kepada Nabi sebagaimana dekatnya para Sahabat Nabi sendiri. Warga Muhammadiyah ingin menjadi seperti Abu Bakar RA (Radliyallahu ‘anhu) Umar al-Faruk RA, Usman bin Affan RA, dan Ali bin Abi Thalib RA, serta sahabat-sahabat nabi lainnya.  Para sahabat Nabi inilahyang disebut sebagai “khulafaurrasyidiun” yang berarti para pengganti Nabi yang mendapat petunjuk atau juga berarti para khalifah yang arif dan bijaksana.

b. Muhammadiyah dan Salafus Shalih

Muhammadiyah juga mendambakan warganya hidup sebagaimana layaknya “salafus shalih”, yaitu para pendahulu Islam yang telah teruji kesalehannya baik pada zaman Sahabat, Tabi’in dan Tabi’it Tabiin, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenagan yang besar” (QS. At-Taubah: 100).

Dari ayat tersebut, yang dimaksud salafusshalih adalah orang yang hidup pada zaman Nabi, Sahabat dan Tabi’in yang memiliki keimana dan ketakwaan sebagaimana kaum muhajirin dan anshar.  Sebagaimana diketahui kaum muhajirin adalah sahabat nabi yang rela berhijrah meninggalkan negerinya Mekkah untuk membela Nabi atas dasar keimanan dan ketakwaannya. Perjalanan hijrah itu sangat berat dan penuh resiko, yang tidak mungkin dijalankan tanpa landasan keimanan dan ketakwaan kepada Allah dan RasulNya.

Sebagaimana kaum muhajirin, kaum anshar juga tidak kalah keimana dan ketkwaannya. Mereka memberikan pertolongan kepada Nabi dan kaum Muhajitin melebihi apa yang diberikan bagi diri mereka sendiri dan keluarganya.  Hal ini dapat dilakukan atas dasar keimanan dan ketakwaan serta kecintaan mereka kepada Rasul dan saudaranya seiman.  Begitulah cita ideal yang ingin diejawantakan oleh warga Muhammadiyah: mendambakan memiliki keimanan dan ketakwaan serta etos perjuangan sebagaimana kaum muhajirin dan kemuliaan akhlak sebagaimana kaum anshar.

c. Muhammadiyah dan Ibadurrahman

Muhammadiyah juga mendambakan warganya memiliki karakter “ibadurrahman” yaitu seorang hamba yang sangat mencintai Allah yang Maha Pengasih sehingga terbentuk akhlak mulia sebagaimana akhlak Allah.  Rasul bersabda: “berakhlaklah kamu dengan akhlak Allah” (lihat dalam Bihar al-Anwar, jilid 61: 129).  Berakhlak dengan akhlak Allah yang Maha Mulia merupakan bentuk yang direkomendasikan bagi warga Muhammadiyah, sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an surat al-Furqan ayat 63-77 sebagai berikut: “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendahhati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahanam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”. Sesungguhnya jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain berserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). (Yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang. Dan orang-orang yamg bertaubat dan mengerjakan amal saleh.  Maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.  Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.  Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka. Mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.  Dan orang-orang yang berkata “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.  Mereka itulah orang-orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.  Mereka kekal di dalamnya.  Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.  Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadahmu.  (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)” (lihat QS. Al-Furqan: 63-77).

Karakter ibadirahman dapat terbentuk karena kedekatan dan kecintaan kepada Allah dan RasulNya yang dilakukan oleh warga Muhammadiyah dengan cara mengikuti dan meneladani Rasulullah SAW lewat al-Qur’an dan Sunnah (Hadits) dan jejak-jejak perjuangan Nabi secara cerdas, tulus dan konsekuen.

d. Muhammadiyah dan Hawariyyun

Warga Muhammadiyah juga mendambakan dirinya seperti al-Hawariyyun. Al-Hawariyyun berarti dahabat yang setia.  Gelar ini disandang oleh para sahabat yang memiliki keimanan, kecintaan, kesetiaan yang tinggi kepada Nabi yang diikutinya.  Istilah al-Hawariyyun popular digunakan untuk menyebut sahabat-sahabat nabi Isa AS (‘Alaihis Salam) dari kalangan bani Israil, yang mengikuti dakwah beliau dan melanjutkan penyebaran ajaran tuahid setelah nabi Isa AS sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa Ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia (al-Hawariyyun): ‘siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata:“kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir: Maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang” (QS. As-Shaf: 14).

Al-Hawariyyun adalah orang-orang yang berani “pasang badan” demi membela kebenaran, dalam beramar makruf dan nahi munkar, terutama dalam menjaga kesucian akidah tauhid dari anasir-anasir kemusyrikan.  Tentang al-Hawariyyun ini digambarkan dalam surat al-Imran ayat 52-54: “Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia:  “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?”  Para Hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah ponolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami kedalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah).”Orang-orang kafir iitu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu.  Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya” (QS. Al-Imran: 52-54)

 2. Muhammadiyah Sebagai State of Mind

Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa Muhammadiyah itu bukan aliran baru, mazhab baru, sekte baru atau agama baru. Muhammadiyah adalah “State of Mind” yaitu kerangka berpikir atau pola pemikiran kepada Islam yang benar. Muhammadiyah adalah sebuah upaya, sebuah pergumulan atau perjuangan yang tiada henti untuk ber-Islam yang benar.  Artinya setiap upaya menuju pemahaman dan pegamalan Islam yang benar adalah Muhammadiyah atau paling tidak sejalan dengan Muhammadiyah.  Ber-Islam atau menjadi Islam adalah sebuah proses dinamis atau sebuah pergumulan dan bahkan perjuangan yang tidak mengenal henti.  Itulah sebabnya salah satu jargon Muhammadiyah  adalah “Islam Berkemajuan”.  Islam berkemajuan bukan hanya ada pada tataran konseptual, melainkan juga implementasi dan aktualisasinya dalam semua aspek kehidupan.

Pola pemikiran Muhammadiyah ini sejalan dengan pendapat Imam Syafi’i tentang kebenaran.  Imam Syafi’I berkata: “Jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku kedinding.  Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku” (lihat Majmu’ al-Fatawa,20: 211).  Pemikiran Imam Syafi’I ini menggambarkan seorang yang tawadlu’ dan pencari dan pencinta kebenaran sejati.  Imam Syafi’I tidak mengklaim pendapatnya sebagai yang benar (truth claim) atau memborong kebenaran.  Imam Syafi’I meberikan ruang yang luas kepada siapa saja untuk benar atau sama-sama berpeluang  yang sama untuk benar atau salah. Tetapi terhadap al-Qur’an  dan Hadits Shahih, sikap Imam Syafi’I sangat jelas yaitu mengutamakan kedunya.

3. Hakikat Muhammadiyah

Untuk mendapatkan sebuah hakikat antara lain dilakukan dengan berpikir atau memikirkan sesuatu secara mendalam dan menyeluruh.  Berpikir secara mendalam adalah memikirkan sesuatu sampai kepada akar atau inti (core) permasalahan yang menyebabkan adanya atau eksistensi sesuatu itu.  Untuk menemukan core dari hakikat sesuatu, tidak berhenti pada fenomena, yaitu apa yang tampak atau apa yang terlihat (seen), tetapi justru memfokuskan pada noumena yaitu sesuatu yang tidak tampak (unseen) tetapi menjadi sebab dari yang tampak itu.  Berpikir secara menyeluruh berarti berpikir melalui berbagai sudut pandang (perspektif) dan berbagai pangkal tolak (starting point).

Sebagai sebuah realitas soaial, fenomena yang tampak dari Muhammadiyah adalah adanya organisasi Muhammadiyah dan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan dalam bidang keagamaan dan social kemasyarakatan, termasuk amal usahanya seperti lembaga pendidikan, kesehatan dan panti asuhan.  Masyarakat awam biasanya memahami Muhammadiyah dari apa yang tampak, dan supaya lebih jelas biasanya dengan membandingkan dengan organisasi keagamaan lainnya.  Misalnya, kalau Muhammadiyah begini dan kalau NU begitu, bahkan ada yang menyamakan Muhammadiyah dengan Protestan.  Menemukan hakikat Muhammadiyah dengan cara membandingkan dengan yang lain tidak dapat disalahkan, tetapi juga tidak akan dapat menemukan kebenaran.

Hakekat Muhammadiyah adalah gearakan pemurnian (harakah ushuliyah), gerakan pembaruan (harakah tajdid), gerakan dakwah (harakah ad-da’wah) dan gerakan social kebudayaan (harakah mujtamaiyyah wa tsakaqafah). Hakekat Muhammadiyah dapat digambarkan sebagai berikut:

a. Muhammadiyah sebagai Gerakan Pemurnian (harakah ushuliyah)

Muhammadiyah sebagai gerakan pemurnian (harakah ushuliyah) maksudnya adalah memurnikan keyakinan tauhid Islam dari kemusyrikan, tahayyul (animism-dinamisme) dan khurafat (mistisisme). Syirik (menyekutukan Allah) dengan mahluk-Nya bukan hanya batal secara teologis, tetapi juga fatal secara intelektual.  Orang yang menyekutukan Allah, menganggap Allah berbilang, beranak dan lain sebagainya adalah kezaliman teologis dan intelektual yang paling nyata. Mana mungkin Tuhan Yang Maha Kuasa itu masih memerlukan yang lain?  Tinjukkanlah bila ada dalil kitab suci yang masih autentik atau dalil ilmiah yang mengatakan Tuhan itu berserikat?  Atas dasar itu Muhammadiyah berusaha dengan sungguh-sungguh menjaga dan mengawal kemurnian tauhid dari syirik sebagai misi utama diturunkannya para Rasul di muka bumi, sebagaimana termaktub dalam surat al-Ikhlas: “Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak sesuatupun yang setara dengan Dia” (QS. Al-Ikhlas: 1-4).

Muhammadiyah juga menjaga tauhid dari keyakinan animism yaitu kepercayaan terhadap kekuatan roh nenk moyang atau roh orang yang telah meninggala dunia yang dipercayai bisa memberikan keberuntungan atau kesialan; dan dinamisme yang meyakini benda-benda tertentu seperti keris, akik dan benda keramat lainnya memiliki kekuatan gaib.

Muhammadiyah juga menolak tahyul, yaitu mitos-mitos tentang sesuatu sebagai memiliki keuatan penentu, misalnya mitos Nyai Roro Kidul sebagai ratu atau penguasa pantai selatan pulau Jawa, mitos wedhus gembel lahar panas Gunung Merapi, mitos nogo dino (hitungan hari) dan lain sebagainya.

Syirik, tahyul dan khurafat bukan hanya akan merusak ketauhidan, atau menodai kesucian Tuhan dari sebagai satu-satunya pencipta dan penguasa  bagi mahluk-mahluknya, tetapi yang lebih berbahaya adalah dapat merusak keperibadian dan menjatuhakan harkat serta martabat manusia itu sendiri. Manusia adalah sebaik-baik mahluk ciptaan Allah pantas dan patut tunduk dan patuh kepada-Nya, bukan kepada mahluk Allah lainnya yang harkat dan martabatnya lebih rendah bahkan dikutuk oleh Allah seperti iblis.

Membersihakan akidah dari kemusyrikan, tahyul dan khurafat adalah sebuah keharusan untuk membangun masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang rasional, ilmiah, modern dan dapat bekerja keras di satu sisi, dan masyarakat yang memiliki spritualitas yang tinggi kepada Tuhan dan cinta kasih kepada sesame manusia di sisi lain.  Sebagai ilustrasi, mengapa nelayan bangsa Indonesia kalah dengan nelayan Thailand, Philipina dan Taiwan yang mampu menjarah ikan di perairan Indonesia?  Karena, mereka bersikap rasional dan ilmiah dengan menggunakan peralatan modern dan ilmu astronomi, sementara nelayan Indonesia menggunakan peralatan tradisional dan tersandera mitos kekuasaan Nyai Roro Kidul.

Orang-orang beragama tetapi tidak bertauhid adalah orang yang dholim yaitu orang yang menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya dan kedholiman yang paling besar dan paling nyata adalah membuat sekutu bagi Allah Tuhan Yang Maha Esa. Pengertian lain dari dhalim adalah orang yang sesat dan menganiaya diri sendiri.  Allah berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mepersekutukan Allah. Sesungguhnya mepersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedhaliman yang besar” (QS. Lukman: 13).

Muhammadiyah juga berkomitmen memurnikan ibadah(mahdhoh/ritual) dari unsur-unsur bid’ah.  Bid’ah adalah tambahan-tambahan dalam ibadah mahdhoh atau ibadah khusus (ritual) yang tidak diajarkan atau tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Mengapa bid’ah itu dilarang?  Kerena Muhammadiyah berpendapat berdasarkan hadits Rasulullah dan kaidah fiqh.  Dalam hadits Rasulullah: Dari Ummul Mukminin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak” (HR. Bukhari dan Muslim).  Dalam riwayat Muslim: “Barang siapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak” (Bukhari No. 2697, Muslim No. 1718).  Kata “Raddun” maksudnya tertolak atau tidak sah, sedangkan kalimat “bukan urusan dari kami” maksudnya bukan dari hokum kami.

Hadits ini menjadi pedoman dan petunjuk penting dalam beragama khususnya dalam peribadatan.  Hadits ini dengan tegas menolak setiap perkara bid’ah dan setiap perkara (dalam urusan agama).  Sebagian ahli ushul fiqih menjadikan hadits ini sebagai dasar kaidah bahwa setiap yang terlarang dinyatakan sebagai hal yang merusak.  Sekiranya bid’ah itu diperbolehkan, maka tidak ada lagi ajaran agama yang baku karena para pemuka agama akan berlomba-lomba menciptakan sistim peribadatan sendiri-sendiri dan tidak menutup kemungkinan mereka akan mengambil keuntungan duniawi dari bid’ahnya itu.  Kalau ini yang terjadi maka persaingan, ketegangan dan bahkan konflik dan permusuhan antar para pemuka agama beserta kelompoknya akan semakin tajam, sebagaimana para pemuka agama pagnisme yang berlomba-lomba menciptakan mantra-mantra yang boleh jadi menyimpang dari ide dasar ajaran agama itu sendiri.

Sementara itu dalam kaidah fiqh dikatakan: “Hukum asal dalam beribadah adalah haram dan batal kecuali yang ada dalil yang memerintahkan”.  Sebaliknya dalam urusan muamalah duniawiyah kaidah fiqhnya berbunyi sebaliknya: “Hukum asal dari sesuatu (muamalah/keduniaan) adalah mubah sampai ada dalil yang melarangnya (memakruhkannya atau mengharamkannya)” (Imam as-Sayuthi, dalam al-Asyba’wan Nadhoir: 43).

Dari uraian di atas, jelas bahwa dalam urusan akidah dan ibadah umat Islam harus berperinsip pemurnian (purifikasi), sedangkan dalam urusan muamalah atau urusan keduniawian harus kereatif dan inovatif.  Inilah sikap yang diambil Muhammadiyah sebagai gerakan purifikasi dan sekaligus inovatif.

b. Muhammadiyah sebagai Gerakan amar makruf nahi munkar

Islam adalah agama dakwah, setiap muslim adalah da’I kapanpun dan dimanapun berada.  Perintah berdakwah itu berlaku bagi individu, kumpulan, organisasi syarikat, bahkan Negara.  Dakwah adalah aktifitas yang melekat pada setiap orang sepanjang hayatnya.  Di antara banyak identitas Muhammadiyah, identitas sebagai organisasi dakwah amar makruf nahi munkar adalah paling dominan.

Muhammadiyah merupakan NGO keagamaan terbesar dan paling rapi di dunia (muslim), paling konsisten dalam melayani umat, paling konsisten untuk tidak terseret dalam politik peraktis, paling konsisten dalam pengabidiannya di bidang pendidikan dan kesehatan, dapat menjaga hubungan dengan umat dan Negara secara seimbang, dan paling konsisten dalam mengimbangi tetapi tidak memusuhi dan bahkan melakukan dialog dengan gerakan/missi zending Kristen sejak zaman penjajahan/colonial sampai sekarang.

Dengan perinsip-perinsip tersebut, Muhammadiyah merasa tidak memiliki musuh walaupun tetap ada yang memusuhi.  Muhammadiyah menjawab berbagai tuduhan dan kritik dengan jawaban seperlunya dan dengan amalan nyata.  Dakwah Muhammadiyah adalah dakwah yang mendahulukan amar makruf dari pada nahi munkar’ dakwah yang anti-keganasan (non violet), dakwah yang menguatkuasakan (empowerment), dakwah yang menggembirakan, dan dakwah yang membebaskan, yaitu membebaskan dari belenggu kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, penyakit, mental inferiority complex dan lain sebagainya.

Dengan keteguhannya berhidmat di bidang dakwah, Muhammadiyah telah mendapatkan pengakuan luas dalam membangun peradaban umat, membangun bangsa dan Negara.  Dengan amalan nyata ini, Muhammadiyah banyak mendapatkan dukungan dari berbagai pihak dengan tanpa meminta-minta.  Kontribusi dakwah Muhammadiyah dalam membangun peradaban umat antara lain berupa:

Budaya amar makruf nahi munkar. Muhammadiyah telah membangun dan memberikan contoh nyata dalam mengaplikasikan ajaran Islam, khususnya tugas melaksanakan amar makruf nahi munkar secara konsisten. Wujud nyata amar makruf nahi munkar antara lain dilakukan dengan tabligh, pengajian dari level kampong (cawangan) sampai level pusat. Mindset amar makruf nahi munkar ini tertanam kuat dalam sistim keperibadian warga Muhammadiyah sehingga memberikan kontribusi bagi penegakkan hokum, undang-undang termasuk anti-korupsi (rasuah) kolusi dan nepotisme.

Budaya kerja.  Untuk mewujudkan Islam yang rahmatan lil’alamin dan dalam rangka berfastabikul khairat.  Warga Muhammadiyah dituntut kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas.  Untuk mendirikan sebuah ranting (cawangan tingkat kampong) atau cabang (daerah) harus disertai amal usaha minimal berupa pengajian rutin.  Dari pengajian rutin, kemudian ditumbuhkan lembaga pendidikan seperti Madrasah Diniyah atau taman kanak-kanak (Kindergarten, Bustanul Athfal) dan seterusnya.  Untuk menumbuhkan Muhammadiyah tingkat daerah (distrik) harus ada amal usaha seperti sekolah, balai kesehatan dan panti asuhan.  Dengan ketentuan ini warga Muhammadiyah dididik kerja dan kerja, amal dan amal.  Setiap warga Muhammdiyah harus bisa berbuat untuk lingkungannya.  Dimana ada warga Muhammadiyah atau persyariktan Muhammadiyah dipastikan ada amal usahanya. Kultur Muhammadiyah adalah kultur sedikit bicara banyak kerja, menghindari dari polemic khilafiyah yang melelahkan, menghindari fitnah dan saling kritik atau olok-olok di antara sesama gerakan Islam.

Dakwah Muhammadiyah adalah dakwah bi al-hal atau dakwah dengan mengutamakan lat dakwah.  Alat dakwah itu dapat berbentuk amal-amal usahanya berupa lembaga-lembaga pendidikan, balai-balai kesehatan yang disebut Penolong Kesengsaraan Umum (PKU), dan pani-panti asuhan.  Amal usaha ini terbuka untuk awam dan tidak ada keistimewaan bagi warga Muhammadiyah.  Dengan amal usaha inilah Muhammadiyah mengenalkan dirinya, berdialog dan berdakwah.  Tujuang dakwah Muhammadiyah sapat dibagi dalam lima level : Level Pertama, menjadi muslim yang benar dan menyokong  gerakan Muhammadiyah; level kedua, menjadi muslim yang baik; level ketiga, senag kepada Islam, level keempat, tidak memusuhi Islam; dan level kelima, tidak memusuhi Muhammadiyah karena pernah merasakan amal usaha Muhammdiyah.

Dakwah Muhammmadiyah adalah dakwah yang berdimensi jangka panjang, membangun generasi dan membangun peradaban baru.  Dalam merayu kepada Islam, Muhammadiyah menggunakan konsep dakwah keluarga.  Konsep dakwah keluarga ini memiliki pengeritan: 1}. Setiap keluarga Muhammadiyah berkewajiban mengajak keluarga terdekat (tetangga) dan sanak saudara. 2). Kalau orang tuan keluarga itu belum bisa menerima, maka didik anaknya dan seterusnya cucu (datuk)-nya.

Dakwah Muhammmadiyah adalah dakwah membangun kader.  Orientasi dakwah kader memnag tidak hanya kuantitas, melainkan kualitas lebuh diutamakan.  Dengan memiliki kader yang berkualitas maka gerak Muhammadiyah akan semakin laju, termasuk perkembangan amal usahanya.  Konsep dakwah kader ini ada konsekuensinya, yaitu anggota aktif Muhmmadiyah tidak dapat bersifat massif dan bahkan terkesan elistis.  Hal ini memang tidak bisa dihindari  mengingat Muhammadiyah sebagai oegnisasi keagamaan yang mampu menggabungkan watak salafi dan modernism sekaligus.  Kecenderungan gerakan Islam yang ada selama ini tidak mampu menggabungkan kedua hal tersebut; yang salafi cenderung literal-trkstual dan anti modernism, sedangkan yang modernism cenderung kurang memperhatikan teks bahkan meninggalkan teks (makna zahir) sebuah teks baik al-Qur’an maupun al-Hadits.  Bahkan tidak jarang antara salafi dan modern saling menyerang. Tetapi hal itu tidak terjadi di Muhmmadiyah dan inilah salah satu keunikan dan keistimewaan Muhammadiyah, yaitu berIslam yang benar sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat salafussalih, dan cekap dalam mengatasi berbagai persoalan kotemporer.  Muhammadiyah diharapkan sebagai tenda besar yang semua Muslim dapat berteduh dengan nyaman dan damai (at home).

Tidak terseret pada politik praktis.  Muhammadiyah yang telah berusia hamper satu abad telah memiliki pengalaman hidup dalam berbagai zaman mulai zaman colonial Belanda, Inggris, Jepang sampai zaman kemerdekaan baik pada zaman Orde Lama, Orde Baru maupun zaman Reformasi.  Tegangan dari dalam dan tekanan dari luar agar Muhammadiyah terjun ke politik praktis begitu kuat, namun khittah Muhammadiyah yang tidak menghendaki berpolitik praktis dan independensi gerakannya selama ini, dapat menjaga dari politik praktis, tanpa berpolitik praktis pun, sesungguhnya Muhammadiyah telah memiliki kekuasaan, yaitu mengatur sikap politik warganya dan mengendalikan amal usahanya.  Politik muhammadiyah adalah high politics, yaitu memproduksi, menyosialisasikan dan mengawal nilai-nilai etis dalam berpolitik. Kedua politik Muhammadiyah bukan politik aliran atau golongan, melainkan politik kebangsaan dan kenegaraan.  Muhammadiyah adalah bagian dari bangsa Indonesia dan milik seluruh bangsa Indonesia dan untuk bangsa Indonesia. Muhammadiyah bukan partisan. Muhammadiyah adalah organisasi dan gerakan dakwah yang harus bersikap terbuka.  Muhammadiyah dapat masuk di semua lini dalam kehidupan bangsa dan Negara: di organisasi militer, birokrasi sipil, partai politik, serikat-serikat dan NGO.

Organisasi dakwah semacam Muhammadiyah akhir-akhir ini justru semakin langka, yang ramai justru yang tidak dapat dibedakan antara organisasi dakwah dengan organisasi politik. Masjid bukan lagi milik umat tetapi milik partai, khutbah atau ceramah agama sama dengan kampanye sebuah partai.

Dakwah adalah tugas keTuhanan. Kerasulan dan kemanusiaan.  Dakwah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia yang berkeadaban.  Isi dakwah pada dasarnya adalah nilai-nilai luhur yang mengangkat harkat dan menyelamatkan kehidupan manusia dan menjadi ruh peradaban.  Dakwah yang tidak melahirkan peradaban; tidak meningkatkan kemuliaan akhlak, kesejahteraan, kenyamanan, keharmonisan dan keindahan pada hakekatnya bukan dakwah kepada jalan Tuhan, melainkan ambisi sesuatu kelompok/golongan.

Era informasi dan komunikasi adalah zaman keterbukaan, zaman dimana tabir kepalsuan jubah-jubah agama dan ideologi akan terbongkar, yang pada saat yang sama dibarengi dengan pencarian agama yang fitri, agama nilai dan spiritualitas.  Strategi dakwah yang efektif pada komunikasi adalah dakwah inheren dengan strategi kebudayaan yang dilakukan dengan pendekatan struktural maupun kultural.

c. Muhammadiyah sebagai Gerkan Tajdid

Salah satu faktor lahirnya Muhammadiyah adalah keperihatinan yang mendalam KH. Ahmad Dahlan tentang keterpurukan bangsa Indonesia dan umat Islam di bawah pemerintahan colonial Belanda selama berabad-abad.  Akibat kolonialisme yang tidak berperikemanusiaan dan berperikeadilan itu bangsa Indonesia diperlakukan laksana budak dan memang diperbudak, diadu domba satu dengan lainnya, dipebodoh, dimiskinkan, dan penjatuhan harkat dan martabat lainnya.

Bukankah bangsa Indonesia itu bangsa yang besar?  Bukankah Islam itu adalah rahmatan lil alamin?  Bukankah umat Islam adalah khaira ummah (umat terbaik)?  Mengapa sampai bangsa kafir dari wilayah yang sangat jauh dan negerinya sendiri sangat kecil mampu menjajah Indonesia sampai ratusan tahun?  Begitulah kira-kira kegetiran dan keprihatinan KH. Ahmad Dahlan tentang umat dan bangsanya.  Salah satu solusi menyelamatkan umat dan bangsa itu adalah dengan mengubah cara berpikir termasuk di dalamnya cara beragama.  Perlu pembaruan cara berpikir, cara hidup dan cara beragama agar lambat tetapi pasti umat dan bangsa Indonesia dapat merdeka dan hidup sejajar dengan bangsa-bangsa besar lainnya dan bahkan lebih mulia dan lebih beradab.  KH. Ahmad Dahlan melakukan reformasi dan bahkan revolusi di bidang teologi, intelektual, moral dan sosial.

Ada empat ranah pembaruan yang dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan:

Pertama, pembaruan di bidang agama (teologi).  Hal ini dilakukan mulai dengan membetulkan arah kiblat, memahami Islam secara langsung dari al-Qur’an dan al-Hadits dengan pemahaman yang kritis dan transformative, membersihakan beragama dari anasir-anasir syirik, tahayul, bid’ah dan khurafat, medekonstruksi peran sentral kyai atau pemuka agama sebagai makelar (broker) dengan Tuhan, mengajarkan kemandirian kepada umat dalam beragama termasuk dalam berdoa.

Kedua, pembaruan di bidang intelektual.  KH. Ahmad Dahlan melakukan aksi social secara langsung menjadi guru di sekolah-sekolah Belanda yang sangat elitis dan eksklusif tanpa dibayar, tetapi dipersulit dan bahkan diintimidasi untuk merombak cara berpikir murid-muridnya.  KAhmad Dahlan langsung memberikan pencerahan tentang kebangsaan, keIslaman dan kemanusiaan kepada murid-muridnya.  KH. Ahmad Dahlan juga menyelenggarakan sendiri pendidikan dengan mengubah sistim diniyah dan posantren yang tradisional kepada sistim klasikal dan modern.

Ketiga, pembaruan di bidang gerakan social.  Organisasi Muhammadiyah didirikan sebagai organisasi modern dan inklusif dengan mengembangkan kerja sama dengan pemerintah colonial dan organisasi-organisasi serta gerakan-gerakan kebangsaan seperti Serikat Islam, Budi Utomo dan bahkan dengan organisasi keagamaan lainnya seperti misionaris Keristen.  KH. Ahmad Dahlan mengumpulkan anak-anak jalanan, yatim dan anak-anak miskin untuk dijadikan muridnya setelah dirawat dengan baik dan secara layak.  KH. Ahmad Dahlan juga mendirikan balai kesehatan untuk umum yang dinamakan PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) serta panti-panti asuhan.

Keempat, pembaruan di bidang moral dan mental.  KH. Ahmad Dahlan melakukan reformasi moral dan mental dari moral individual kepada moral social, dari hanya focus pada masalah ritual kepada transformasi social, dari orientasi golongan kepada kepada keumatan dan kebangsaan.  KH. Ahmad Dahlan menggerakan para hartawan, Kyai dan ulama untuk peduli pada fakir miskin, serta nasib umat dan bangsa.

d. Muhammadiyah sebagai Gerakan Kebudayaan

Satu hal yang jarang diungkap adalah peran Muhammadiyah dalam bidang kebudayaan.  Peran kebudayaan Muhammadiyah bukan budaya dalam arti kesenian atau adat istiadat masyarakat local.  Peran kebudayaan Muhammadiyah lebih pada pembangunan akhlak dan peradaban.  KH. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah menyadari bahwa tegaknya suatu bangsa sangat tergantung pada akhlaknya.  Peran nyata Muhammadiyah dalam membangun akhlak bangsa dilakukan dengan cara melahirkan para tokoh dan pemimpin nasional yang mampu meberikan keteladanan.  Hampir semua tokoh pergerakan nasional seperti Dr. Sutomo, Dewes Decker atau Wahidin Sudirohusodo, Haji Agus Salim, Moh. Rum, HOS Cokroaminoto, Sukarno, Moh. Hatta dan bahkan Suharto adalah pernah merasakan didikan Muhammadiyah.

Cara lain yang dilakukan Muhammadiyah dalam membangun akhlak dan peradaban bangsa adalah dengan terus mengobarkan semangat dan gerakan amar makruf  nahi munkar.  Peran amar makruf  nahi munkar Muhammadiyah ini diakui oleh pendeta Victor Tanja dalam sebuah desertasinya tentang HMI.

4. Khittah Muhammadiyah: MKCH

Untuk mengetahui hakekat Muhammadiyah, kita juga bisa melihat Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup (MKCH) Muhammadiyah.  MKCH merupakan khittah atau blue print, core value, visi, misi dan tujuan Muhammadiyah.  Secara singkat, MKCH Muhammadiyah digambarkan berikut:

Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang memiliki keyakinan dasar yang jelas, memiliki visi, misi dan tujuan yang sangat mulia serta strategi dan alat pencapaiannya juga sangat jelas. Pada tataran yang paling umum dan ideal.  Muhammadiyah megemban visi Islam yang rahmatan lil alamin, yaitu kemakmuran, kesejahteraan dan perdamaian bagi seluruh alamPada tataran keumatan, Muhammadiyah berjuang agar umat Islam menjadi khaira ummat (sebaik-baik umat), ummatan wasatan (umat yang mampu berperan sebagai wasit) dan ummatan wahidah (persaudaraan dan persatuan umat).  Pada tataran kehidupan berbangsa dan bernegara.  Muhammadiyah berjuang agar Indonesia menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang baik yang mendapatkan perlindungan dan ampunan Tuhan).

Pada tataran kemasyarakatan, Muhammadiyah berjuang membentuk al-mujtama’ al-fadhilah yang berarti masyarakat utama atau masyarakat madani atau masyarakat ideal.  Pada tataran keluarga Muhammadiyah berjuang bagi terbentuknya keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, keluarga yang tenang tentram dan saling berkasih saying di antara anggota keluarga.  Pada tataran individu, Muhammadiyah berjuang membentuk individu yang muttaqin (orang bertaqwa).  Allahu a’lam bishawab.

                                Sumber : AIK III; Kemuhammadiyahan Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyahtahun 2016.

Oleh: subair | Januari 31, 2018

PERAN KEBANGSAAN MUHAMMADIYAH DI INDONESIA


Dalam satu abad kiprahnya, Muhammadiyah telah meletakkan infrastruktur kebangsaan modern religius madani berkeadaban. Sejak berdiri tahun 1912, gerakan ini terus mengembangkan aksi penyadaran sosial-kemanusiaan di bidang kesehatan, pendidikan, solidaritas kolektif berorganisasi (jamaah), kemandirian kolektif (ta’awun), sebagai embrio kesadaran berbangsa. Jauh sebelum kemerdekaan, bahkan sebelum perang kemerdekaan, saat gagasan kebangsaan baru sebatas impian, gerakan ini mempolopori penggunaan bahasa lokal (Jawa dan Melayu) menggantikan bahasa asing (Belanda, Inggris, dan Arab) bagi nama-nama orang dan kegiatannya. Dari sini, di kemudian hari mulai muncul kesadaran kebangsaan tentang kesatuan kolektif sebagai bangsa.

Dalam pidato kongres tahun 1922, Kiai Ahmad Dahlan beberapa kali menyebut nilai sebuah bangsa yang hanya mingkin terbentuk jika didasari kesatuan hati (Mulkhan, 1990). Basis epistemologi kesatuan kolektif dan aksi sosial kemanusiaan itu ialah apa yang dikenal sebagai kesadaran ketuhanan, yang lebih kita kenal sebagai iman dalam praktik agama. Karena itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa Muhammadiyah lebih dahulu tampil sebagai gerakan sosial dan kebudayaan, baru kemudian memperkokoh diri dengan basis ketuhanan (baca: agama) (Dzuhayatin, 2011).

Semula gerakan ini tentang pendidikan, kesehatan, aksi kemanusiaan berbasis agama (pembagian daging kurban, zakat dan fitrah), tablig di ruang publik, dianggap nyleneh, tidak jarang dituduh sebagai gerakan “sempalan” atau menyimpang dari Islam, bahkan dianggap sebagai bagian dari “Kristen alus”. Mengapa? Karena saat itu, gerakan sejenis mudah diketemukan dalam komunitas kristiani yang banyak dilakukan oleh bangsa-bangsa colonial. Barulah setelah satu abad kemudian, berbagai kegiatan Muhammadiyah tersebut mulai memperoleh apresiasi, terutama saat orde baru mulai mamakai bahasa agama dalam menggerakkan warga bagi proyek-proyek pembangunannya.

Muhammadiyalah yang pertama kali mengagas pendiriam musola di tempat umum (pasar, terminal, stasiun), pengelolaan perjalanan haji secara professional, termasuk ibadah korban dan fitrah serta zakat. Demikian pula, gerakan sedekah dan infak bagi kegiatan sosial seperti pendidikan, bagi santunan terhadap fakir miskin, duafa dan yatim piatu, dipolopori oleh Muhammadiyah. Sosialisasi penydaran publik tentang pentingnya kesehatan, selain yang paling fenomenal pengembangan dakwah (pengajian) di ruang publik di luar mesjid dan posantren yang sekarang lebih dikenal sebagai majelis taklim, pun diprakarsai oleh Muhammadiyah. Sebelumnya, tidak ada krgiatan keagamaan (termasuk tabligh) kecuali di dalam mesjid atau posantren.

Di masa lalu, program yang demikian itu (pengajian di ruang publik) bisala disebut dengan program atau sebagai “guru keliling”. Dari sini, warga masyarakat negeri ini memiliki pengetahuan tentang Islam jauh lebih massif dan berkualitas dibandingkan dengan publik umat di negeri-negeri muslim lain yang masih mengandalakan dakwah konvensional di mesjid dan lembaga formal simbolik. Kini, di abad ke 21 ini, tidak lagi ada orang Islam yang menolak sekolah modern, yang menolak pengobatan di rumah sakit, dan yang menolak praktek penyembelihan korban dan pembagian zakat maal atau fitrah bagi kelompok masyarakat yang tergolong miskin.

  1. Dakwah Kultural Kecakapan Hidup Berbasis Pengguna Jasa AUM

Di abad kedua usia gerakan, MUhammadiyah sudah waktunya mengelola pengguna jasa amal usaha Muhammadiyah (AUM) baik bidang pendidikan, kesehatan, ataupun lainnya. Kegiatan Muhammadiyah tidak cukup hanya melibatkan pengikutnya, tetapi perlu mengelola komunitas pengguna jasa amal usahanya (AUM) yang jumlahnya bisal mencapai 120-an juta jiwa. Melalui komunitas AUM, disebarkan virus dakwah kecakapan hidup berbangsa dan bernegara berbasis etika futuris (akhirat).

Tradisi sosio-ritual yang terlembaga dalam ribuan sekolah, tempat ibadah, rumah sakit, perguruan tinggi, dan lembaga pengajian. Virus AUM adalah akar pengembangan hidup berbangsa lebih sejahtera, ta’awun (gotong royong), berbasis etika futuris (akhirat) yang lebih memihak wong cilik sesuai paradigma welas asih pendiri gerakan ini. KIai Ahmad Dahlan, sebagaimana kesaksian dr. Sutomo saat meresmikan rumah sakit (poliklinik) PKU Surabaya tahun 1924.

Soalnya, bagaimanatradisi sosi-ritual dakwah kecakapan hidup tersebut bisal menjadi virus kehidupan kebangsaan secara lebih etis dan bermoral. Matematika komunitas pengguna jasa amal usaha Muhammadiyah (AUM) bisal menunjukkan angka 100 juta jiwa. Mereka relatif memiliki ikatan emosional atas rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, perguruan tinggi yang tersebar di seluruh nusantara.  Apakah aktivis dan pimpinan gerakan ini memperhitungkan modal sosialnya bagi tahap lanjut dakwa kultural kecakapan hidup bagi kepentingan bangsa dan kemanusiaan universal?

Dakwa kecakapan hidup ialah dakwah yang tidak hanya berpusat pada rana kognisi atau pengetahuan, melainkan menyasar kemampuan atau kecakapan hidup, dalam beribadah dan memenuhi kebutuhan hidup masyarakat yang menjadi obyek dakwah. Pelaksanaan dakwah kecakapan hidup itu dilakukan dengan memanfaatkan kecerdasan dan kearifan local, berupa tata nilai yang tumbuh sebagai tradisi hidup masyarakat setempat. Inilah yang antara lain disebut sebagai kebudayaan.

Secara normatif bisal merujuk Kitab suci al-Qur’an surat Ibrahim ayat 4 yang menunjuk fungsi kebudayaan (lisaani kaumih), Surat al-Anfal ayat 24 menunjuk arah penghidupan (yuhyikum), berikut kutipan kedua surat dan ayat al-Qur’an tersebut.

Surat Ibrahim ayat 4 menyatakan: “ kami tidak mengutus seorwng rasul, kecuali dengan bahasa kaumnya, agar bisal member penjelasan dengan terang pada mereka. Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki. Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi maha bijaksanan” . Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, bukan berarti diperuntukan bagi bangsa Arab saja, tetapi bagi seluruh manusia.

Surat al-Anfal ayat 24 menyatakan: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul kepada yang memberi kehidupan kepadamu, ketahuilah sungguh Allah membatasi manusia dan hatinya dan sungguh kepada-Nyalah kamu dikumpulkan” . Maksudnya menyeru berperang meninggalakn kalimat Allah, bisal membinasakan musuh, menghidupkan Islam dan Muslimin, menyeru kepada iman, petunjuk jihad dan segala yang ada hubungannya dengan kebahagiaan hidup di dunia dan akherat. Allah-lah yang menguasai hati manusia.

Karena itu, dakwah,  selain dilakukan dengan hikmah dan dialog, juga berbasis budaya orang atau masyarakat sasaran dakwah. Seluruhnya bertujuan sehingga masyarakat menjadi lebih hidup, lebih bisal menyelesaikan berbagai problem kehidupan yang dihadapi. Karenanya, dakwah cultural ialah dakwah yang tidak terbatas menyasar koginsi publik, melainkan juga melatih kecakapan hidup sosial, ekonomi, budaya dan politik.

Setelah satu abad gewrakan ini berkarya, saat tradisi sosial ritual yang dulu dipolopori sudah diterima publik, dakwa perlu dikemas secara baru sesuai dengan tingkat kehidupan sosial- ekonmi-budaya warga negeri ini dan warga dunia. Penduduk negeri ini secara  kultural adalah pengikut  kultural Muhammadiyah, meskipun secara sosial  “anti gerakan ini”. Tidak ada lagi warga negeri ini yang menolak sekolah dan pengobatan  modern. Secara sukarela, mereka membagi fitrah bagi fakir miskin, juga daging korban.

Kini, publik sudah terbisala membiayai kepentingan sosial dari zakat. Infak dan sodaqah (ZIS) yang dimasa lalu ditentang. ZIS (baca: filantropi atau kedermawanan sosial)bsudah merupakan salah satu sunber penting pembiayaan sosial dan ekonomi umat. Soalnya kemudian ialah bagaimana mengembangkan tradisi sosial-ritual itu bagi pemecahan problem sosial-ekonomi umat. Karena itu, dakwah harus menyasar kecakapan sosial-ekonomi umat yang menempatkan filantropi sebagi salah satu sumber pembiayaan.

Kegiatan dakwah tidak lagi terbatas menjadi  tanggung jawab lembaga tabligh (majelis dan bagian), melainkan juga menjadi tanggung jawab seluruh organ gerakan. Dari sini, gagasan dasar dakwah jamaah dan gerakan jamaah dikembangkan guna memenuhi kebutuhan dakwah kotemporer tesebut. Dalam perspektif dakwah jamaah dan gerakan jamaah, aktifis gerakan ditempatkan sebagai inti penggerak dinamika dakwah kecakapan hidup.

Selama ini, aktifis gerakan terbatas dipahami sebagai anggota persyarikatan, terutama pimpinan, yang setiap lima tahun sekali berganti posisi. Akibatnya, berbagai kegiatan dakwah perlu disegarkan kembali dalam durasi lima tahunan saat pergantian pimpinan persayrikatan dengan seluruh majelis dan bagiannya. Sementara itu pengelola amal usaha Muhammadiyah (AUM) dengan tingkat kontinuitas lebih kurang sepanjang hayat, hingga pensiun, setiap hari terlibat kegiatan persyarikatan yang terbaras  dalam spesifikasi bidang AUM, sekolah, kesehatan, panti asuhan dan perguruan tinggi, justru lebih banyak ditempatkan sebagsi obyek dakwah.

Kini sudah waktunya, dakwah kecakapan hidup memempatkan pengelola AUM sebagai inti gerakan. Sasaran dakwahnya ialah stakeholder yang terdiri dari murid dan mahasiswa berserta keluarga basarnya, pasien berserta keluarga besarnya, anak asuh panti asuhan berserta kelurga besarnya.

Bekerjasama dengan Hizbul Wathan, pengelola AUM bisa menyelenggarakan pelatihan dakwah kecakapan hidup dengan target murid, mahasiswa, mantan pasien dan keluarga besarnya memiliki kecakapan praktis memenuhi hajat hidup standar (mengelola sumber daya alam sehinggabernili ekonomi; mengelola cara hidup sehari-hari berdasar syariat (shalat berjamaah, merawat jenazah, dan lain sebagainya). Karena itu, tujuan dan target utama dakwah kecakapan hidup ialah bagaimana melakukan kegiatan sosial sehingga sasaran dakwah bisal hidup mandiri (Mulkhan, 2015).

2. Memperluas Tradisi Sosio-Ritual dalam Kehidupan Berbangsa

Setelah seratus tahun Muhammadiyah berdiri (1912), kini praktek keagamaan Islam nusantara bisal disebut sebagai kepanajangan (eksemplar) dari apa yang dulu dipolopori gerakan Muhammadiyah.. Kiai Ahmad Dahlan-lah yang dimasa lalu mempolopori berbagai tradisi sosio-ritual (kegiatan sosial bernilai ibadah) yang tidak ditemukan padanannya di belahan dunia lain, di negeri-negeri muslim sekalipun.

Tradisi sosio-ritual ialah suatu kegiatan sosial yang dimaknani atau dipahami sebagai salah satu bentuk dari ibadah kepada Allah. Kegiatan sosio-ritual itu mencakup pembunaan kesehatan, pendidikan, santunan sosial, dan kedermawanan sosial (filantropi). Sejak itu, kegiatan sosial yang diniatkan sebagai ibadah ditempatkan sebagai bagian dari kegiatan ibadah itu sendiri, sehingga partisipasi publik lebih didasari oleh niat ikhlas, bukan karena kepentingan.

Muhammadiyah mempelopori partisipasi publik dalam membangun gedung sekolah dengan memberi infak , sedakoh dan zakat (baca: filantropi). Demikian pula halnya dengan pembangunan tempat ibadah berupa musalla dan masjid. Gerakan ini pula yang memulai pembangunan tempat ibadah (musalla) di tempat umum, di pasar, stasiun kereta api, dan terminal bus; juga pembagian daging korban bagi fakir miskin, seperti pembagian zakat fitrah.

Melalui penafsiran baru, masyarkat digerakkan untuk memenuhi ajaran Islam sekaligus memecahkan problem sosial dan ekonomi. Muhammadiyah pula yang mempolopori tata kelola perjalanan ibada haji. Demikian pula, Muhammadiyah mempolopori penyampaiain hutbah dalam bahasa daerah (waktu itu Jawa dan Melayu) bersamaan dengan penerjemahan kitab suci al-Qur’an dalam bahasa Jawa dan Melayu (saat Muhammadiyah berdiri bahasa Indonesia belum terbentuk), kemudian kedalam Bahasa Indonesia.

Secara cultural, warga muslim negeri ini adalah pemgikut Muhammadiyah, karena sudah mengikuti apa yang dipolopori gerakan ini. Jika tahun 1970-an, orang masih memendang sekolah (bukan madrasah) itu haram, kini orang-orang berebut terlibat dalam pendidikan modern tersebut. Jika dimasa lalu berobat ke rumah sakit itu dianggap meniru penjajah, kini orang segera pergi ke puskesmas saat merasa sakit. Banyak orang sekarang memaksa diri “menjadi Muhammaduyah”, mengapa? Karena saat mendirikan lembaga pendidikan, walaupun belum memenuhi syarat dan rukunnya, meminta yang berwewenang segera menerbitkan izin operasionl.

Ironinya, dalam suasana budaya yang demikian itu aktivis gerakan ini “merasa disaingi”  oleh pengelola pendidikan dan kesehatan yang tidsk berada di bawah simbol Muhammadiyah. Aktivis itu kurang menyadari bahwa suasana itu merupakan salah satu indicator keberhasilan dakwa Muhammadiyah dalam mendorong umat untuk terlihat kemodernan. Muhammadiyah-lah yang sejak lama mendorong  dan memprovokasi agar umat pemeluk Islam negeri ini memiliki kesadaran kesehatan, mengenyam pendidikan modern, dan mengelola kegiatan ibadah yang berdimensi sosial dengan tata kelola modern.

Kini, bermunculan organisasi sosial yang mengelola zakat dengan tata kelola modern professional seperti Dompet Dhuaf. Demikian pula berbagai lembaga pendidikan dan kesehatan didirikan oleh sekelompok masyarakat yang bahkan menyatakan “anti muhammadiyah”. Organisasi atau yayasan sosial demikian itu terkadang tampak lebih sukses dalam mengelola kegiatan sosio-ritual dibandingkan dengan pelopornya.

Di saat Muhammadiayah bisal disebut “berhenti berijtihad” partisipasi kegiatan gerakan ini seolah berlomba melakuakan kegiatan sosio-ritual yang dulu dipelopori Muhammadiyah. Galam situasi yang demikian inilah, penting bagi aktivis gerakan ini untuk memahami ulang gagasan dasr sosio-ritual yang dulu dipolopori KH. Ahmad Dahlan. Melalui pemahaman kembali itu kita bisal melanjutkan atau melakukan tranformasi atau bahkan melakukan pembaruan jilid kedua dengan tujuan utama “memecahkan berbagai problem sosial-kemanusiaan” warga bangsa ini.

Saatnya dipertimbangkan untuk memperluas tradisi sosio-ritual sebagai peraktik berorganisasi dalam gerakan Muhammadiyah laiknya virus yang menyebar menjadi etika kehidupan kebangsaan negeri ini. Tanpa harus berpolitik, gerakan ini bisa memanfaatkan tradisi sosio-ritual berbasis pada komunitas stakeholder AUM bagi peningkatan praktik kebangsaan yang lebih mrnjajanjikan kehidupan yang lebih sejahtera dan manusiawi sesuai cita-cita founding fathers.

3. Keunikan Perkembangan Persyarikatan di Daerah

Dalam penjelasan Mukaddimah AD, pokok pikiran keenam gerakan ini membagi masyarakat ke dalam dua kelompok, yaitu umat dakwah dan umat ijabah. Umat ijabah ialah umat atau kelompok orang yang sudah menerima Islam sebagai agamanya, sementara itu umat dakwah, ialah umat atau kelompok orang yang belum sepenuhnya menerima Islam sebagai agamanya.

Kepada kelompok ijabah, dakwah dilakukan untuk meneguhkan iman dan mengfungsikan ajaran Islam bagi penyelesaian problem kehidupan. Maka, kepada kelompok umat dakwah, kegiatan dakwah dilakukan untuk menujukkan kebagusan ajaran Islam, sehingga membuat umat dakwah trsebut tertarik pada ajaran Islam.

Demikian pula halnya, perluasan gerakan ini di suatu daerah selalu bersifat unik dan spesifik serta bergantung pada tokoh local dan problem umat di daerah yang bersangkutan. Seperti stiap orang berbeda cara hidup di ruang yang berbeda, berbeda pula cara dan pemicu seseorang untuk berubah atau berkembang jadi aktivis gerakan ini. Khulafaur rasyidin dan ashabunal awwalun juga memiliki latar belakang berbeda mengenai pemicu konversinya menjadi muslim. Setiap cabang atau ranting, daerah, sekolah, rumah sakit, hingga perguruan tinggi Muhammadiyah, berbeda-beda dalam hal cara bertumbuh dan berkembang, seperti halnya apa yang menyebabkan berdiri dan berkembang.

Mengigat latar belakang belakang yang berbeda itu pula maka tidak semua yang dituduh melakukan tradisi TBC akan meninggalkan TBC karena ancaman mereka. Banyak orang meninggalakan tradisi TBC, akibat sembuh dari penyakit yang semula disangka akibat guna-guna, teluh, dan hantu desa. Ia sembuh dari penyakitnya setelah berobat ke rumah sakit Muhammadiyah.

4. Indikator Sukses Persyarikatan

Aktivis persyarikatan kini mulai merasa tersaingi oleh gerakan sejenis atau tradisionalis bukan karena gagal, tetapi akibat keberhasilannya yang kurang disadari ditempatkan sebagai strategi dakwah kultural kecakapan hidup tersebut. Disaat yang sama, nilai sukses AUM dilihat dari banyaknya alumni yang menjadi aktivis persyarikatan.

Saat warga negeri ini “memaksa” meniru apa yang dilakukan Muhammadiyah tetapi tetap enggan mengaku Muhammadiyah, apakah itu berarti kegagalan gerakan ini atau sebaliknya? Berapa kali dalam setahun pimpinan AUM/PTM berdialog dengan orang tua murid AUM/ keluarga pasien/ warga sekitar dalam rangka dakwah?

Seperti konversi orang saat bersyahadat yang spesifik, khusus dan unik (lihat Umar dan sahabat, juga Ibn Utsal), berdirinya PRM/ PCM atau PRA/PCA, juga besifat unik bukan semata dipantik oleh pertimbangan akal rasional, melainkan lebih banyak tersentuh hati dan rasa, tersentuh oleh aksi kemanusiaan (baca: diwongke (Jawa). Melalui lembaga pendidikan (PAUD, TK/ABA, SD, MI, SLTP/A, SMK, PTM, jasa AUM lain seperti rumah sakit), banyak orang baik yang hadir dan terlibat kegiatan persyarikatan. Bisa saja, orang baik itu terlibat sebagai pasien rumah sakit karena menderita penyakit, bisa pula karena tertarik pada lembaga pendidikan, atau oleh pengelola yang dipercaya.

5. Belajar dari Sukses Ranting dan Cabang

Banyak kisah sukses di daerah atau cabang tentang bagaimana Muhammadiyah diterima oleh publik  umat dan berkembang. Hal ini menunjukkan kearifan local, peran tokoh local, dan kemampuan gerakan ini menelesaikan problem yang dihadapi oleh umat local. Sekedar contoh, berikut ini dikisahkan apa yang dilakukan penggerak dakwah Muhammadiyah di Tinalan, pinggiran Kotagede, di Cileungsi Bekasi, dan di Sendang Ayu, Padang Ratu, Lampung Tengah.

Beberapa tahun berdiri PRM/PRA Tinalan disekitar kawasan perumahan Sendok Indah daerah Kotagede. Pem-basis-an sosial ranting ini dimulai melalui pengajian tanpa nama dengan mengakomodasi kebutuhan orang-orang local yang butuh bimbingan baca al-Qur’an. Pengajianpun diselenggarakan kadang dengan membaca bacaan shalat secara jamaah (menghindari peserta yang tidak bisal melafal secara benar).

Kegiatan pengajian itu terkadang diisi membaca surat Yasin atau surat Yusuf memenuhi permintaan jamaah yang kena musibah atau menikahkan anaknya. Semula, peserta pengajiannya hanya beberapa orang, tetapi 10 sampai 20 tahun kemudian menjadi ratusan. Lalu, mereka butuh mengorganisasi diri dalam “’Aisyiyah dan NA serta Muhammadiyah, tapi masih juga terkadang terorganisasi dalam group Yasinan dan Yusufan (apa yang salah)?

Sementara di Sendang Ayu Lampung Tengah, melalui wakaf pohon kelapa dan pisang, setelah beberapa tahun kemudian berdiri PRM/PCM di lereng timur Bukit Barisan yang cukup disegani dan berpengaruh di Barat Daya PDM Lampung Tengah, seorang wartawan senior Amerika Wall Street Journal: Bret Stephens, bahkan pernah hadir di sana, laporannya berjudul “The Exorcist” kemudian terbit 10 April 2007 halaman A18Wall Street Journal.

Seorang Kiai penganjur dakawah Muhammadiyah di daerah itu bahkan dikenal penduduk memiliki kekuatan spiritual, sering diminta air putih untuk jampi-jampi, dokenal memiliki aji-aji sapu angin, karena konon bisal memempuh puluhan kilometer dengan sepeda ontel hanya dalam beberapa menit. Dari sinilah, petani Jawa transimigrasi itu merasa memperoleh perlindungan spiritual.

Kita juga bisal belajar dari cabang yang terletak di sisi Timur Jakarta, di Cileungsi. Melalui asuransi dan jasa pelayanan kematian, PCM di Timur Jakarta berbatasan dengan Bekasi itu mengembangkan diri. Kini, mereka bersiap mendirikan rumah sakit dan universitas. Hanya ada satu dua orang aktivis yang terus memikirkan bagaimana menarik perhatian publik yang umumnya hidup dalam tradisi Jawara masyarakat Banten.

Aktivisnya memiliki kemampuan bela diri Tapak Suci, demikian pula Kuningan yang sukses mengembangkan PTM dalam tempo 5 tahun mendulang lebih dari 3000 mahasiswa (melibatkan tidak kurang 1,5 juta anggota keluarga). Padahal, gerakan ini minoritas di daerah mayoritas bertradisi Jawara yang dikenal hebat dalam kekuatan magis tersebut.

Kita bisal belajar dari ranting dan cabang yang maju di berbagai daerah di Jawa dan luar Jawa. Di dalamnya, dengan mudah kita temukan beberapa aktifis yang terus bekerja dan dengan setia memelihara “tradisi” secara lestari. Dan, dengan “tradisi” itu penduduk dan warga setempat menyatukan diri sebagai bagian dari komunitas spiritual.

6. “Pesaing Baru” Muhammadiyah

Apa yang dipelopori Kiai Dahlan seratus tahun lalu, kini sudah menjadi tradisi sosio-ritual pemeluk Islam negeri ini. Aksi-aksi kemanusiaan yang dilandasi cinta-kasih itu pula yang antara lain membuat dr. Sutomo kepicut, lalu mengatakan mejadi pengikut Muhammadiyah. Sementara itu, aktivis gerakan ini ”merasa” terancam ketika warga negeri ini meniru apa yang dilakukan Muhammadiyah (lihat kasus aktivis pegawai Kemang dan PTAIN), akibat terperangkap pada bentuk AUM bukan pada isi amal usaha tersebut.

Kini muncul beragam sekolah model baru (sekolah alam, kuttab, SIT (Sekolah Islam Terpadu) sekolah mendelegitimasi marwah gerakan ini. Di masa lalu, guru dan kiai (ulama) adalh sumber utama pembelajaran dan dakwah dalam spirit neosekolatik dan prenialisme (dalam ranah filsafat pendidikan). Kini, guru juga kiai ditempatkan sebagai fasilitator dalam spirit eksistensialisme dan progsivisme, paragmatisme, hingga gagasan deschooling.

Apa yang dulu dipolopori Kiai Dahlan kini sudah berkembang menjadi tradisi sosio-ritual pemeluk Islam negeri ini. (yang antara lain membuat dr. Sutomo dan presiden pertama Ir. Sukarno kepincut): sekolah, tata kelola (korban, haji, mesjid, dan kedermawanan sosial (ZIS), musola di tempat umum, taklim di ruang publik (semula dakwah dan kegiatan orang menuntut ilmu terbatas di posantren atau mesjid), santunan pada kaum zuafa.

Di tiap daerah, Muhammadiyah memiliki sekolah favorit di semua tingkat dari PAUD hingga perguruan tinggi yang dimata publik dipandang unggul. Disaat yang sama, ketika sekolah modern sudah menjadi kebutuhan publik, muncul sekoah model “baru” yang terlihat asal beda dengan sekolah muhammadiyah. Pengelola sekolah “baru” itu umumnya aktivis gerakan atau orang yang mempunyai hubungan kultural dengan gerakan Muhammadiyah. Karena “baru”, sekolah ini kemudian tampak lebih menarik, sementara praktek AUM cenderung statis, tanpa perubahan yang menjajanjikan harapan.

Soalnya ialah apakah sekolah unggulan Muhammadiyah dan sekolah “baru” tersebut bisa bersaing dalam situasi budaya yang semakin terbuka, terutama nanti saat Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) benar-benar berfungsi. Apakah memiliki basis teori yang unggul atau karena penggunaan waktu dan fasilitas pembelajar?. Teori dan sistim yang mendasari sekolah-sekolah tersebut tidak berbeda dari sekolah pada umumnya, kecuali frekfensi pembelajaran dan penggunaan alat atau media pembelajar, selain inputnya mamang sudah unggul.

7. Gerakan Budaya Dakwah Luar Ruang

Dakwah sebenarnya merupaka kegiatan edukasi luar ruang, sementara praktek pendidikan lebih banyak bekerja dalam ruang. Semua kegiatan itu merupakan kegiatan budaya, yaitu suatu kegiatn yang fokus pada pengembangan mental atau cara pandang dan sikap hidup. Sama halnya, kegiatan Muhammadiyah termasuk kegiatan budaya.

Muhamaadiyah merupakan gerakan budaya yang serring disalahpahami, bahkan oleh aktivisnya sendiri. Seluruh kegiatan gerakan ini merupakan inovasi kreatif yang sulit dicari padanannya di masa lalu (lihat prasarana gerakan ini pada kongres Islam Cirebon tahun 1921 dalam laporan tahu ke 9 tahun 1922)

Pendidikan atau dakwah adalah proses sosial budaya untuk mengembangkan atau mengubah tata-pikir dan tata-kelola kehidupan secara bertahap (lihat laporan tahunan ke IX 1922).Tahapan-tahapan itu bagai spiral yang diwadahi atau dilembagakan dalam regulasi melalui syriah (fikih) (dalam gerakan ini diperankan oleh tarjih). Salah satu orientasi Muhammadiyah yang tidak banyak disadari aktivisnya ialah perubahan tata piker manusia (umat) dan tata kelola kehidupan berbsis ajaran Islam.

Lihat asas PKOe dan kesaksian dari dr. Sutomo tentang posisioning gagasan Dahlan atas Darwinisme (lihat Suara Muhammadiyah tahun ke 5 Oktober 1924 halaman 170-171, dan almanak Muhammadiyah Tahun Hijrah 1354 halam 120) kini, secara cultural pemeluk Islam negeri ini adalh pengikut Muhammadiyah: lihat dakwah luar ruang (taklim), musalla di ruang publik (bandara, stasiun, terminal, pasar) minat pendidikan, sadar kesehatan, tat kelola sosial-ritual (zakat, infak, sedekah, ibadah korban, salat tarwih, haji, dan lain sebagainya).

Di saat aktivis gerakan ini masih terperangkap dalam bentuk-bentuk TBC, pelaku TBC, sudah bergerak menjadi TBC sebagai tradisi bagi berbagai fungsi sosial-ekonomo-budaya. Ziara kubur aulia dan ulama kharismatik menjadi wisata religi. Ritual kematian, yasinan dan tahlilan (3,7,100,1000 hari) sebagai media edukasi (umat lapis bawah jadi hafal surat-syrat pendek, juga do’a), sebagai media komunikasi (politik, ekonomi).

8. Pembelajaran Alternatif “Mletik”

Perlu pembelajaran model baru yang lebih bermutu, produktif, dan spiritual (makrifat; lihat keputusan Yokyakarta 2010). Memanfaatkan model Boarding School (BS) atau Madrasah Boarding School (MBS) sebagai media percepatan atau akselerasi (SD cukup 4 tahun, SMP 2 tahun, SMA/SMK 2 tahun). Melalui apa yang disebut MBS Prambana kegiatan amal bakti sosial (ABS)  bisa dikembangkan pelatihan kecakapan hidup mandiri, baik di bidang sosial ekonomi, juga di bidang ubudiah dengan memanfaatkan kemampuan pelatihan kepanduan Hizbuk Wathan.

Sintesis pembelajaran BS (boarding school). /MBS (Madrasah Boarding School), Home Schooling, Sekolah alam, kuttub, mengikuti jenjang KKNI bagi pembelajaran lebih produktif, efektif, efisien. Sistimatika majelis ta’lim distandarisasi seperti kejar paket hingga model universitas terbuka.

Basis epitemologinya ialah bahwa kecerdasan spiritual (makrifat) menemukan clue kekuatan inti penbelajar berupa got spot sehingga seperti hikmah Jawa dalam melukiskan wong linuwih “jalmo limpat seperapat prasasat tammat” orang arif itu diberi 25% = 100%, sehingga membuat seseorang “mletik”. Sukses pembelajaran bukan dengan kuantitas jam, fasilitas dan bahan ajar lebih, melainkan dengan menghasilkan kualitas prima melalui jam, fasilitas, bahan ajar terbatas dan imput siswa dengan kualitas rendah.

9. Reposisi Perempuan Sebagai Simbol Modernitas

Kini, sudah bisalah perempuan tampil di ruang publik, bahkan sebagai pemimpin politik di daerah. Apa yang dilakukan Muhammadiyah seratus tahun lalu terhadap peran publik perempuan itu dianggap aneh, bahkan dituduh menyimpang dari ajaran Islam. Sementara kini publik sudah familiar dengan peran publik perempuan. ‘Aisyiyah, perempuan Muhammadiyah, cenderung kurang “greget” dan terkesan “ketinggalan zaman”.

Setiap kali menjelang pemilihan presiden dan kepala daerah di negeri ini, selalu memunculkan debat tentang posisi perempuan di ranah publik, khusunya dalam kepemimpinan nasional suatu bangsa. Awal tahun 2000an, tidak lama setelah pemilu presiden, muncul debat serupa berkaitan draf usulan pembaruan Kompilasi hukum Islam (KHI) oleh tim KHI Gender. Pedebatan itu antara lain dipicuh usulan tentang perempuan umur 21 tahun bisa menjadi wali bagi dirinya sendiri, nikah adalah kontrak sosial bukan ibadah, legitimasi kawin kontrak, penerapan idah bagi pria. Larangan poligami, kesamaan hak waris perempuan-pria. Perdebatan seperti ini masih akan terus meluas searah dengan kesetraan gender.

Di tengah perdebatan di atas, berlangsunglah reposisi perempuan dalam peta kepemimpinan gerakan Islam. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modernis, mulai menempatkan perempuan dalam komposisi kepemimpinan pusat gerakan ini. Beberapa aktivisnya sedang mengkaji ulang posisi perempuan sebagai imam shalat. Namun, itu tidak mudah dipenuhi ditengah patriarki fiqih dan patriarki dalam teologi Islam.. Soalnya bukan liberal atau konservatif, tetapi bagaimana menggerakan fungsi ajaran Islam hingga benar-benar berguna bagi pengembangan kehidupab sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan yang lebih sehat dan berkeadaban.

Reposisi perempuan dan kesetaraan gender bisa mati di tengah jalan jika tanpa kearifan kemanusiaan. Hal ini berkaitan fakta biologis keperempuanan yang perlu dicermati selain kecenderungan patriarki dalam fikih dan teologi Islam. Daur ulang menstruasi dan pembuahan di rahim perempuan merupakan bakat bawaan yang tak mungkin diubah. Perempuan yang mengandung dan menyusui boleh tidak puasa dan yang mentruasi dilarang berpuasa yang nanti diganti di hari lain. Aura ketubuhan sering menjadi alasan larangan perempuan sebagai imam shalat yang tak jarang diperluas dengan larangan menjadi pemimpin. Pada hal, Hadis Nabi yang dijadikan dasar pelarangan itu konon lemah.

Dalam hubungan itulah, usulan kawin kontrak bisa melegitimasi prostitusi yang semakin memperburuk nasib perempuan. Bersamaan itu, belum membaiknya kehidupan ekonomi negeri ini membuka peluang bagi segala jenis aktifitas yang bisa menarik minat yang membuahkan uang yang cukup banyak seperti prostitusi., trafiking atau perbudakan modern, serta pekerja di bawah umur. Demikian pula, idah (masa tunggu untuk kawin lagi setelah perceraian) bagi pria sama dengan idah bagi perempuan. Soalnya bukan sekedar keadilan dan kesamaan hak, tapi kepekaan kemanusiaan juga yang  perlu dijadikan pertimbangan.

Kelahiran Isa sebagai nabi dan rasul dari rahim Maryam bisa dimaknai atas kritik hegemoni patriarki seperti tampilnya ’Aisyah, istri Nabi Muhammad Saw, sebagai komandan perang sesudah Nabi wafat. Fakta ini seperti dimentahkan kekalahan Ratu Bilkis atas Nabi Sulaiman. Dinamika Islam kemudian merupaka sejarah pria yang menghegemoni penafsiran al-Qur’an dan Hadist dan mendominasi kekuasaan berbasis keagamaan.

Seluruh gerakan Islam mengelompokan anggotanya berbasis gender. Anggota Muhammadiyah perempuan dikelompokkan dalam ‘Aisyiyah dan perempuan Nahdlatul Ulama (NU) dalam Muslimat. Pucuk kepemimpinan gerakan Islam terbesar di negeri ini selalu dijabat pria yang secara hegemoni diberi sebutan seperti nama organisasinya, sedangkan anggota perempuan disebut ‘Aisyiyah atau Muslimat. Posisi tertinggi perempuan hanya di lembaga subordinatif dalam sistim oeganisasi Muhammadiyah dan NU.

Posisi perempuan mulai berubah ketika Muhammadiyah menetapkan kebijakan memasukkan mereka kedalam struktur pimpinan sesudah muktamar 2000 lalu.. Sejak itu peluang perempuan menjadi ketua (umum) Muhammadiyah semakin terbuka. Namun, peluang itu tidak mudah diraih ketika sistim keluarga yang menempatkan pria kepala keluarga sebagai basis kehidupan sosial. Imam shalat selalu dijabat pria, sementara perempuan diberi nilai stengah dalam kesaksian dan sistim pewrisan dalam hukum fikih. Doktrin muhrim bisa disebut sebagai legalisasi dominasi pria yang bahkan hamper menutup peluang mobilitas sosial bagi perempuan.

Dalam situasi budaya berbasis teologi itulah reposisi perempuan dalam kepemimpinan Muhammadiyah menarik dicermati. Peserta siding Tanwir di Mataram pada Desember 2004 sekitar 25 persennya adalah perempuan, seperti peserta Muktamar ke 45 di Malang awal Juli tahun 2005. Posisi itu memang belum signifikan, namun, cikup penting bagi pelahiran keputusan strategis bersuasan kesetaraan gender dan penguatan reposisi perempuan dalam pentas politik nasional. Sayangnya, Muktamar 2005 itu mengamandir reposisi perempuan hasil keputusan Tanwir Mataram tahun 2004.

Soalnya ialah bagaimana reposisi perempuan tersebut lebih menjamin kehidupan sosial yang lebih sehat, bukan sekedar liberalisasi doktrin fikih dan teologi. Persoalan ini masih akan terus mengundang perdebatan dalam pemilihan gubernur, bupati dan walikota secara langsung. Tanpa tafsir baru, peran perempuan dalam kehidupan sosial-politik yang lebih luas masih akan menghadapi hambatan teologis.

Sejak 1990-an dalam setiap seleksi pencalonan pimpinan Muhammadiyah sudah muncul beberapa nama perempuan. Namun, hingga muktamar 2000 belum seorang perempuan pun terpilih sebagai anggota pleno pimpinan pusat yang berjumlah 13 orang, seperti penambahan anggota pleno yang bisalanya berjumlah 4 atau 6 orang oleh ke-13 anggota pleno pilihan Muktamar. ”kegagalan” perempuan menempati posisi 13 besar atau anggota tambahan itu lebih Karen mayoritas peserta Muktamar adalh pria.

Selama ini, perempuan Muhammadiyah lebih terkonsentrasi di organisasi otonom yang bertugas khusus membimbing kehidupan sosial-keagamaan perempuan, yaitu: ‘aisyiyah untuk anggota dewasa, dan Nasiy’atul ‘Aisyiyah (NA) untuk anggota lebih muda. Pimpinan lembaga ini seluruhnya perempuan untuk kaum perempuan. Sementara itu, kepemimpinan di berbagai majelis dan lembaga lain yang membidangi pendidikan, kesehatan, dakwah, dan santunan sosial, hanya sedikit melibatkan perempuan.

Karena itu, Muhammadiyah menetapkan kebijakan advokatif memasukkan perempuan dalam tiap jenjang kepemimpinan, melalui dua tahap. Pertama, caranya melalui pemilihan langsung dalam Muktamar dan permusyawaratan wilayah (propinsi), daerah (kabupaten/kota), cabang (kecamatan), dan ranting (desa). Tahap kedua, melalui penunjukkan anggota pleno tambaha oleh anggota pleno terpilih dengan mepertimbangkan hasil pemilihan langsung tersebut.

Kebijakan advokatif di atas diharapakan menyeimbangkan peserta perempuan dan pria dalam Muktamar 2010 atau 2015. Peluang perempuan menjadi ketua (umum) Muhammadiyah Lebih terbuka ketika memperoleh suara terbanyak dalam Muktamar atau musyawara di tingkat lebih rendah, tidak bagi posisi pria dalam ‘Aisyiyah atau NA. Lebih strategis jika reposisi perempuan diberlakukan di semua unit gerakan ini juga diikuti dengan peleburan Pemuda muhammadiyah dan NA dalam satu wadah, dan peleburan ‘Aisyiyah ke dalam Muhammadiyah.

Kesetaraan perempuan dalam wilayah publik di atas bukanlah barang baru dalam Muhammadiyah. Jauh sebelum kesetraraan gender atau feminisme menjadi wacana publik di Tanah Air atau di dunia, pendiri gerakan ini, Kiai Ahmad Dahlan, sudah menempatkan perempuan setara pria dengan tugas berbeda. Perkumpulan khusus perempuan dengan nama Sopotrisno didirikan tahun 1914 setelah mendirikan lembaga pembinaan perempuan bagi tugas-tugas non domestic yang diberi nama Wal Asri. Dua lembaga ini adalah cikal bakal kelahiran ‘Aisyiyah pada tahun 1922 dan NA untuk perempuan muda beberapa tahun kemudian.

Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah menggerakan partisipasi perempuan di berbagai wilayah publik, selain dalam pendidikan, kesehatan, penyantunan sosial, dan tablig atau dakwah. Secara khusus, didirikanlah sekolah perempuan yang dikenal dengan Madrasah Muallimat. Banyak perempuan mulai bertugas sebagai guru, juru dakwah, begelar insnyur, menjadi dokter, dan memegang berbagai jabatan publik lainnya. Kini, mudah ditemukan perempuan bergelat Doktor, Guru Besar di berbagai bidang ilmu, bekerja diberbagai lembaga ekonomi dan birokrasi pemerintahan.

Di masa itu, membiarkan perempuan keluar rumah untnuk urusan publik merupakan aib keluarga yang tak gampang disembuhkan. Lebih-lebih ketika perempuan itu pergi jauh dari rumah dan kampungnya dan bertemu kaum pria diberbagai tempat umum. Namun, dalam suasana seperti itu, istri Kiai Ahmad Dahlan, Siti Walidah pergi jauh ke berbagai daerah menyampaikan ceramah agama dan bertemu beragam kelompok masyarakat yang bukan hanya perempuan.

Perlakuan Kiai Dahlan terhadap perempuan tersebut merupakan praktik dari pemahaman keagamaan yang bukan sekedar liberal, tapi dipandang menyimpang dari tatanan tradisi dan ajaran Islam pada masa itu. Wajar jika Kiai Dahlan di tuduh sebagai kafir, membuat agama baru, dan tuduhan buruk lainnya. Di saat yang sama, Kiai Dahlan mentradisikan pemakainan kerudung bagi perempuan yang belakangan merebak dalam tradisi atau model jilbab. Dibangun pula tempat ibadah khusus bagi perempuan yang kemudian dikenal sebagai musolla.

Tindakan Kiai Dahlan di atas didasri pertimbangan praktis dan pragmatis peran perempuan bagi pertumbuhan kehidupan sosial yang lebih sehat. Ide futuristic yang jauh melampaui kesdaran  zamannya itu merupakan strategi sejarah dan kebudayaan yang hasilnya baru terlihat hamper satu abad kemudian, akini, perempuan menuntut kuota 30 persen dalam lembaga legislative (DPR, DPD dan DPRD). Tak ada lagi orang tua yang melarang anak perempuannya pergi ke sekolah atau atau bekerja di berbagai bidang jauh dari kampung halaman, bahkan luar negeri.

Reposisi perempuan dalam gerakan Islam  dan jabatan publik bisa mebawanya ke tengah pusaran peadaban modern dan golobal dengan segala dampak budaya yang tak seleuruhnya sesuai doktrin  Islam dalam tafsir-tafsir klasik. Penolakan atas praktik-prakrik tak bermoral dan pelanggaran ajaran Islam dalam kebudayaan kotemporer, tidaklah memadai kecuali diikuti strategi peradaban futuristic sebagai pemandu umat untuk menyiasati peradaban golobal yang terbuka, dan hedonis, yang mungkin cenderung barbar. Suatu agenda baru yang tak mudah dipahami umat di zaman ini seperti reaksi masyarakat atas  kebijakan Kiai Dahlan dan istrinya, Siti Walidah, hamper satu abad lalu.

Gerakan atau organisasi Muhammadiyah lahir saat perang dunia I berkobar. Eropah bergolak ditengah berlangsungnya konflik berat dalam dunia Islam, terutama diantara gerakan Wahabi di satu pihak dan kerajaan Turki sebelum kesultanan terakhir Islam ini roboh di pihak lain. Di saat yang sama, kawasan Nusantara berada dalam perangkap dan cengkraman kekuasaan kolonial di tengah konflik antarkerajaan Islam Nusantara. Perang Diponegoro berkobar, kemiskinan meluas dalam suasana rasa keputusasaan umat dan publik warga Nusantara. Seluruhnya beriringan dengan tumbuhnya kesadaran atas kebangsaan dan kesadaran pada pentingnya gerakan nasionalisme yang meluas.

Dalam suasana kekacauan sosial-budaya-politik dan religi seperti tersebut di atas. KH. Ahmad Dahlan membangun tredisi besar gerakan sosial islam dan amal saleh. Sautu model ritual mendekatkan diri kepada Tuhan yang bukan sekedar ditempuh melalui ritual formal seperti salat, puasa, haji, dan zakat melainkan jugan melalui pemberdayaan warga bangsa yang menderita dan tertindas. Dari sini dikembagkanlah zakat maal dsn zakat fitrah bagi anak yatim dan fakir miskin, dibagikan daging korban bagi mereka yang menderita, dibangun panti asuhan, rumah sakit dan sekolah secara gratis yang dibiayai dari gerakan kedermawanan atau filantropi. Tidak ketinggalan digerakan kaum perempuan ke ruang publik bagi pencerdasan dan kedermawanan. Gerakan ini kemudin menempatkan diri  atau ditempatkan sebagai gerakan agama dengan aksi sipil pertama dan terbesar di dunia (Islam).

Kiai Ahmad Dahlan, yang priyayi (abdi dalem keraton) itu, mendakwahkan den meneladani bagaiamana mengumpulkan dan membagikan harta (fitrah, zakat, korban) bagi kepentingan umum. Sekolah dan rumah sakit, panti anak yatim dibangun dan dikelola dengan manajemen modern. Dengan tujuan agar seluruh lapisan umat memahmi secara langsung ajaran agamanya. Kitab al-Qur’an kemudian dterjemahkan, khutbah, pengajian aau ceramah agama diselenggarakan di tempat-tempat umum, di kampong, di pasar dan dipinggir jalan. Dibangun Musalla atau tempat beribadah di tempat umum; stasiun kereta api, dan terminal bus, perempuan dihalau ke luar rumah untuk mencari ilmu dan melakukan berbagai aksi sosial dan gerakan sipil.

‘Aisyiyah (organisai anggota Muhammadiyah perempun) secara resmi didirikan padatanggal 5 Januari 1922 (meski secara embrional sudah adasejak 1917), meski nama itu sebagi perkumpulan sudah cukup lama dipakai  sebagai sebutan perkumpulan perempuan yang kurang terorganisasi dengan baik. Kelompok yang kemudian bernama Ngaisyiyah (model dialek orang Jokyakarta dalam mengucapkan ‘Aisyiyah) itu menggerakkan kaum perempuan untuk melakukan aksi non-domestik. Saat feminisme masih diperdebatkan di Eropah. Kiai Dahlan sudah mengusung perempuan  ke ranah publik (Kartini belum muncul sebagi tokoh perempuan di kawasan Nusantara, Poulo Freire masih belum lulus TK karena baru lahir) Nyai Dahlan Siti Walidah berada pada posisi setara dengan Kiai Ahmad Dahlan, sering diundang ke lauar kota , bekan bersama dan atas nama Kiai Dahalan. Dalam sidang ulama di Solo yang mengambil tempat di serambi Mesjid Besar Keraton Surakarta, Nyai Dahlan di undang dan datang sendiri tanpa disertai Kiai Dahlan.

Bersamaan itu di saat warga kawasan pinggiran Negeri Ngayogyakarto dan sekitar daerah ini bermigrasi mencari pekerjaan ke kota Yokyakarta, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah mengumpulkan mereka untuk diberi ilmu keagamaan dan keterampilan kerja. Saat itu, kota Yogyakarta menjadi maknit daerah-daerah sekitar, karena relative lebih aman dan lebih menjanjikan kehidupan yang lebih sejahtera (menyediakan lapangan kerja lebih baik dari daerah-daerah sekitar). Dari sini kemudian muncul antara lain pengajian Wal-Asri dan Kulliyatul Muballighin ini tumbuh berkembang menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Muhammadiyah, sererunya sekolah ini adalah merupakan cikal bakal UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta).

Sayangnya, kemudian berkembangan model pembagian kerja bebasis seksual seperti tercermin dalam struktur gerakan Muhammadiyah; ‘Aisyiyah (untuk perempuan dewasa) dan NA (Nasiyatul ‘Aisyiyah; untuk pemudi), ada Pemuda Muhammadiyah dan Muhammadiyah. Tahun 1980-an muncul kritik Kuntowijoyo tentang gejala demikian dan kritik Muhammadiyah sebagai gerakan kebudayaan tanpa kebudayaan. Dalam praktik gerakan persyarikatan itu kemudian muncul tarik-menarik antara ‘Aisyiyah dalam amal dengan Muhammadiyah, terutama dalam kaitan pengelolaan amal usaha.

Tahun 2003, problem di atas dipecahkan dengan reposisi ‘Aisyiyah yang disyahkan Tanwir Mataram 2004. Kebijakan Pimpinan Pusat itu di tolak Multamar Malang tahun 2005; argument yang menguasai peserta Muktamar saat itu ialah agar ‘Aisyiyah tidak usah repot-repot ngurusi wilayah publik. Argumen demikian bertentangan dengan fakta sosial tentang banyaknya perempuan aktif di sector publik, menjadi kepala sekolah, bupati, gubernur, rector, metri dan pejabat tinggi lainnya. Soalnya ialah bagaimana Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah menyikapi pemikiran dan fakta sosial tersebut?

Jika diamati perjalanan Muhammadiyah selama satu abad, bisa dilihat bagaimana gerakan ini menjadi model tradisi keberIslaman di Indonesia, dari pendirian Musalla di tempat umum, pengajian kampong dan perjalanan haji, merupakan buah gagasan yang semula muncul dari Muhammadiyah. Melalui gagasan dan amal tersebut, publik umat merasa terbantu dalam memenuhi kebutuhan hidup antara lain di bidang: keshatan, pendidikan, praktik keagamaan, hingga pemenuhan harga diri karena merasa setara dengan orang-orang colonial dan kristiani, umat merasa memperoleh perlindungan, memenuhi kebutuhan mobilitas sosial dan religi serta rasa aman.

Namun, dalam perkembangannya, jarak budaya antara persyarikatan dan publik umat semakin lebar. Pada saat yang sama, fungsi sipil gerakan ini telah banyak diambil alih oleh LSM, lembaga professional (pengacara), lembaga adat, partai, sementara fungsi religi mungkin mulai juga diambil oleh kelompok salafi, tarbiyah, Islam terpadu. Demikian pula, fungsi-fungsi yang mungkin harus disebut sebagai fungsi sekuler (pendidikan, kesehatan) tampaknya juga mulai diambil oleh kelompok-kelompok tradisional seperti posantren ketika lembaga ini juga mulai membuka diri untuk mengembangkan peran-peran sosial dan sipil.

Di sisi lain, ketika Muhammadiyah bersentuhan dalam masyarakat yang lebih luas dengan status sosial beragam warga gerakan ini berpirau. Terjadi suatu pertemuan budaya atau tradisi ketika banyak warga memanfaatkan jasa kegiatan Muhammadiyah di bidang pendidikan dan kesehatan. Dari kegiatan demikian , masuklah warga bangsa dengan latar belakang sosial keagamaan yang beragam ke sekolah Muhammadiyah dari SD hingga perguruan tinggi yang tumbuh pesat setelah kemerdekaan. Demikian pula dengan rumah sakit, masuklah dokter-dokter muda dengan latar belakang ssosial kegamaan yang juga beragam. Mereka kemudian “terpaksa” meperoleh pengakuan dalam tubuh gerakan ini dengan mebawa serta “tradisi” yang selama ini menghidupi mereka, sehingga membagi warga Muhammadiyah ke dalam empat tipe: Al-ikhlas; Kiai Dahlan; Munu; Marmud.

Pemirauan (kategirisasi) warga Muhammadiyah tersebut dijelaskan dalam laporan penelitian penulis di sisi Selatan kota Jember Jawa Timur., Kecamatan Wuluhan (Mulkhan, 2000, 2013), Keempat tipe anggota gerakan Muhammadiyah tersebut dapat digambarkan secara ringkas sebagaimana uraian berikut: Al-Ikhlas adalah tipe anggota Muhammadiyah yang pola pikir dan tradisi hidupnya pola ideal Muhammadiyah seperti fatwa tarjih. Kiai Dahlan merupakan tipe Al-Ikhlas yang lebih toleran karena mencoba membangun hubungan dengan warga masyarakat yang lebih luas. Munu (Muhammadiyah NU) adalah warga Muhammadiyah yang pola pikir dan organisasinya Muhammadiyah tetapi tradisi kehidupannya NU karena memang berasal dari keluarga NU yang sekolah di lembaga pendidikan Muhammadiyah. Marmud (marhaenis Muhammadiyah) adalah anggota Muhammadiyah yang pola pikir dan organisasinya Muhammadiyah tetapi hidup kesehariannya dalam tradisi abangan.

Kini, setelah gerakan Muhammadiyah itu berusia 100 tahun, banyak warga bangsa ini yang memperoleh manfaat dari jasa sosial  yang dikembangkan Muhammadiyah lewat lembaga pendidikan atau rumah sakit. Ironinya, banyak warga gerakan ini yang masih bersikap sektoral dalam arti kehendak agar mereka yang memanfaatkan jasa sosial gerakan ini berprilaku berdasar fatwa tarjih dan menjadi anggota Muhammadiyah. Namun, ketika mereka kemudian memiliki peluang menduduki jabatan strategis dalam struktur organisasi gerakan ini, sentiment sektoral itu dimunculkan seperti model darah biru gerakan. Demikian pula, ketika warga bangsa kaum perempuan yang dulu nunuk kamukten (memanfaatkan jasa) amal sosial dan kesetraan gender seperti pendidikan, kini lebih lantang menyuarakan identitasnya, sementara Muhammadiyah dan ’Aisyiyah terlalu puritan, jaga emej enggan tampil ke publik secara lugas dan penuh percaya diri dalam mebawakan ide-ide pembaruannya.

Muncul kesan kuat bahwa sementara warga Muhammadiyah berdarah biru persyarikatan lebih menikmati ke-”darah-biru-”an sebagai gerakan modern dan tajdid, tetapi warga ini lupa melakukan pembaruan tajdid dan ijtihad. Pada saat yang sama, banyak anggota Muhammadiyah yang ber”darah biru” sudah merasa puas dengan apa yang selama ini dicapkan kepadanya sebagai organisasi Islam yang mdern dan pembaru. Muncul kemudian rasa tersaingi oleh “pengikut” gerakan kemodernan Muhammadiyah ketika warga baru ini melakuakan aksi-aksi yang lebih kritis dan ijtihadi ketika mereka juga memiliki legalitas sebagai warga modern dengan gelar dan simbol-simbol modern.

Dulu, basis pengetahuan(terutama kitab kuning) nyai-nyai Muhammadiyah atau ‘Aisyiyah dengan nyai-nyai posantren (NU belum lahir) relative setara atau sama. Hingga 1980-an ‘Aisyiyah berada pada posisi di atas angin dibanding  nyai-nyai dan perempuan tradisional. Kini posisi itu tampak timpang ketika mulai manyak lulusan luar negeri dari kalangan tradisional, berkemampuan bahasa Arab dan inggris bagus, disertai pencarian identitas sosial agresif, walau kadang sekedar cari proyek, sementara’Aisyiyah terlalu jaga imej (jaim) mriyayeni terlalu nyufi (keren-nya), penuh aturan dan protokoler.

Banyak doktor dan professor perempuan tradisional yang membuat Muhammadiyah/ ’Aisyiyah seringkali cemas. Semestinya sikap demikian tidak perlu, karena realitas sosial pemeluk Islam Indonesia, diantarnya munculnya perempuan-perempuan dari kalangan tradisionalis itu adalah sebuah bukti lain dari keberhasilan Muhammadiyah dalam menyebarkan ide pembaruan. Soalnya bagi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah kini ialah apa yang baru dan menarik publik dari yang kini dilakukan dan dikembangkan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah? Apa semua fakta sosial tersebut kita sadari secara jernih, atau bahkan dilihat sebagai ancaman? Berdasarkan kesadaran tersebut apakah dikembangkan suatu strategi baru gerakan sehingga memenuhi hajat publik kotemporer seperti saat-saat awal kelahiran gerakan ini?

  1. Duet Kiai Dahlan dan Nyai Walidah.

Jauh sebelum isu kesetaraan gender atau feminism berkembang di tanah air ataupun di dunia, Kiai Ahmad Dahlan sudah bekerja untuk menempatkan kaum perempuan dalam posisi setara dengan pria dengan tugas berbeda. Perkumpulan khusus bagi kaum wanita dengan nama Sopotresno telah didirikan tahun 1914 selain pengajian Wal Asri beberapa tahun sebelumnya, ‘Aisyiyah secara resmi baru berdiri  tahun 1922, 8 tahun sesudah Sopotreno.

Kini posisi ‘Aisyiyah jauh lebih strategis ketika tokoh ortom ini berpeluang menjadi ketua PP Muhammadiyah, tetapi tidak sebaliknya bagi tokoh Muhammadiyah. Soalnya kemudian ialah bagaimana kita menangkap pesan etika sejarah dari berbagai kegiatan yang dahulu dikembangkan KH. Ahmad Dahlan. Demikian pula, bagaimana kita memahami basis epistemology yang mendasari pemahaman Kiai Ahmad Dahlan tehadap ayat-ayat al-Qur;an dan Sunnah Rasul, sehingga bisa menafsirkan surat al-Maun menjadi lembaga yatim piatu, suratal-Imran ayat 104 menjadi sebuah tata nilai dan sistim organisasi, dan yang mebuatnya bersedia “meniru” berbagai praktek sosial kaum kristiani dan kaum kolonialis, yang selama ini dituduh kafir, terutama dalam pendidikan, kesehatan dan kepanduan.

Di awal abad ke-20 dalam kultur dan sistim sosial negeri ini, mebiarkan wanita keluar rumah untuk urusan non domestic merupakan sesuatu yang menyebabkan keluarga dan suatu komunitas menerima aib yang tak gampang disembuhkan. Lebih-lebih ketika wanita itu pergi jauh dari rumah dan kampong tempat tinggal seperti yang dilakukan Siti Walidah (istri Kiai Dahlan) bertemu dengan beragam manusia di berbagai polosok Jawa.

Perlakuan Kiai Dahlan terhadap kaum wanita ketika itu merupakan praktik dari pemikiran dan pemahaman keagamaan yang bukan sekedar radikal, tetapi revolusioner dan menyimpang dari tatanan umum serta melanggar norma keagamaan yang dipahami dan dipegang teguh oleh umumnya masyarakat muslim di zaman itu. Eajar jika apa yang dilakukan Kiai Dahlan pada waktu itu dituduh sebagai prilaku kafir, agama baru, dan berbagai sebutan lain.

Posisi kaum perempuan dalam Muhammadiyah bisa dibaca dari antara lain daftar muballigh. Nama Siti Walidah (bukan dengan nama Nyai Dahlan) sering kali muncul dalam posisi sejajar dengan Kiai Dahlan. Siti Walidah menempati posisi pertama dalam daftar muballigh di awal-awal perkembangan Muhammadiyah, seperti halnya posisi Kiai Ahmad Dahlan. Demikian pula halnya dalam berbagai kegiatan sosial, seperti yatim piatu, rumah sakit, panti jompo, santunan pada anak jalanan, dan korban perang.

Prubahan radikal tatanan nilai tentang wanita yang dilakuan Kiai Dahlan menjadi lebih institusional ketika kaum wanita dimobilisasi memasuki dunia pendidikan modern. Dari sini mulai bermunculan mubaligh perempuan (muballighah). Namun, disaat yang sama, Kiai Dahlan pulalah yang mentradisikan pemakaian kerudung bagi kaum wanita yang belakangan merebak dalam tradisi atau model jilbab. Pertimbangan utama yang mendasari berbagai pemberontakan terhadap tradisi antara lain ialah kepentingan praktis dan pragmatis tentang peran kaum wanita bagi pertumbuhan kehidupan social yang sehat.

Tindakan Kiai Dahlan waktu itu didasri oleh strategi sejarah dan kebudayaan futuristik yang jauh melampaui kesadaran zamannya. Hampir satu abad kemudian, masyarakat muslim di negeri ini menyadari peran strategis kaum perempuan. Hal ini antara lain bisa dilihat dari kuota 30% bagi perempuan di lembaga legislative. Muhammadiyah khususnya Kiai Dahlan, mengembangkan berbagai kegiatan social seperti bagi kaum wanita bukan semata-mata bagi warga Muhammadiyah, tetapi juga bagi kaum perempuan muslim dan perempuan lainnya. Dunia harus mengakui jasa Muhammadiyah menggerakan kesadaran masyarakat sehingga mereka yang anti Muhammadiyah pun kini merasa penting memasukkan anak-anak perempuan mereka keberbagai lembaga pendidikan modern.

Sayangnya, pesan etika perubahan tersebut kurang ditangkap oleh Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah itu sendiri, sehingga belakangan organisasi ini kurang responsive melibatkan diri dalam pemecahan berbagai persoalan kontemporer. Hal itu disebkan Muhammadiyah menghadapi apa yang sering saya sebut ideologisasi tradisi yang berkembang dalam gerakan ini. Persoalan ini memang tidak mudah ketika Islam mutlak benar dan sempurna itu dipahami dari tafsir-tafsir Islam yang cenderung patrialkhal. Kaum perempuan menerima tafsir-tafsir “anti wanita” tersebut sebagai hal yang sudah semestinya (Mulkhan, 2014).

Kini, kaum wanita telah berada di tengah pusaran peradaban modern dan global dengan segala dampak kebudayaan yang hamper-hampir tak terbendung. Kita tidak bisa hanya menolak praktik-praktik tak bermoral dan pelanggaran doktrin ajaran Islam, namun yang lebih diperlukan ialah bagaimana Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah merancang sebuah peradaban futuristik yang bisa menjadi pemandu umat dalam menghadapi perubaha global yang terbuka, hedonis,  dan yang mungkin cenderung bar-bar. Perlu penafsiran baru yang mungkin bisa disebut liberal seperti yang pernah dilakukan oleh Kiai Ahmad Dahlan dan istrinya., Siti Walidah, namun untuk itu Muhammadiyah dan’Aisyiyah harus bersedia menerima cemoohan seperti dulu dialami oleh duet Kiai Ahmad Dahlan dan Siti Walidah.

Sumber :

AIK III; Kemuhammadiyahan:  Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun 2016.

Older Posts »

Kategori

%d blogger menyukai ini: