Oleh: subair | Mei 16, 2018

AKHLAK


PENGERTIAN AKHLAQ, ETIKA, MORAL, DAN SUSILA

Akhlaq

Akhlaq secara etimologi merupakan bentuk jamak dari khulq  artinya perangai, tabiat, pekerti. Sedang secara terminologi akhlak adalah kemampuan/kondisi jiwa yang merupakan sumber dari segala kegiatan manusia yang dilakukan secara spontan tanpa pemikiran. Akhlaq terbentuk dari latihan dan praktek berulang (pembiasaan). Sehingga jika sudah menjadi akhlaq tidak mudah dihapus.

Akhlaq memiliki kedudukan utama, bahkan menjadi puncak kesempurnaan manusia. Ibn Miskawaih mengatakan bahwa akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Imam Al Ghazali mendefinisikan akhlaq sebagai sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Mu’jam al Wasith, Ibrahim Anis mengatakan bahwa akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.

Dalam kitab Dairatul Ma’arif secara singkat akhlaq diartikan sifat-sifat manusia yang terdidik. Akhlaq memiliki cakupan yang luas, yaitu mencakup hubungan kepada Sang Pencipta (Allah), sesama manusia, terhadap diri sendiri, maupun dengan lingkungan atau sesama makhluk Tuhan yang lain. Akhlaq dalam Islam tidak lepas dan terkait erat dengan aqidah dan syariah,ia merupakan buah dan sekaligus puncak dari keduanya. Akhlaq menekankan keutamaan, nilai-nilai, kemulian dan kesucian (hati dan perilaku), Akhlaq Islami harus diupayakan agar menjadi sistem nilai(etika/moral) yang mendasari budaya masyarakat. Akhlaq yang baik berpangkal dari ketaqwaan kepada Allah dimanapun berada. Selain itu akhlaq yang baik merupakan manifestasi dari kemampuan menahan hawa nafsu dan adanya rasa malu. Agar kita senantiasa berakhlaq baik maka harus selalu menimbang perbuatan dengan hati nurani yang bersih. Salah satu tanda atau ciri akhlaq yang baik yaitu mendatangkan ketenangan jiwa dan kebahagiaan pelakunya. Tapi sebaliknya jika mendatangkan keraguan, kecemasan dan “ingin tidak diketahui orang lain” merupakan isyarat akhlaq yang buruk. Banyak sekali akhlaq mulia (akhlaqul karimah) yang harus menjadi hiasan seorang muslim, demikian juga banyak akhlaq buruk (akhlaqul madzmumah) yang harus dihindari.

Etika

Secara etimologi, etika berasal dari bahasa Yunani, ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat. Dalam KBBI etika diartikan ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlaq (moral). Secara terminologi, etika mempunyai banyak ungkapan yang semuanya itu tergantung pada sudut pandang masing-masing ahli. Ahmad Amin mengartikan etika sebagai ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat. Soegarda Poerbakawatja mengartikan etika sebagai filsafat nilai, kesusilaan tentang baik-buruk, serta berusaha mempelajari nilai-nilai dan merupakan juga nilai-nilai itu sendiri. Ki Hajar Dewantara menjelaskan etika merupakan ilmu yang mempelajari soal kebaikan (dan keburukan) di dalam hidup manusia semuanya, teristimewa yang mengenai gerak gerik pikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan sampai mengenai tujuan yang dapat merupakan perbuatan. Austin Fogothey (seperti yang dikutip Ahmad Charris Zubair) mengatakan bahwa etika berhubungan dengan seluruh ilmu pengetahuan tentang manusia dan masyarakat sebagi antropologi, psikologi, sosiologi, ekonomi, ilmu politik dan hukum.

Frankena (seperti juga dikutip Ahmad Charris Zubair) menyatakan bahwa etika sebagi cabang filsafat, yaitu filsafat moral atau pemikiran filsafat tentang moralitas, problem moral, dan pertimbangan moral. Dalam  Encyclopedia Britanica, etika dinyatakan sebagai filsafat moral, yaitu studi yang sistematik mengenai sifat dasar dan konsep-konsep nilai baik, buruk, harus, benar, salah dan sebagainya. Dari beberapa definisi tersebut, etika berhubungan erat dengan empat hal:

  1. Dilihat dari obyek formal (pembahasannya), etika berupaya membahas perbuatan yang dilakukan manusia. Dan sebagai obyek materialnya adalah manusia.
  2. Dilihat dari sumbernya, etika bersumber pada akal pikiran atau filsafat. Sebagai hasil pemikiran maka etika tidak bersifat mutlak, absolut, dan universa. Akan tetapi terbatas, dapat berubah, memiliki kekurangan, kelebihan, dan sebagainya.
  3. Dilihat dari fungsinya, etika berfungsi sebagi penilai, penentu dan penetap terhadap suatu perbuatan yang dilakukan manusia, yaitu apakah perbuatan itu akan dinilai baik, buruk, mulia, terhormat, hina dan sebagainya. dengan demikian etika lebih berperan sebagi konseptor terhadap sejumlah perilaku yang dilakukan manusia.
  4. Dilihat dari segi sifatnya, etika bersifat relatif yakni dapat berubah-ubah sesuai dengan tuntutan zaman. Dengan ciri-cirinya yang demikian itu, etika lebih merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang dilakukan manusia untuk dikatakan baik atau buruk.

Berbagai pemikiran yang dilakukan para filsof barat mengenai perbuatan yang baik atau buruk dapat dikelompokkan kepada pemikiran etika, karena berasal dari hasil berpikir. Dengan demikian etika bersifat humanistis dan anthropocentris, yakni berdasarkan pada pemikiran manusia dan diarahkan pada manusia. Dengan kata lain etika adalah aturan atau pola tingkah laku yang dihasilkan oleh akal manusia.

Demikian juga, dikenal istilah etiket. Etika dan etiket kerap kali dicampuradukkan. Padahal perbedaan di antaranya sangat hakiki. Etika disini berarti moral dan etiket berarti sopan santun. Meskipun memiliki perbedaan ada juga  persamaan. Persamaan itu adalah:

Pertama etika dan etiket menyangkut perilaku manusia. Kedua istilah tersebut hanya diperuntukkan mengenai hal ihwal manusia.

Kedua, baik etika maupun etiket mengatur perilaku manusia secara normative artinya memberi norma bagi perilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Namun demikian  ada beberapa perbedaan sangat penting antara etika dan etiket. Diantara perbedaan tersebut adalah:

Etiket menyangkut cara suatu perbuatan yang harus dilakukan manusia. Tetapi etika tidak terbatas pada cara dilakukannya sesuatu perbuuatan; etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etiket hanya berlaku dalam pergaulan. Bila tidak ada orang lain hadir atau tidak ada saksi mata, maka etiket tidak berlaku. Sebaliknya, etika selalu berlaku, juga kalau tidak ada saksi mata. Etika tidak tergantung pada hadir tidaknya orang lain. Adapun Istilah adab dapat disamakan dengan istilah etiket. Sementara akhlak berasal dari bentuk jamak bahasa Arab khuluq yang berarti suatu sifat permanen pada diri orang yang melahirkan perbuatan secara mudah tanpa membutuhkan proses berpikir. Definisi lain dari akhlak adalah sekumpulan nilai-nilai yang menjadi pedoman berperilaku dan berbuat Akhlak juga secara singkat diartikan sebagai budi pekerti atau perangai. Jadi bisa disimpulkan bahwa etika merupakan ilmu moral/ilmu akhlaq yang mengindikasikan hal-hal pra tindakan yang berupa pengetahuan serta pemikiran tentang hal/tindakan baik dan buruk. Sedangkan etiket dan adab merupakan pengejawantahan praktis dari etika, moral dan akhlak.

Moral

Dari segi bahasa moral berasal dari bahasa Latin, mores (jamak dari kata mos) yang berarti adat kebiasaan. Dalam KBBI dikatakan bahwa moral adalah penentuan baik-buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Secara istilah moral merupakan istilah yang digunakan uantuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik, atau buruk. Di dalam buku The Advanced Leaner’s Dictionary of Current  English moral mengandung pengertian:

  1. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan benar dan salah, baik dan buruk.
  2. Kemampuan untuk memahami perbedaan antara benar dan salah.
  3. Ajaran atau gambaran tingkah laku yang baik

Berdasarkan kutipan tersebut, dapat dipahami bahwa moral adalah istilah yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktivitas manusia dengan nilai (ketentuan) baik atau buruk, benar atau salah. Jika dalam kehidupan sehari-hari dikatakan bahwa orang tersebut bermoral, maka yang dimaksudkan adalah bahwa orang tersebut tingkah lakunya baik.

 Susila

Secara bahasa kesusilaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu susila yang mendapat tambahan ke-an. Su berarti baik, bagus dan sila berarti dasar, prinsip, peraturan hidup atau norma. Susila juga dapat berarti sopan beradab, baik budi bahasanya. Sehingga kesusilaan berarti kesopanan. Dengan demikian kesusilaan lebih mengacu pada upaya membimbing, memandu, mengarahkan, membiasakan dan memasyarakatkan hidup yang sesuai dengan norma atau nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Kesusilaan menggambarkan keadaan di mana orang selalu menerapkan nilai-nilai yang dipandang baik.

PERSAMAAN-PERSAMAAN

Diantara akhlaq, etika, moral, dan susila persamaannya adalah :

  1. Memiliki obyek yang sama, yaitu sebagai obyek materialnya adalah manusia dan sebagai obyek formalnya adalah perbuatan manusia yang kemudian ditentukan posisinya apakah baik atau buruk.
  2. Memiliki fungsi yang sama dalam menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan yang dilakukan manusia untuk ditentukan baik-buruknya.
  3. Memiliki tujuan yang sama-sama menghendaki terciptanya keadaan masyarakat yang baik, teratur, aman, damai, dan tenteram sehingga sejahtera batiniah dan lahiriah.

PERBEDAAN-PERBEDAAN

Dalam etika, untuk menentukan nilai perbuatan manusia baik atau buruk menggunakan tolok ukur akal pikiran atau rasio, sedangkan dalam moral dan susila menggunakan tolok ukur norma-norma yang tumbuh dan berkembang dan berlangsung dalam masyarakat (adat istiadat), dan dalam akhlaq menggunakan ukuran Al Qur’an dan Al Hadis untuk menentukan baik-buruknya. Dalam hal ini etika lebih bersifat pemikiran filosofis dan berada dalam dataran konsep-konsep (bersifat teoretis), sedangkan moral berada dalam dataran realitas dan muncul dalam tingkah laku yang berkembang dimasyarakat (bersifat praktis). Etika dipakai untuk pengkajian system nilai yang ada, sedangkan moral dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai. Etika memandang tingkah laku manusia secara umum, tapi moral dan susila lebih bersifat local dan individual.

Akhlaq yang berdasarkan pada Al Qur’an dan Al Hadis maka akhlaq bersifat mutlak, absolut, dan tidak dapat diubah. Sementara etika, moral, dan susila berdasar pada sesuatu yang berasal dari manusia maka lebih bersifat terbatas dan dapat berubah sesuai tuntutan zaman

Sumber- Sumber Akhlak Menurut Agama Islam

Akhlak sebagaimana juga aqidah dan syariah mempunyai nilai-nilai tersendiri, meskipun demikian dia tidak berdiri sendiri tetapi saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Garis-garis akhlak dalam Islam mengandung pokok­-pokoknya saja ia terdiri dari dua, yaitu: “Akhlak sesama makhluk dan akhlak makhluk dengan Khaliknya. Akhlak terhadap makhluk ini juga terbagi kepada akhlak terhadap diri sendiri, masyarakat dan tetangga, serta akhlak terhdap sesama manusia (flora dan fauna)”.

Dari penjelasan diatas bahwa manusia selalu memperhatikan dirinya, dan senantiasa bersama untuk menyelamatkan serta memelihara hidupnya agar tetap aman dan bahagia. Berdasarkan reality inilah manusia memenuhi berbagai kebutuhan hidup guna mencapai bahagia dan rasa aman. Kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak mungkin akan tercapai dan dipenuhi dengan cara hidup sendiri untuk ini ia memerlukan relasi atau hubungan (interaksi) dengan manusia lainnya. Dengan demikian selain sebagai makhluk individu, manusia disebut juga sebagai makhluk sosial, karena itu muncul suatu sifat dan pengertian dan saling memenuhi kewajiban untuk tidak merugikan orang lain. Hal di atas sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al- Qashash  ayat 77  yang  berbunyi sebagai berikut:

وابتغ فيما اتك الله الدارالاخرةولاتنس نصيبك من الد نيا واحسن كما ا حسن ا لله ا لياك ولا تبخ دفي الارض ان الله لا يحب المفسدين (القصص :77)

Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah di anugrahkan Allah kepadmu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan dimuka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al-Qashash: 77).

Berdasarkan ayat tersebut, maka dapat dipahami bahwa manusia disamping statusnya sebagai makhluk sosial, dia juga merupakan seorang hamba Allah SWT yang dituntut senantiasa untuk beribadah kepada-Nya. Dengan kata lain dalam hidupnya ini manusia dituntut untuk menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat, serta wajib berakhlak kepada penciptanya, kepada sesame manusia bahkan kepada alam semesta ini. Imam Al-Ghazali memberi pedoman atau acuan yang dapat dijadikan sebagai rujukan untuk diteladani sebagai berikut:

Pentingnya hubungan akhlak dengan iman, dan iman adalah kaedah yang benar, iman sebagai dasar segala kebaikan dan kebenaran didunia serta keselamatan di akhirat. Masalah akhlak tidak kalah pentingnya dari amalan yang lain, dalam pembinaan harus dapat petunjuk serta nasehat-nasehat secara terus menerus agar dapat meresap dalam hati dan merekat dalam ingatannya, hingga menjadi keyakinan bahwa iman, kebaikan dan akhlak adalah unsur-unsur yang erat kaitanya, tidak boleh dipisahkan satu dengan lainnya.

Dalam sebuah Hadist Rasullullah SAW bersabda:

عن ابي هريرةرضي الله عنه ان ر سو ل الله صل ا لله عليه و سام قال: ا كمل ا لمؤ مين ا يمانا ا حسنم خالقا (رواه البيهقي)

Artinya: “Dari Abu Hurairah.ra. Bahwasanya Rasullullah bersabda: Sebaik­baiknya iman orang mukmin yang baik adalah akhlaknya”. (HR. Baihaqi).

Dari sabda Nabi diatas, dapat dipahami bahwa manusia yang mempunyai akhlak yang baik akan senantiasa dihargai dan dihormati oleh orang lain maka sebaliknya orang yang mempunyai akhlak yang jahat dia akan dibenci dan tidak akan disukai dalam masyarakat. Sebagaimana dipahami bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang paling sempurna susunannya bila dibandingkan dengan makhluk yang lain.

Dengan segala unsur yang ada, manusia mempunyai bakat atau potensi untuk meningkatkan statusnya ke taraf yang lebih mulia, apabila potensi itu dikembangan dan dipergunakan sesuai pada tempatnya. Sebagaimana firman Allah dalam Surat At-Tin ayat 4 sebagai berikut:

لكد خلكنا الانسا ن في احسن تقويم (التين :4)

Artinya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik­baiknya. (Q.S. At-Tin: 4).

Dari pengertian ayat diatas membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna diciptakan oleh Allah SWT bila dibandingkan dengan makhluk yang lain. Meskipun demikian manusia juga mempunyai kecendrungan kearah martabat yang lebih rendah, yaitu hewan. Bahkan lebih rendah lagi, apabila manusia tidak memelihara dan tidak menggunakan potensi jasmaniah dan rohaniah sesuai dengan petunjuk yang sudah Allah berikan.

Dari uraian diatas dapat dibuat kesimpulan bahwa, dasar-dasar pembinaan akhlak telah digariskan dalam firman Allah dan hadist Rasullullah SAW. Manusia sebagai makhluk yang paling sernpurna mempunyai potensi untuk lebih mulia dan juga memungkinkan menjadi makhluk yang paling hina. Kedua hal tersebut ditentukan oleh akhlak manusia itu sendiri. Jika manusia itu memiliki akhlak yang mulia maka ia dapat mengangkat martabatnya keposisi yang lebih tinggi di hadapan Allah SWT, namun jika seorang manusia mempunyai akhlak yang buruk, maka ia telah merendahkan martabatnya melebihi dari posisi binatang yang paling hina.

Oleh sebab itu maka umat Islam harus melandaskan sikap dan tingkah lakunya kepada Al-Qur’an dan meneladani akhlak Rasullullah SAW agar mereka dapat hidup bahagia didunia dan akhirat. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber akhlak. Sumber akhlak dalam al-qur’an tercermin dalam sikap dan perilaku Nabi SAW.

Akhlak Sebagai Modal Sosial Bagi Keberhasilan Hidup Seseorang

“Dan tujuan akhir dari akhlak, yaitu memutuskan diri kita dari cinta kepada dunia, dan menancapkan dalam diri kita cinta kepada Allah SWT. Maka, tidak ada lagi sesuatu yang dicintai selain berjumpa dengan dzat ilahi rabbi, dan tidak menggunakan semua hartanya kecuali karenanya…”

 Jelaslah, al-Ghazāli menempatkan kebahagiaan jiwa manusia sebagai tujuan akhir dan kesempurnaan dari akhlak. Kebahagiaan tertinggi dari jiwa berarti mengenal adanya Allah tanpa keraguan ( ma’rifatullah).

Allah merupakan sumber cinta dalam manusia dan kebenaran yang memuaskan rohani. Implikasi etis, jiwa manusia meninggalkan segala hal duniawi supaya mengalami kebahagiaan jiwa. Manusia yang berpegang pada prinsip akhlak akan mengupayakan hidupnya secara bijak. Semua perbuatannya/amalnya diyakini keterarahan kepada Allah yang telah menanamkan segala yang baik dalam ciptaan. Dengan keseimbangan jiwanya, ia tidak membiarkan diri hanyut akan hal-hal bersifat material sejauh hal itu bisa menambah kesempurnaan akhlak.

Kebahagiaan itu diyakini mampu diwujudkan dalam keutamaan-keutamaan hidup. Jalan keutamaan itu sendiri perlu dilatihkan dan diterangi dengan prinsip akhlak di mana terjadi perpaduan anugerah Tuhan dan rasionalitas manusia untuk terarah pada kebaikan moral. Bahkan, dalam daya jiwa difokuskan suatu perbuatan mesti diorientasikan pada tindakan yang mengarah pada keadilan dan memandang kebebasan mutlak setiap individu.

Iklan
Oleh: subair | April 4, 2018

HAJI


Firman Allah Ta’ala di Qur’an surat Ali Imron (3) ayat 96 – 97:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran: 96)

فِيهِ ءَايَٰتٌۢ بَيِّنَٰتٌۭ مَّقَامُ إِبْرَٰهِيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنًۭا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَا عَ إِلَيْهِ سَبِيلًۭا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِ نَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ

فِيهِ ءَايَٰتٌۢ بَيِّنَٰتٌۭ مَّقَامُ إِبْرَٰهِيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنًۭا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَا عَ إِلَيْهِ سَبِيلًۭا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِ نَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (QS. Ali Imran: 97).

 Firman Allah Ta’ala di Qur’an surat Al Baqarah (2) ayat 196 – 197:

وَأَتِمُّواْ الْحَجَّوَ الْعُمْرَ ةَ لِلّهِفَإِ نْأُ حْصِرْ تُمْفَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَا لْهَدْ يِوَلاَ تَحْلِقُواْ رُؤُ و سَكُمْحَتَّى يَبْلُغَالْهَدْ يُمَحِلَّهُفَمَن كَا نَمِنكُممَّرِ يضاًأَوْ بِهِأَذًى مِّنرَّ أْسِهِفَفِدْيَةٌ مِّن صِيَامٍأَوْصَدَقَةٍأَوْ نُسُكٍفَإِذَا أَمِنتُمْفَمَنتَمَتَّعَبِا لْعُمْرَةِ إِلَىالْحَجِّفَمَا اسْتَيْسَرَمِنَ الْهَدْيِفَمَن لَّمْيَجِدْفَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍفِيا لْحَجِّوَسَبْعَةٍ إِذَ ارَ جَعْتُمْتِلْكَعَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ذَلِكَلِمَن لَّمْيَكُنْأَ هْلُهُ حَا ضِرِ يا لْمَسْجِدِ الْحَرَامِوَاتَّقُواْ اللّهَوَاعْلَمُواْ أَنَّاللّهَ شَدِ يدُ الْعِقَا بِ

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) kurban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu sebelum kurban sampai ke tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu dia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu berpuasa, atau bersedekah, atau berkurban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan Haji), (wajiblah dia menyembelih) kurban yang mudah didapat. Tetapi jika dia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekkah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketauhilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS. Al-Baqarah:196)

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّـقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الألْبَـابِ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al Baqarah:197).

 Firman Allah Ta’ala di Qur’an surat Al Hajj (22) ayat 96 – 97:

وَأَذِّنْ فِي النَّـاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيـقٍ

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepAdamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,” (QS. Al-Hajj : 27)

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُـمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَـائِسَ الْفَقِير

“supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (QS. Al-Hajj : 28)

  1. HAKEKAT HAJI

 Menurut para ahli Tasauf, Haji bukan mutlak punya agama Islam, karena sebelum Nabi Muhammad, Nabi-Nabi yang terdahulu juga melakukan haji, disini haji mempunyai arti sebagai napak tilas atau mengenang kembali perjalanan manusia (diri kita) pada masa lalu yaitu Napak tilas untuk mengenang pertemuan Nabi Adam dengan Siti Hawa, diceritakan Siti Hawa berjumpa kembali dengan Nabi Adam di bukit Safa dan Marwa semenjak mereka diturunkan dari surga, kemudian setelah berjumpa Siti Hawa meminta kepada Nabi Adam untuk mengulang saat-saat mereka menikmati kenikmatan berada di surga dulu maka diajaklah ke bukit Rahman yang ada di padang Arafah dan seterusnya, dan seterusnya. Napak tilas untuk mengenang pertemuan kita dengan saudara rahasia kita di dalam kandungan ibu (alam shagir), karena dulu kita bersama saudara rahasia kita saling kenal, bermain bersama, tapi semenjak putus tali silaturahim (digunting tali pusar waktu kita bayi) maka saudara rahasia kita menjadi gaib, tapi saat-saat terakhir sebelum kita akan hadir dimuka bumi saudara rahasia kita mengajak kita untuk mengenali tempat-tempat dimana kita bisa berjumpa kembali dengannya, inilah yang mau kita buktikan disana. Napak tilas isra miraj Nabi Muhammad mulai dari madinatul munawarah, makatul mukarramah, aqsatul mukasSafa, baitul atik, baitul muqadis, baitul arsila sampai ke arash bertemu dengan Allah hingga balik lagi ke madinatul munawarrah atau kalau dalam dimensi yang lain kita sendiri pernah melakukan miraj makrifatullah di alam kandungan bapak (alam gaib) dan miraj awal di alam kandungan ibu (alam shagir) ini yang mau kita ulangi lagi disana.

Inilah hakekat dari haji, oleh karenanya wajib bagi kita untuk mempelajari ilmu ini sebelum melakukan pembuktian disana dan belajarlah pada guru-guru yang mursyid dan berpengalaman karena mereka bisa melintasi jarak dan waktu untuk sampai kesana (bukan belajar manasik haji)

Sebagaimana kita ketahui haji di wajibkan bagi yang mampu (menguasai ilmunya) ini adalah panggilan (undangan) dan siapa-siapa yang diundang harus bertemu dengan orang yang mengundang.

Disana disebut sebagai tanah haram karena itu hakekat dari NYAWA = BAQA = AKHIRAT, dalam dimensi ini apa saja yang gaib bisa terlihat, akhirat mempunyai arti “PEMBALASAN” untuk pensucian diri, inilah kampung akhirat, disinilah rumah kita (baitullah), Sedangkan diluar tanah itu disebut tanah halal JASAD = FANA = DUNIA.

Rukun haji seperti, tawaf, sa’i, wukuf, ada dalam diri manusia, begitu juga baitullah, hajar aswat, dll sudah tersedia dalam diri tinggal kita menggunakan saja, yang bisa menggunakan hanya orang yang sudah berumah tangga oleh karenanya rumah tangga disebut haji kecil. Mengapa orang yang belum berumah tangga jika ke haji disebut haji sunah? Mengapa wanita tidak di haruskan mencium hajar aswat? Ini menunjukan kesamaan maksud dari rukun haji dengan pelaksanaan dalam berumah tangga,

Yang membedakan haji dengan umroh adalah wukuf, karena inti haji ada di wukuf, dalam wukuf ada hal yang maha penting yang akan terjadi, tapi ini hanya bisa di dapat bagi mereka yang sudah maqom atau yang memang mendapatkan hidayah untuk bisa menyaksikannya. Dari kata Arafah (mengenal) mengisaratkan ditempat ini kita akan mengenal, bertemu dengan tuan rumah yang telah mengundang kita untuk hadir

Baitullah selama 24 jam setiap harinya tidak pernah sepi dari orang-orang yang bertawaf, sekali dalam setahun yaitu pada tanggal 9 dzulhijjah diarahkan semua orang untuk menuju ke padang Arafah meninggalkan baitullah, pada kesempatan ini dimanfaatkan untuk mengganti kiswah, sementara mereka yang di Arafah duduk-duduk mulai dari fajar hingga petang, di atas padang Arafah ada jabal Rahman (bapak) yang di atas bukit ada tugu besar putih (kelamin laki-laki) mengarah ke jabal rahim baitullah yang sedang di buka bajunya (kiswah) dalam baitullah ada hajar aswat (kelamin perempuan) dan seterusnya. Hal-hal ini kita kaitkan dengan hubungan badan.

Nabi mengatakan “haji = wukuf di Arafah” selalu tanggal 9 dzulhijjah, semua disuruh duduk (menunggu) tuan rumah mau datang, siapa yang bisa menemukan, “AKU SEMBUNYI DITEMPAT YANG TERANG” jam 12 tengah Matahari persis diatas kepala, panas tak terkira, semua di perintah untuk masuk ke tenda… Sekejap saja … disini anugrah itu diberikan …. Nikmat … nikmatnya penyaksian.. tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Menurut Ali Syari’ati, pakaian adalah lambang status yang dapat memicu sikap diskriminasi, keakuan, dan keegoisan. Pakaian telah memecah belah anak-anak keturunan Adam, karena itu, kata Ali Syari’ati, pakaian model ibadah ihram bukanlah penghinaan tetapi penggambaran kualitas manusia di hadapan Tuhan. Pakaian ihrom telah menuntun manusia untuk mengubur pandangan yang mengukur keunggulan karena kelas, status, kedudukan, dan ras.

Thowaf merupakan kegiatan ibadah mengelilingi Kabah. Di hadapan Ka’bah yang berbentuk kubus ini, kata Ali Syari’ati, para pelaku thowaf akan merenungkan keunikan Ka’bah yang menghadap ke segala arah, yang melambangkan universalitas dan kemutlakan Tuhan; suatu sifat Tuhan yang tidak berpihak tetapi merahmati seluruh alam (Q. S. 106: 21). Dengan thowaf, umat manusia dididik aktif bergaul menjaring komunikasi dengan Tuhan dan antar manusia (Q. S. 112: 2).

Berbicara mengenai Sa’i, Ali Syari’ati melambangkan sa’i dengan kegigihan dan keperkasaan manusia dalam menempuh perjuangan hidup. Sai yang merupakan rekonstruksi peristiwa Siti Hajar mencari air Zamzam dari Bukit Shafa menuju Marwa, merupakan lambang figur manusia yang berjuang dari niat yang tulus (shafa), tanpa patah semangat mencapai tujuan (Marwa).

Selanjutnya, setiap calon haji diharuskan untuk  berwuquf di Arofah. Arofah merupakan sebuah padang yang luas. Di tempat ini manusia singgah sebentar (wukuf). Lalu bermalam (mabit) di Muzdalifah dan tinggal di Mina. Arafah berarti pengetahuan dan Mina artinya cinta. Setelah wukuf di Arafah, para jamaah menuju ke Muzdalifah untuk mabit.

Wukuf dilakukan pada siang hari, sementara mabit pada malam hari. Siang, demikian Syari’ati, melambangkan sebuah hubungan objektif ide-ide dengan fakta yang ada, sedangkan malam melambangkan tahap kesadaran diri dengan lebih banyak melakukan konsentrasi di keheningan malam. Kemudian di Mina, jamaah melempar Jumrah. Ini merupakan lambang perlawanan manusia melawan penindasan dan kebiadaban. Demikianlah makna ritualitas haji yang penuh dengan simbol kejuangan hidup manusia.

Dalam suatu hadits Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang pergi haji dan dia tidak mengeluarkan kata-kata keji serta tidak melakukan perbuatan dosa, maka akan diampunkan dosa-dosanya seperti dia baru dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i, Ibnu Majah dan at-Tirmizi daripada Abu Hurairah).

Selain daripada hadits diatas, doa orang yang melaksanakan ibadah haji dapat mengampunkan dosa orang yang didoakannya. Artinya, haji itu menjadi alat untuk mengampunkan dosa dan mengampunkan dosa orang lain. Hal ini dinyatakan langsung oleh Rasulullah dalam sabdanya: “Dosa orang yang menunaikan ibadah haji diampunkan Allah, dan Allah juga mengampunkan orang yang didoakan oleh orang yang menunaikan ibadah haji.” (HR. Tabrani dan Hakim).

Pada hakikatnya, haji adalah proses evolusi manusia menuju Allah. Ibadah haji merupakan sebuah demonstrasi simbolis dan falsafah penciptaan Adam. Gambaran selanjutnya, pelaksanaan ibadah haji dapat dikatakan sebagai suatu pertunjukan banyak hal secara serempak. Ibadah haji adalah sebuah pertunjukan tentang ‘penciptaan’, ‘sejarah’, ‘keesaan’, ‘ideologi Islam’, dan ‘ummah’.

Haji  merupakan kepulangan manusia kepada Allah SWT yang mutlak, yang tidak memiliki keterbatasan dan yang tidak dipadankan oleh sesuatu apapun. Kepulangan kepada Allah merupakan gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai, dan fakta-fakta.

Dengan melakukan perjalanan menuju keabadian ini, tujuan manusia bukanlah untuk binasa, tetapi untuk hidup dan berkembang. Tujuan ini bukan untuk Allah, tetapi untuk mendekatkan diri kita kepada-Nya. Makna-makna tersebut dipraktikkan dalam pelaksanaan ibadah haji, dalam acara-acara ritual, atau dalam tuntunan non ritualnya, dalam bentuk kewajiban atau larangan, nyata atau simbolik.

Semua ini, pada akhirnya akan mengantarkan seorang haji hidup dengan pengamalan dan nilai kemanusiaan universal.  Dalam konteks niat sambil menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram, haji memiliki makna yang lebih universal dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Haji juga perhimpunan agung sesama Muslim dari berbagai penjuru dunia. Mereka melaksanakan ibadah yang sama menghadap ke arah kiblat yang sama. Keadaan seperti ini akan menimbulkan sikap perpaduan serta persaudaraan. Jamaah haji pergi menuju Mekkah dengan hanya berbekal barang-barang terbatas. Di tanah air masing-masing mereka memiliki keluarga, rumah, kendaraan, kebun, ladang dan sebagainya. Tetapi, ketika pergi haji, semua itu mereka tinggalkan. Mereka pergi dengan hanya berbekal beberapa helai pakaian dan keperluan tertentu.  Ini adalah gambaran kecil bahwa ketika meninggalkan alam ini, manusia tidak akan membawa apa-apa. Meninggalkan sanak saudara. Harta benda menjadi hak ahli waris yang ditinggalkan. Hanya iman dan amal yang menjadi bekal dalam menghadapi perjalanan panjang di akhirat. Pada waktu memakai kain ihram, jemaah haji hanya memakai dua helai kain putih sebagai penutup badan dan pelindung pada waktu panas dan dingin. Mereka dilarang memakai pakaian berjahit. Tidak melihat yang kaya atau miskin, jenderal maupun presiden, mereka tetap memakai pakaian yang sama.

Antara hikmah yang tersimpan daripada pakaian ihram adalah persamaan. Pada mata Allah tidak ada perbedaan antara seorang hamba dengan hamba yang lain. Tidak ada perbedaan antara seorang Raja dengan rakyat jelata, tidak beda antara Jenderal dengan Kopral dll. Hanya takwa yang menjadi pemisah dan pembeda, seperti firman-Nya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah mereka yang paling bertakwa.” (Qs. Al-Hujuraat :13). Di samping itu, ihram menjadi gambaran bahwa pada saat meninggalkan alam fana ini, meskipun memiliki pakaian, bahkan harta yang banyak, yang dipakai hanya beberapa lapis kain kafan sebagai penutup badan ketika berada dalam kubur.

Di tempat Miqot, tempat ritual ibadah haji dimulai dengan niat, perbedaan-perbedaan status sosial dan lain sebagainya  tersebut harus ditanggalkan. Semua harus memakai pakaian yang sama. Pengaruh-pengaruh psikologis dari pakaian harus ditanggalkan. Semua merasa dalam satu kesatuan dan persamaan. Di Miqot ini, apapun ras dan suku harus dilepaskan. Semua pakaian yang dikenakan sehari-hari yang membedakan sebagai serigala (yang melambangkan kekejaman dan penindasan), tikus (yang melambangkan kelicikan), anjing (yang melambangkan tipu daya), atau domba (yang melambangkan penghambaan) harus ditinggalkan. Dengan hanya mengenakan dua helai pakaian berwarna putih, sebagaimana yang akan membalut tubuh manusia ketika ia mengakhiri perjalanan hidup di dunia ini, seorang yang melaksanakan ibadah haji akan merasakan jiwanya dipengaruhi oleh pakaian ini.  Seorang yang berihram akan merasakan kelemahan dan keterbatasannya, serta pertanggungjawaban yang akan ditunaikannya kelak di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Selepas ihrom, melaksanakan thawaf. Di Baitullah ini kita menjadi tamu Allah SWT. Thawaf merupakan sarana pertemuan kita sebagai tamu dengan Sang Kholiq, dengan mengelilingi ka’bah disertai dengan dzikir dan berdoa dengan khusuk. Ka’bah menjadi pusaran dan pusat peribadatan kita kehadirat Allah SWT, karena thawaf identik dengan sholat dimana kita berkomunikasi secara langsung dengan Allah SWT.

Putaran thawaf sebanyak 7 kali merefleksikan rotasi bumi terhadap matahari yang menandai putaran terjadinya kisaran waktu, siang dan malam, yang menunjukkan waktu, hari, bulan dan tahun. Thawaf (mengelilingi Ka’bah), menurut Ali Syari’ati adalah subsistem ritual haji yang menggambarkan penjabaran tauhid dengan simbol Ka’bah sebagai pusat konsistensi dan kekokohan. Ka’bah adalah simbol Tuhan dan lautan manusia di sekelilingnya adalah simbol aktivisme umat manusia. Keduanya (Ka’bah dan manusia) berjarak tetapi tidak dapat berpisah. Dalam gemuruh thawaf, komunitas umat manusia disatukan dalam pola yang sama dan sederajat.

Warna pakaian dan polanya sama. Di dalamnya tidak ada identifikasi individual; tidak dapat membedakan yang perempuan dan laki-laki, berkulit hitam dan berkulit putih, berbadan besar dan berbadan kecil. Inilah transformasi seoarang manusia menjadi totalitas umat manusia. Semua “aku” bersatu menjadi “kita” yang merupakan “ummah” dengan tujuan sama; menghampiri Allah. Di luar Ka’bah seoarang manusia dikenal dengan nama, bangsa, atau rasnya. Tetapi ketika berada di Ka’bah ciri-ciri tersebut digantikan dengan konsep totalitas dan universalitas. Jadi yang melakukan thawaf adalah “orang-orang” yang mewakili “keseluruhan umat manusia”. Aktivitas thawaf dengan demikian, mewartakan bahwa di mata Allah, perbedaan duniawi tidaklah berarti. Pluralitas baru akan dirasakan hikmahnya justru ketika berada dalam kebersamaan yang padu dan tunduk dalam sebuah kekuatan, yaitu kekuatan Tuhan yang memancarkan energi kebenaran universal. Dalam thawaf, jamaah Haji berlari-lari kecil atau berjalan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Berlari mengelilingi Ka’bah antara ratusan ribu manusia bukanlah hal yang mudah. Pada saat itu, jemaah akan didorong, terhimpit dan terinjak, bahkan ada yang meninggal dunia karena tidak mampu menahan gelombang manusia. Hanya sikap hati-hati dan sabar serta mengharap pertolongan daripada Allah yang dapat menyelamatkan jemaah dari pada kejadian tidak diinginkan.

Apa yang berlaku pada saat tawaf adalah gambaran kecil daripada keadaan yang akan ditempuh ketika berada di akhirat nanti. Pada saat itu, manusia tidak dapat bergantung kepada orang lain. Hanya amal dan pertolongan daripada Allah dan syafaat Rasulullah yang dapat membantu. Dalam thawaf, kita akan didorong dan terhimpit hingga susah bagi kita untuk selalu mendekat ke Ka’bah. Terkadang kita mendekat ke Ka’bah, terkadang kita menjauh dari Ka’bah. Ka’bah Ibarat Tuhan, begitulah diri kita, dalam menjalani kehidupan terkadang kita dekat dengan Tuhan, terkadang kita menjauh dari-Nya.

Puncak daripada pelaksanaan haji adalah wukuf di Arafah. Ulama bersepakat mengatakan bahwa wukuf di Arafah adalah rukun haji yang terpenting. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW: “Haji itu adalah Arafah.” (HR. Ahmad). Di Arafah, manusia berhimpun di bawah terik panas matahari yang membakar kulit. Mereka masih memakai pakaian ihram yang sekadar menutup badan. Pada waktu itu, setiap orang akan merasakan bagaimana penderitaan yang pernah dialami oleh sahabat ketika berperang atau berdakwah diatas terik panas matahari. Keadaan di Arafah ini juga sebenarnya gambaran kecil daripada suasana di Padang Mahsyar. Di mana manusia tidak dapat berlindung dan bernaung. Tidak ada tempat untuk meminta pertolongan. Hanya amal dan takwa serta naungan daripada Allah dan syafaat rasul-Nya yang akan menjadi pelindung.

Jika semua rahasia dan hikmah ini disadari, maka apa pun yang dihadapi ketika berada di Tanah Suci akan dilalui dengan sabar, seraya memohon ampunan dan perlindungan dari Allah. Kita juga mengharapkan ihsan-Nya agar haji yang dilaksanakan menjadi haji mabrur. Sebagai tamu Allah, jemaah haji sewajarnya menyerahkan dirinya kepada Allah dengan ikhlas dan meninggalkan segala beban pemikiran yang mungkin merusak kekhusyuan dalam beribadah. Mereka berangkat menuju Tanah Suci seolah-olah sedang berjalan memenuhi panggilan Ilahi ketika meninggalkan alam fana ini. Datang dengan niat dan hati yang suci semata-mata mencari keridhaan Ilahi.

Perjalanan Haji bukanlah suatu perjalanan piknik untuk sebuah kepuasan duniawi, justru kepuasan duniawi terkorbankan dalam rangka mendapatkan kepuasan yang lebih tinggi. Haji dalam Islam memiliki nilai plus, yaitu dengan terbitnya kepuasan jiwa dan perasaan semakin dekat dengan sang Pencipta. Perasaan dekat ini melebihi cintanya pada harta, tahta, keluarga dan saudara. Bahkan ketika seorang hamba menginjakkan kaki dari tempat tinggalnya menuju rumah Allah (Baitullah), ia sudah berniat untuk bebas dari belenggu yang mengikatnya, hatinya tunduk kepada Yang Maha Kuasa, sehingga ia merasa bahwa dunia dan isinya, luluh dan rapuh di hadapanNya. Dengan ungkapan “Labbaika Allahumma Labbaika (Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah)”, seorang hamba telah menancapkan bendera syukur atas karunia yang melimpah-ruah. Dan Maha Besar Allah atas seluruh karunia-Nya.

Jika umat Islam menghadap kiblat (ka’bah) lima kali sehari dari jarak jauh, namun pada musim haji mereka dapat melihat Ka’bah dengan mata kepala secara langsung ketika sedang memasuki Al-Baitullah al-Haram dan bertawaf di sekelilingnya, tanpa terasa air mata telah bercucuran. Cucuran air mata saat itu, bukan tanda kesedihan atau kemurungan, seperti yang terjadi dalam hidup sehari-hari, ketika ditimpa musibah misalnya. Banyak orang tidak tahu, apa sebab dan rahasia di balik peristiwa ini. Peristiwa ini merupakan sebuah ungkapan wajar, saat seseorang meninggalkan keangkuhan dan kesombongan, yang selama ini menyelimuti kehidupannya. Keadaan semacam ini kian menumbuhkan perasaan tunduk seseorang kepada Sang Pencipta, dan kehadirannya di depan Ka’bah hanya untuk menyampai kan penyesalan atas perbuatan-perbuatan yang telah dikerjakan, dengan harapan kiranya Allah mengampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang. Perasaan dekat dengan Allah setiap saat, niscaya akan menjadikan tangis sebuah dinamo untuk melahirkan kebahagiaan dan kemerdekaan dari lumuran dosa. Dengan taubat yang tulus, seorang hamba enggan untuk kembali pada kejahatan. Lebih dari itu, tangis seorang hamba di depan Ka’bah merupakan barometer kuatnya iman yang mendorongnya untuk meninggalkan hal- hal yang dapat meracuni akidah dan akhlaknya. Sesungguhnya menanggalkan rasa keangkuhan adalah kekuatan, seperti halnya memohon rahmat dan ampunan adalah kekuatan pula. Apabila dua kekuatan tersebut menyatu, keyakinan untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan menjadi semakin kokoh.

Wuquf di Arafah, Refleksi Padang Mahsyar. Di bukit yang membentang luas ini, seorang hamba diantarkan untuk membayangkan dan merenungi peristiwa yang bakal terjadi pada hari kiamat , yaitu hari dikumpulkannya kembali semua makhluk Allah di “Padang Mahsyar”, yang merupakan terminal terakhir untuk menghitung amal baik dan buruk yang telah dikerjakan, selama di dunia. Di hadapan Allah seluruh manusia adalah sama, baik konglemerat maupun fakir miskin, semuanya akan menghadap kepada Yang Maha Esa, Allah Swt.

Jumroh Aqabah, Melawan Bisikan Setan. Haji merupakan salah satu proses pembentukan insan kamil, yang mampu melawan bisikan setan. Sebab dalam setiap gerak kehidupan, orang tak lepas dari godaan setan. Banyak contoh yang menjelaskan tentang betapa gigihnya godaan makhluk ini. Diantaranya adalah godaan terhadap manusia pertama, yaitu Adam dan Hawa, dan juga terhadap Nabi Ibrahim saat menjalani perintah Allah, yang kemudian beliau berusaha menghardiknya dengan cara melempari makhluk jahat tersebut. Untuk itu, melempar jumrah yang dikenal dengan Jumrah Aqabah, juga merupakan salah satu protret perlawanan terhadap setan. Selanjutnya, sambil melempar batu kecil di Aqabah, hendaknya disertai niat untuk selalu melawan bisikan setan yang sangat membahayakan. Karenanya, dengan Jumrah Aqabah, kita berharap agar umat Islam senantiasa mampu membaca rahasia-rahasia dibalik setiap peristiwa dalam kehidupan ini. Apakah tiap muslim sudah memiliki missi dalam aktivitas kesehariannya? missinya baik atau tidak? dan missinya bermanfaat atau tidak? Ini sebuah pelajaran yang harus diingat.

Antar sesama manusia, ketika melaksanakan haji banyak pelajaran yang mengarah pada pembentukan persamaan derajat. Apabila seseorang di tempat tinggal nya menjadi tokoh masyarakat, pedagang kaki lima dan lain-lain, namun di musim haji mereka sama. Persamaan yang semacam ini akan lebih menciptakan suasana harmonis dan dinamis. Sesungguhnya Allah tidak akan melihat pada wajah seorang hamba, namun melihat kepada hatinya. Hati merupakan standar derajat manusia antara satu dan yang lain. Suasana haji menciptakan keakraban yang lebih dekat dan lebih membahana di relung hati yang paling dalam. Semoga para jamaah haji dapat menangkap makna simbol-simbol itu dan merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari

B. SEJARAH HAJI

Sejarah Haji dalam Islam bermula dari ribuan tahun yang lalu. Pada masa Nabi Ibrahim AS (1861 – 1686 SM), yang merupakan keturunan Sam Bin Nuh AS (3900 – 2900 SM). Literatur-literatur yang ada dalam khasanah Islam menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim AS lahir di Ur-Kasdim, sebuah kota penting di Mesopotamia, selanjutnya Nabi Ibrahim tinggal di sebuah lembah di negeri Syam. Ketika sudah memasuki usia senja, Nabi Ibrahim belum juga dikaruniai keturunan. Sang istri (Sarah) sangat sedih melihat keadaan ini dan meminta Nabi Ibrahim untuk menikahi Hajar. dari Hajar inilah Allah mengkaruniai Ibrahim seorang anak bernama Ismail. Dan Sarah tidak mampu memendam rasa pilunya karena tidak mendapatkan keturunan sepanjang perkawinannya dengan Nabi Ibrahim AS.

Nabi Ibrahim AS kemudian mengadukan permasalahannya kepada Allah. Lalu Allah perintahkan Nabi Ibrahim membawa Ismail bersama Hajar untuk menjauh dari Sarah. Nabi Ibrahimpun bertanya :Yaa Allah, kemana aku harus membawa keluargaku ?” Allah berfirman : “Bawalah ke tanah Haram-Ku dan pengawasan-Ku, yang merupakan daratan pertama Aku ciptakan di permukaan bumi yaitu Mekkah.” Lalu malaikat Jibril AS turun kebumi membawa kendaraan cepat. Kemudian Jibril membawa Hajar, Ismail dan Nabi Ibrahim AS. Setiap kali Nabi Ibrahim AS melewati suatu tempat yang memiliki ladang kurma yang subur, ia selalu meminta Jibril untuk berhenti sejenak. Tetapi Jibril selalu menjawab, “teruskan lagi” dan “teruskan lagi”. Sehingga akhirnya sampailah di Mekkah dan Jibril mereka di posisi Ka’bah, dibawah sebuah pohon yang cukup melindungi Hajar dan anaknya Ismail dari terik matahari.

Selanjutnya Nabi Ibrahim AS bermaksud pulang kembali ke negeri Syam menemui Sarah istri pertamanya. Hajar merasa sedih karena akan ditinggalkan oleh suami tercintanya. “Mengapa menempatkan kami disini. Tempat yang sunyi dari manusia , hanya gurun pasir, tiada air dan tiada tumbuh-tumbuhan ?” tanya Hajar sambil memeluk erat bayinya, Ismail. Ibrahim menjawab: “Sesungguhnya Allah yang memerintahkanku menempatkan kalian di sini”. Lalu Ibrahim beranjak pergi meninggalkan mereka. Sehingga sampai di bukit Kuday yang mempunyai lembah, Ibrahim berhenti sejenak dan melihat kepada keluarga yang ditinggalkannya. Dia lalu berdoa, seperti yang diabadikan dalam Al Qur’an. Allah berfirman mengulangi doa Nabi Ibrahim AS : ”Yaa Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Yaa Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim : 37)

Setelah Nabi Ibrahim AS pergi, tinggallah Hajar bersama bayinya Ismail. Ketika sinar matahari mulai menyengat, bayi Ismail menangis kahausan. Hajar pun panik mencari air. naluri keibuannya berusaha gigih mencari air. Awalnya Hajar naik ke bukit Shafa, tetapi tidak menemukan air. Lalu ia pergi lagi ke bukit Marwa dan disanapun tidak menemukan air. Hajar mulai panik dan putus asa sehingga tidak menyadari bahwa telah tujuh kali berlari bolak balik antara bukit Shafa dan Marwa. Namun ia tetap tidak menemukan air diantara dua tempat tersebut. Akhirnya dari bukit Marwa, Hajar melihat ke arah Ismail. Dia heran, bayinya tiba-tiba berhenti menangis. Hajar pun melihat air mengalir dari bawah kaki Ismail. Hajar berlari dengan girang ke arah tempat bayinya. Dia berusaha menggali pasir, membendung air yang mengalir tersebut sambil melafazkan kalimat “ZAM … ZAM” (menampung). Sejak saat itu hingga sekarang, mata air tersebut dikenal di seluruh penjuru dunia sebagai sumur Zam Zam.

Berselang beberapa waktu kemudian, lewatlah kabilah Jurhum di sekitar tempat itu. Ketika berada di bukit Arofah, mereka melihat kerumunan burung-burung beterbangan di atas udara. Mereka yakin disana pasti ada sumber air. Mereka segera mendekati tempat tersebut. Setelah sampai, mereka terkesima melihat seorang wanita bersama bayinya duduk di bawah pohon dekat sumber air tersebut. Kepala suku Jurhum bertanya kepada Hajar : Siapakah anda dan siapakah bayi mungil yang ada dalam gendongan anda itu ?” Hajar menjawab : Saya adalah ibu dari bayi ini. Ia anak kandung dari Ibrahin AS yang diperintahkan oleh Tuhannya menempatkan kami di wadi ini.” Lalu kepala suku Jurhum meminta izin tinggal berseberangan dengannya. Hajar menjawab : Tunggulah sampai Ibrahim datang. Saya akan meminta izin kepadanya“. Tiga hari kemudian, Nabi Ibrahim AS datang melihat kondisi anak dan istrinya. Hajar meminta izin kepada Ibrahim agar Kabilah Jurhum bisa menjadi tetangganya. Nabi Ibrahimpun memberi izin dan Kabilah Jurhum menjadi tetangga Hajar dan Ismail di tempat itu. Pada kesempatan berziarah selanjutnya, Ibrahim menyaksikan tempat itu sudah ramai oleh keturunan bangsa Jurhum dan Nabi Ibrahim merasa senang melihat perkembangan itu.

Hajar hidup rukun dengan bangsa Jurhum hingga Ismail mencapai usia remaja. Selanjutnya Allah SWT memerintahkan kepada Ibrahim untuk membangun Ka’bah pada posisi Qubah yang telah Allah turunkan kepada Nabi Adam AS. Tetapi Nabi Ibrahim tidak mengetahui posisi Qubah itu, karena Qubah tersebut telah diangkat lagi oleh Allah ketika terjadi peristiwa banjir besar di bumi pada masa Nabi Nuh AS. Kemudian Allah mengutus Jibril untuk menunjukkan kepada Ibrahim posisi Ka’bah. Kemudian Jibril datang membawa beberapa bagian Ka’bah dari surga. Dan pemuda Ismail membantu ayahandanya mengangkat batu-batu dari bukit. Kemudian Nabi Ibrahin dan Ismail bekerja membangun Ka’bah sampai ketinggian 7 hasta. Jibril lalu menunjukkan kepada mereka posisi Hajar aswad. Kemudian Nabi Ibrahim meletakkan Hajar Aswad pada posisinya semula. lalu Ibrahim membuatkan 2 pintu ka’bah. Pintu pertama terbuka ke timur dan pintu kedua terbuka ke barat. Ketika selesai pembangunan Ka’bah, Nabi Ibrahim dan Ismail melakukan ibadah haji. Pada tanggal 8 Dzulhijjah Jibril turun menemui dan menyampaikan pesan kepada Ibrahim.  Jibril meminta Nabi Ibrahim mendistribusikan air zam zam ke beberapa tempat seperti Mina dan Arafah. Maka hari itu disebut dengan dengan hari “Tarwiyyah” (pendistribusian air). Setelah selesai pembangunan Baitullah dan pendistribusian air tersebut, maka Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah yang tercantum dalam Al Qur’an :

” Dan (ingatlah) ketika Nabi Ibrahim berdoa : ” Yaa Tuhanku. jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa dan berikanlah riski dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemdian. Allah berfirman : ”Dan kepada orang yang kafirpun aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. Al Baqarah : 126)

 Sejak itu,kaum Muslimin melaksanakan ritual haji untuk berziarah ke Ka’bah setiap tahun. Ini mengikuti risalah Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as, serta risalah para Nabi dan Rosul setelah keduanya. Ritual suci ini berlangsung terus seperti pelaksanaan yang pernah dilakukan oleh Ibrahim dan Ismail. Namun pada periode tokoh Mekkah ‘Ammarbin Luha, ritual haji mulai terkotori dengan kahadiran patung dan berhala.

Keberadaan Berhala di Sekitar Ka’bah

Tokoh ‘Ammar bin Luhay merupakan orang yang pertama kali menyebarkan ajaran menyembah berhala di seluruh Jazirah Arab. Dialah yang bertanggung jawab merubah ajaran tauhid menjadi menyembah berhala. Sejak itu, orang-orang Arab meletakkan patung dan berhala yang mereka anggap sebagai tuhan di sekitar Ka’bah. Bahkan sebagian kabilah Mekkah mempunyai mata pencaharian sebagai pembuat patung dan berhala. Mereka tetap memperbolehkan kabilah atau kelompok lain untuk menunaikan haji ke Baitullah, tanpa membedakan agama dan kepercayaan. Para pemeluk agama tauhid termasuk agama Masehi, masih terus menjalankan ritual haji ke Ka’bah. Saat itu, kondisi Ka’bah sangat memprihatinkan. Dindingnya dipenuhi puisi dan lukisan. Bahkan lebih dari 360 berhala terdapat di sekitar Ka’bah. Selama periode haji itu, suasana di sekitar Ka’bah layaknya seperti sirkus. Laki-laki dan perempuan mengelilingi Ka’bah dengan telanjang. Mereka menyatakan harus menampilkan diri dihadapan Allah dalam kondisi yang sama seperti saat lahir. Doa mereka menjadi bebas tak lagi tulus mengingat Allah. Bahkan berubah menjadi serangkaian tepuk tangan,bersiul, dan meniup terompet dari tanduk hewan. Kalimat talbiah (Labbaika Allahumma Labbaik) telah diselewengkan oleh mereka dengan kalimat tambahan yang berbeda maknanya. Lebih parah lagi, darah hewan kurban dituangkan ke dinding Ka’bah dan dagingnya digantung di tiang sekitar Ka’bah. Mereka punya keyakinan bahwa Allah menuntuk daging dan darah tersebut. Mengenai hal ini Allah Swt mengingatkan dengan firmannya:’

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS.Al-Hajj :37)

Para peziarah bebas bernyanyi, minum arak, melakukan zina, dan perbuatan amoral lainnya. Lomba puisi adalah bagian utama dari seluruh rangkaian haji.  Dalam kompetisi ini,setiap penyair akan memuji keberanian dan kemegahan sukunya. Mereka menyampaikan cerita yang berlebihan, kepengecutan, dan kekikiran suku-suku lainnya. Ada juga kompetisi dalam “kemurahan hati”. Masing-masing kepala suku akan menyediakan kuali besar dan memberi makan para peziarah. Tujuannya agar bisa menjadi terkenal karena kemurahan hati mereka. Mereka telah meninggalkan, menodai dan menyelewengkan ajaran suci Nabi Ibtahim as yang mengajak menyembah Allah semata. Keadaan menyedihkan itu berlangsung selama kurang lebih dua ribu tahun.

Haji & Umrah Era Rasululloh SAW

Tetapi setelah periode panjang ini, terjawablah doa Nabi Ibrahim as yang tercantum dalam Al-Qur’an :

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rosul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Albaqarah : 129)

Nabi Muhammad tidak hanya membersihkan Ka’bah dari segala kotoran, tetapi juga mengembalikan kemurnian ibadah haji sesuai tuntunan Allah sejak jaman Nabi Ibrahim AS. Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai jawaban atas doa Nabi Ibrahim AS tersebut. Selama 23 tahun Nabi Muhammad SAW menyebarkan pesan Tauhid, pesan yang sama seperti yang dibawa Nabi Ibrahim AS dan semua Nabi pendahulunya, untuk menegakkan hukum Allah dimuka bumi. Terdapat perintah khusus dalam Al Qur’an yang diturunkan dalam rangka menghilangkan semua upacara palsu yang telah merajalela pada masa sebelum Islam. Semua tindakan tidak senonoh dan memalukan itu sangat dilarang sebagaimana dalam pernyatan Allah dalam Al Qur’an :

“Musim haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa menetapkan niatnya dalam bualn itu akan mengerjakan haji, maka tidak diperbolehkan rafats (mengeluarkan perkataan yang menimbulkan birahi yang tidak senonoh atau bersetubuh), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS Al Baqarah : 197)

Rasululloh SAW memerintahkan para sahabat yang mampu terutama kaum Anshar (pribumi Madinah) yang tidak dikenali oleh orang-orang Mekkah, untuk menunaikan ibadah haji sesuai dengan manasik Nabi Ibrahim AS. Mereka tidak mengerjakan amalan-amalan yang berhubungan dengan penyembahan berhala. Ketika kembali dari haji, kaum Anshar melapor kepada Rasululloh SAW bahwa mereka mengerjakan sa’i dengan keraguan. Ditengah mas’a (jalur sa’i) antara Shafa dan Marwa terdapat dua berhala besar Asaf dan Na’ilah. Oleh karena itu turunlah wahyu Allah SWT yaitu :

”Sesungguhnya Shafa dan Marwa itu sebagian dari syiar-syiar Allah. maka barangsiapa berhaji ke baitullah atau berkunjung (umrah), tidak salah baginya untuk bolak balik pada keduanya. Dan barangsiapa menambah kebaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pembalas Syukur lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 158) Ayat inilah yang akan sering dibaca oleh para jamaah haji ketika melakukan sa’i.

Pada bulan April 628 M (Dzulkaidah 6 H) Rasululloh bermimpi menunaikan umrah ke Mekkah. Beliau mengajak para shahabat untuk mewujudkan mimpi tersebut. Rasululloh dengan disertai 1.500 shahabat berangkat menuju Mekkah, mengenakan pakaian ihram dan membawa hewan-hewan kurban.

Kaum musyrikin Quraisy mengerahkan pasukan untuk menghalangi, sehingga rombongan dari Madinah tertahan di Hudaibiyyah, 20 km disebelah barat laut Mekkah. Kaum Quraisy mengutus Suhail Ibn Amr untuk berunding dengan Rasululloh. Suhail mengusulkan antara lain kesepakatan genjatan senjata dan kaum muslimin harus menunda Umrah dengan kembali ke Madinah. Tetapi tahun depan akan diberikan kebebasan melakukan Umrah dan tinggal selama 3 hari di Mekkah. Rasululloh SAW menyetujui perjanjian ini meskipun para shahabat banyak yang kecewa. Secara singkat isi perjanjian tersebut kelihatannya merugikan kaum muslimin, tetapi sesungguhnya secara politis sangat menguntungkan bagi kaum muslimin. Perjanjian Hudaibiyyah merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah Islam karena untuk pertama kalinya kaum Quraisy di Mekkah mengakui kedaulatan kaum Muslimin di Madinah. Dalam perjalanan pulang ke Madinah, turunlah wahyu Allah sebagai berikut :

“Sungguh Allah akan memenuhi mimpi RasulNya dengan sebenar-benarnya. , bahwa kamu akan memasuki Masjidil Haram insya Allah dengan aman. Kamu akan mencukur kepalamu atau menggunting rambut (menyelesaikan umroh) dengan tidak merasa takut. Dia mengetahui apa yang tidak kau ketahui dan DIA menjadikan selain itu sebagai  kemenangan yang dekat.” (QS Al Fath : 27)

Sesuai dengan perjanjian Hudaibiyah, tahun berikutnya (Maret 629 Masehi atau Zulkaidah 7 Hijriyah) Rasullah Saw. beserta para sahabat untuk pertama kalinya melakukan umrah ke Baitullah. Ketika rombongan Rosulullah Saw yang berjumlah sekitar 2.000 orang memasuki pelataran Ka’bah untuk melakukan tawaf, orang-orang  Mekkah berkumpul menonton di bukit Qubais dengan berteriak bahwa kaum Muslimin kelihatan letih dan pasti tidak kuat berkeliling tujuh putaran. Mendengar ejekan ini, Rasulullah Saw bersabda kepada para jamaahnya, “Marilah kita tunjukan kepada mereka bahwa kita kuat. Bahu kanan kita terbuka dari kain ihram, dan kita lakukan tawaf sambil berlari!”

Sesudah mencium hajar Aswad, Rasulullah Saw, dan para sahabat memulai tawaf dengan berlari-lari mengelilingi Ka’bah sehingga para pengejek akhirnya bubar. Pada putaran keempat setelah orang-orang usil diatas bukit Qubai pergi, Rasulullah mengajak para sahabat berhenti berlari dan berjalan seperti biasa. Inilah latar belakang beberapa sunah tawaf di kemudian hari : bahu kanan yang terbuka (idhthiba’) serta berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama khusus pada tawaf yang pertama. Selesai tujuh putaran, Rasulullah Saw, Shalat dua rakaat di Makom Ibrahim, kemudian minum air Zamzam dan akhirnya melakukan tahalul (menghalalkan kembali) atau membebaskan diri dari larangan-larangan ihram , dengan menyuruh Khirasy mencukur kepala beliau. Ketika masuk waktu dzuhur, Rasulullah Saw menyuruh Bilal ibn Rabah naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan azan. Suara adzan Bilal menggema ke segenap penjuru sehingga orang-orang Mekkah berkumpul kearah “suara aneh” yang baru pertama kali mereka dengar. Kaum Musyrikin menyaksikan betapa rapinya saf-saf kaum Muslimin yang sedang shalat berjamaah. Hari itu, 17 Zulkaidah 7 hijriyah (17 Maret 629M), untuk pertama kalinya azan  berkumandang di Mekkah dan Nabi Muhammad Saw. menjadi imam shalat di depan Ka’bah.

Sesuai dengan isi Perjanjian Hudaibiyyah, Rasululloh SAW dan para shahabat  yang hanya tiga hari berada di Mekkah, kembali ke Madinah. Tetapi Umrah tiga hari yang dilakukan kaum Muslimin di Mekkah menimbulkan kesan yang mendalam bagi orang-orang Quraisy. Tiga orang terkemuka Quraisy yaitu Khalid Bin Walid, Amru Bin Ash dan Utsman Bin Thalhah, menyusul ke Madinah untuk mengucapkan kalimat syahadat. Di kemudian hari pada masa Kekhalifahan Umar Bin Khattab RA (634 – 644 M), Khalid Bin Walid RA memimpin pasukan Islam membebaskan Suriah dan Palestina, serta Amru Bin Ash RA membebaskan Mesir dari kekuasaan Romawi. Utsman Bin Thalhah RA dan keturunannya kelak diberi kepercayaan oleh Rasululloh untuk memegang kunci  Ka’bah.Sampai hari ini, meskipun yang menguasai dan memelihara Ka’bah berganti hingga Dinasti Saudi sekarang, kunci Ka’bah tetap dipegang oleh keturunan Utsman Ibn Thalhah RA dari Bani Syaibah.

Beberapa bulan sesudah Rasulullah SAW umrah, kaum Quraisy melanggar perjanjian gencatan senjata sehingga pada 20 Ramadhan 8 H (11 Januari 630 M) Rasululloh beserta sekitar 10.000 pasukan menaklukan Mekkah tanpa ada pertumpahan darah. Bahkan, Rasululloh memberikan amnesti kepada warga Mekkah yang dahulu memusuhi Muslimin.“Tiada balas dendam bagimu hari ini. Semoga Allah mengampuni kalian dan Dia Paling Penyayang diantara para penyayang“, demikian sabda Rasululloh SAW mengutip ucapan Nabi Yusuf AS yang tercantum dalam Surat Yusuf ayat 92. Akibatnya, seluruh kaum Quraisy masuk Islam. Kemudian turunlah Surat An Nashr :

“Tatkala datang peretolongan Allah dan kemenangan, engkau melihat manusia masuk kedalam agama Allah berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan memohon apunlah kepadaNya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat”. (QS An Nashr : 1-3)

Dengan jatuhnya kota Mekkah ke tangan Ummat Islam, kemudian Rasululloh SAW memerintahkan pemusnahan berhala-berhala disekeliling Ka’bah, dan membersihkan Ibadah Haji dari unsur-unsur kemusyrikan serta mengembalikannya kepada syariat Nabi Ibrahim yang asli. Pada tahun 8 H, Rasululloh SAW melakukan Umroh 2 kali yaitu ketika menaklukan Mekkah serta ketika beliau pulang dari perang Hunain. Ditambah dengan umroh pada tahun sebelumnya berarti Rasululloh sempat melakukan Umroh 3 kali sebelum beliau mengerjakan ibadah Haji pada tahun 10 H.

Pada bulan Dzulhijjah 9 H (Maret 631 M) Rasululloh mengutus shahabat Abu Bakar Ash Shiddiq untuk memimpin Ibadah Haji. Rasululloh sendiri tidak ikut karena beliau sibuk dalam menghadapi perang Tabuk melawan Pasukan Romawi. Abu Bakar Ash Siddiq mendapatkan perintah untuk mengumumkan Dekrit yang baru saja diterima oleh Rasuluuloh SAW. Dekrit tersebut menyatakan bahwa mulai tahun depan kaum musyrikin dilarang mendekati Masjidil Haram dan menunaikan ibadah haji karena sesungguhnya mereka bukanlah penganut ajaran Nabi Ibrahim AS. Dekrit tersebut dikeluarkan Rasululloh berdasarkan firman Allah :

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis (kotor jiwa) karena itu janganlah mereka mendekati Masjidil Haram setelah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin (karena orang kafir tidak datang) maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepAdamu dari karunia-Nya jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana”. (QS At Taubah : 28)

Haji Wada’ Rasululloh SAW

Pada tahun 10 H (632 M) Semenanjung Arabia telah dipersatukan dibawah kekuasaan Nabi Muhammad SAW yang berpusat di Madinah dan seluruh penduduknya telah memeluk agama Islam. Maka pada bulan Syawal Rasululloh mengumumkan bahwa beliau sendiri yang akan memimpin Ibadah Haji tahun itu. Berita ini disambut hangat oleh seluruh ummat dari segala penjuru. Sebab mereka berkesempatan mendampingi Rasululloh dan menyaksikan setiap langkah beliau dalam melakukan manasik (tata cara) haji.

Rasululloh SAW berangkat dari Madinah sesudah shalat Jum’at tanggal 25 Dzulkaidah (21 Februari) mengendarai unta beliau yang bernama Al Qashwa dengan diikuti sekitar 30.000 jamaah. Seluruh istri beliau ikut serta dan juga putri beliau yang saat itu masih hidup yaitu Fatimah. Sesampai di Dzulhulaifah (Birr ‘Aliy) yang berjarak belasan kilometer dari Madinah, Rasululloh dan rombongan singgah untuk istirahat dan mempersiapkan ihram. Disini Istri Abu Bakar Ash Shiddiq melahirkan putra yang diberi nama Muhammad. Abu Bakar berniat mengembalikannya ke Madinah. Tetapi Rasululloh SAW mengatakan bahwa istri Abu Bakar cukup mandi bersuci, memakai pembalut yang rapi dan dapat melakukan seluruh manasik Haji. Muhammad Bin Abu Bakar RA yang lahir di Dzulhulaifah itu kelak menjadi Gubernur Mesir pada masa Khalifah Ali Bin Abi Thallib RA (656 – 661 M). Keesokan harinya, Sabtu 26 Dzulkaidah (22 Februari) setelah semuanya siap untuk berihram, Rasululloh SAW menaiki unta kembali, lalu bersama seluruh jamaah mengucapkan niat haji : Labbaika Allahumma Hajjan. Tidak ada seorangpun yang berniat umroh sebab menurut tradisi saat itu umroh hanya dibolehkan diluar musim haji. (Tiga cara haji yaitu Tamattu’, Ifrad dan Qiran) yang kita kenal sekarang baru diterapkan Rasulullah di Mekkah 8 hari berikutnya.

Rombongan menuju Mekkah dengan tiada henti mengucapkan Talbiyah. Pada hari Sabtu 3 Dzulhijjah (29 Februari) Rasulullah dan rombongan tiba di Sarif, 15 km utara Mekkah dan beristirahat. Aisyah RA istri Nabi kedatangan masa haidnya sehingga dia menangis karena khawatir tidak bisa menunaikan ibadah haji. Rasulullah SAW menghiburnya, “Sesungguhnya haid itu ketentuan Allah untuk putri-putri Adam. Segeralah mandi dan engkau dapat melakukan semua manasik haji, kecuali tawwaf sampai engkau suci.”

Pada Ahad 4 Dzulhijjah (1 Maret) pagi, Rasululloh dan rombongan memasuki kota Mekkah. Disana sudah menunggu puluhan ribu ummat yang datang dari berbagai penjuru dan diperkirakan total jamaah haji yang datang waktu itu mencapai lebih dari 100.000 jamaah. Rasululloh memasuki Masjidil Haram melalui gerbang Banu Syaibah yang terletak disamping telaga Zamzam di belakang Maqam Ibrahim. Gerbang Banu Syaibah ini kelak dikemudian hari populer dengan nama Baabussalam (Gerbang Kedamaian).

Perlu diketahui bahwa yang disebut Masjidil Haram pada waktu itu adalah pelataran Ka’bah tempat shalat dan tawwaf. Sedangkan bangunan masjid baru dirintis pada masa Khalifah Umar Bin Khattab RA (634 – 644 M) dan mengalami perluasaan dari zaman ke zaman sehingga akhirnya megah seperti sekarang. Juga perlu diketahui bahwa Rasulullah tidak pernah memerintahkan harus masuk Masjidil Haram dari gerbang banu Syaibah atau Baabussalam. Rasulullah masuk melalui pintu itu karena beliau datang dari arah utara. Gerbang yang dimasuki Nabi itu kini tidak ada lagi. Ketika pada tahun 1957 Masjidil Haram diperluas sehingga tempat Sa’i termasuk Shafa dan Marwa menjadi bagian Masjid. Kemudian pemerintah Arab Saudi membuat banyak pintu. Dua pintu diantaranya diberi nama Pintu Banu Syaibah dan Pintu baabussalam.

Beberapa Manasik Haji Rasulullah

Pada awal setiap putaran tawwaf, Jamaah haji/umroh disunnahkan untuk memberikan penghormatan (IstIslam) kearah hajar Aswad di pojok tenggara Ka’bah. Rasulullah mengajarkan tentang 4 cara melakukan IstIslam tersebut :

  1. Ketika umrah pertama kali tahun 7 H, beliau mengecup hajar Aswad.
  2. Ketika penaklukan Mekkah, beliau menyentuhkan ujung tongkat ke Hajar aswad dari atas unta.
  3. Ketika umrah saat pulang dari perang Hunain, Hajar Aswad beliau usap dengan tangan kanan.
  4. Ketika beliau haji di tahun 10 H, beliau hanya melambaikan tangan dari jauh ke arah Hajar Aswad.

Rasulullah SAW melakukan tawwaf tujuh putaran. Ummu Salamah (salah satu istri beliau) bertawaf dengan ditandu sebab sedang sakit. Setiap melewati Rukun Yamani Rasulullah cuma mengusapnya dengan tangan. Diantara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, Rasulullah mengucapkan doa :

“Robbanaa aatinaa fid duniya hasanah. Wafil aakhiroti hasanah. Waqinaa ‘adzaaban naar (Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat serta peliharalah kami dari adzb neraka).”

Setelah selesai tujuh putaran, beliau shalat 2 rakaat di belakang Maqam Ibrahim, kemudian melanjutkan pergi ke telaga Zamzam. Beliau meminum air zamzam dan membasahi kepala beliau.

Sesudah itu Raulullah menuju bukit Shafa untuk memulai sa’i. Beliau naik ke bukit, lalu menghadap ke Ka’bah, bertakbir 3 kali dan berdoa. Kemudian beliau turun ke lembah menuju Marwa dengan berlari-lari kecil antara Masil dan Bait Aqil (kini Masil dan Bait Aqil ditandai dengan lampu hijau. Sebagai catatan, jarak dari Shafa ke Masil 100 meter, dari Masil ke Bait Aqil 80 meter, dan dari Bait Aqil ke Marwa 240 meter). Sesampai di Marwa Rasulullah SAW melakukan hal serupa seperti yang dilakukan di bukit Shafa. Demikianlah Rasulullah melakukannya dengan bolak balik sebanyak 7 kali.

Setelah selesai Sa’i, Rasulullah di Marwa menginstruksikan sesuatu yang mengejutkan para sahabat karena belum pernah terjadi sebelumnya. Rasulullah memerintahkan seluruh sahabat yang tidak membawa hadyu (hewan qurban) agar mengubah niat haji menjadi umrah. Padahal selama ini umrah hanya dilakukan diluar musim haji. Dengan mengubah niat menjadi umrah, sebagian besar jamaah haji yang tidak membawa hadyu dapat bertahallul (bebas dari larangan ihram). Kemudian berihram lagi untuk haji tanggal 8 Dzulhijjah. Karena mereka tidak membawa hadyu dari rumah, tentu pada hari Nahar (10 Dzulhijjah) atau hari-hari Tasyrik (11 – 13 Dzulhijjah) mereka harus membeli hewan untuk dijadikan hadyu. Inilah yang kelak dikenal sebagai Haji Tamattu’, artinya “bersenang-senang” sebab masa ihram hanya beberapa hari saja. Pada mulanya para sahabat ragu-ragu melaksanakan perintah Nabi karena manasik seperti itu (umrah di musim haji) belum pernah ada. Apalagi Rasulullah sendiri ternyata tidak bertahallul. Melihat keraguan para sahabat, Rasulullah bersabda :

“Seandainya aku tidak membawa hadyu, akupun akan mengubah hajiku menjadi umrah. Tetapi aku telah menghadapi urusanku (membawa hadyu) dan tidak dapat mundur lagi sehingga aku tidak akan bertahallul sampai aku menyembelih hadyuku”.

Ada juga para sahabat yang penasaran bertanya : “Tahallul untuk apa saja yaa Rasulullah ?”. “Tahallul untuk semuanya“, jawab Nabi. Kemudian Rasulullah menegaskan, Telah masuk umrah ke dalam haji untuk selama-lamanya.” Artinya, umrah dapat dikerjakan di musim haji.

Mendengar penegasan Rasulullah tersebut, para sahabat yang sebagian besar tidak membawa hadyu bertahallul secara massal. Hanya Rasulullah dan sebagian kecil sahabat yang tetap berihram sebab mereka membawa hadyu. Sejak saat itu, mulailah dikenal tiga cara Ibad,ah haji, yaitu :

  1. Haji Tamattu’(Bersenang-senang) yaitu melakukan Umrah dulu, baru kemudian berhaji. Diperuntukkan bagi mereka yang tidak membawa hadyu dari rumah mereka.
  2. Haji Ifrad (Mandiri) yaitu melakukan haji dulu baru kemudian melakukan Umrah. Diperuntukkan bagi penduduk Mekkah yang membawa hadyu.
  3. Haji Qiran (Gabungan) yaitu melakukan haji dan Umrah langsung digabungkan. Diperuntukkan bagi yang bukan penduduk Mekkah dan membawa hadyu.

Cara terakhir inilah (Haji Qiran) yang dikerjakan Rasulullah SAW dalam ibadah haji beliau. Hal ini disimpulkan dari fakta bahwa beliau membawa hadyu dan setelah selesai mengerjakan haji tidak lagi melakukan umrah secara terpisah sampai beliau kembali ke Madinah pada tanggal 14 Dzulhijjah.

Sebenarnya cara Haji Tamattu’ bukanlah inovasi dari Rasulullah, melainkan memang diperintahkan oleh Allah sebagai keringanan bagi Ummat-Nya. Hal ini berdasarkan wahyu yang turun ketika Rasulullah dan rombongan tertahan di Hudaibiyah empat tahun sebelumnya (tahun 6 H). Tetapi baru pada ibadah haji tahun 10 H Rasululloh berkesempatan menerapkannya. Tentang Haji Tamattu’ itu tercantum dalam QS Al Baqarah ayat 196.

Ketika Rasulullah dan rombongan berangkat dari Dzulhulaifah, semua berniat haji dan tidak seorangpun  yang berniat umrah meskipun sebagian besar tidak membawa hadyu. Sebagaimana dikemukakan oleh Aisyah RA istri Rasulullah dalam hadits : “Kami keluar bersama Nabi SAW hanya dengan tujuan haji. Ketika kami selesai melakukan thawwaf dan sa’i, barulah Rasulullah memerintahkan yang tidak membawa hadyu untuk bertahallul.“

Keterangan lebih tegas lagi dari Jabir Bin Abdillah RA sahabat yang paling lengkap bercerita tentang kisah Haji Rasulullah SAW. “Kami para shahabat Rasulullah SAW bertujuan haji yang murni (khalishan), tidak mencampurkannya dengan Umrah sebab kami tidak mengenal Umrah”. Maksud Jabir RA sudah tentu adalah tidak mengenal umrah di musim haji, sebab ketika di Dzulhulaifah, syariat bahwa umrah harus dilakukan diluar musim haji belum dihapuskan oleh Rasulullah SAW.

Nabi SAW sebagai pemimpin yang bijaksana menunggu saat yang tepat dalam menerapkan perintah Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 196, agar ummat tidak terkejut dengan sistem baru (Haji harus disertai Umrah) . Ketika Rasulullah dan rombongan beristirahat di Sarif pada tanggal 3 Dzulhijjah sebelum masuk Mekkah, beliau mulai melakukan sosialisasi sistem baru dengan mengumumkan kepada jamaah haji, “Barangsiapa yang mau menjadikannya Umrah, jadikanlah hajimu menjadi Umrah”.

Disinilah Rasulullah hanya menghimbau dengan kalimat “siapa yang mau”. Esok harinya tanggal 4 Dzulhijjah tahun 10H (1 Maret 632M) keetika semua jamaah haji dari berbagai penjuru sudah berkumpul di Mekkah, serta jamaah telah santai karena sudah melaksanakan Thawwaf dan Sa’i, barulah Rasulullah memerintahkan cara Haji Tamattu’ bagi yang tidak membawa Hadyu dan mendekritkan terintegrasinya Umrah ke dalam Haji. Hal inipun ternyata menimbulkan suasana heboh dikalangan para shabat, sehingga Rasulullah harus ekstra sabar untuk meyakinkan para shahabat yang awalnya enggan meralat niat hajinya menjadi umrah.

Dari penjelasan tersebut, untuk jemaah haji asal Indonesia yang bukan pribumi Mekkah dan dipastikan tidak membawa hadyu dari rumah, maka tidak ada pilihan lain kecuali melaksanakan perintah Rasulullah SAW untuk mengambil cara Haji Tamattu’. Hal ini berlaku baik bagi jamaah haji gelombang pertama (yang ke Madinah dulu) ataupun jamaah haji gelombang kedua (yang langsung ke Mekkah).

Dari tanggal 5 – 7 Dzulhijjah (2-4 Maret) Rasulullah SAW melakukan kegiatan : Memimpin shalat di Masjidil Haram, melakukan thawwaf sunnah dan shalat sunnah di Hijr Ismail. Meskipun Rasulullah dalam keadaan berihram, beliau menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat lahir beliau di Suq Al Layl dan berziarah ke makam istri yang paling beliau cintai yaitu Khadijah Al Kubro RA yang terletak di Ma’la.

Pada Kamis 8 Dzulhijjah (5 Maret), Rasulullah SAW memerintahkan ummat beliau yang memakai cara Tamattu’ kembali mengenakan pakaian ihram dan menjauhi larangan-larangan ihram untuk memulai ibadah haji. Mereka yang melakukan cara Ifrad atau Qiran (termasuk Rasulullah sendiri) memang sudah dalam keadaan berihram, karena setelah melakukan thawwaf dan sa’i mereka tidak bertahallul.

Pada 8 Dzulhijjah pagi, Rasulullah beserta jamaah haji pergi menuju Mina untuk mempersiapkan air, sebab mulai tanggal 10 Dzulhijjah sesudah pulang dari Arafah mereka akan tinggal di Mina selama beberapa hari. Itulah sebabnya tanggal 8 Dzulhijjah disebut hari Tarwiyyah (mempersiapkan air).

Pada jaman modern seperti sekarang ini, meskipun air di Mina sudah berlimpah ruah sehingga jamaah tidak perlu mempersiapkan air di Mina (Tarwiyyah), tetapi sebagian besar Ulama tetap berpendapat bahwa pergi ke Mina pada 8 Dzulhijjah merupakan salah satu sunnah haji. Paling tidak itu perlu dilakukan untuk napak tilas perjalanan haji Nabi.

Pada hari Jum’at 9 Dzulhijjah (6 Maret) sesudah matahari terbit, Rasulullah SAW dan seluruh Jamaah haji berangkat menuju Arofah. Ketika melalui Muzdalifah, kaum Quraisy berharap agar Rasulullah berhenti sebab selama ini kaum Quraisy selalu berwukuf di Masy’ar Al Haram (Muzdalifah), sedangkan yang berwukuf di Arafah adalah mereka yang bukan dari kaum Quraisy. Oleh karena itu Rasulullah memerintahkan agar seluruh jamaah haji tanpa kecuali kembali kepada syaria’at Ibrahim untuk berwukuf di Arafah, sesuai dengan firman Allah :

“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat orang banyak bertolak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah. Sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Baqarah 199)

Sebelum masuk Arafah, Rasulullah Saw. siggah di Namirah dan ketika masuk waktu dzuhur (matahari tergelincir ke barat) beliau pergi ke tengah padang Arafah untuk berkhotbah sebagai tanda dimulainya acara wukuf. Rasulullah menghentikan unta beliau, Al-Qaswa’, disuatu tempat yang tinggi. Disamping beliau berdiri Rabia’ah ibn Umayyah yang mempunyai suara keras dan lantang. Ia ditugasi untuk menyambung suara Nabi agar jelas terdengar oleh puluhan ribu jemaah yang hadir.

Sesudah Rasulullah mengucapkan tahmid dan takbir, memuji dan membesarkan nama Allah,beliau memberikan khotbah yang isinya sebagai berikut:

“Wahai manusia (Ayyuhan-nas), dengarkanlah kata-kataku agar kamu terangkan kepadamu. Sesungguhnya aku tidak tahu apakah aku masih akan bertemu dengan kamu ditempat wukuf ini. Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kamu darah sasamamu dan harta sesamamu sampai kamu berjumpa dengan Tuhanmu, seperti haramnya hari ini dan bulan ini. Sesungguhnya kamu pasti akan berjumpa dengan Tuhanmu dan dia pasti akan menanyai kamu tentang segala perbuatanmu.

Wahai manusia, seseorang yang mempunyai hutang hendaklah mengembalikan hutang itu kepada orang yang telah mempercayainya. Segala jenis Riba dihapuskan, dan kamu boleh memiliki kembali modalmu. Janganlah berbuat zalim dan kamu tidak akan dizalimi. Allah telah memutuskan bahwa tidak boleh ada riba lagi, dan riba yang pertama kuhapuskan adalah riba dari Abbas ibn Abdil – Muttalibseluruhnya. Ssemua pertumpahan darah dimasa jahiliyah harus ditinggalkan tanpa balas dendam. Hutang darah yang pertama kuhapuskan adalah darah Rabi’ah ibn Harits ibn Abdil-Muthalib yang dibunuh oleh Hudzail.

Wahai manusia, sesungguhnya setan telah putus asa untuk terus disembah-sembah di negerimu ini. akan tetapi, dia akan puas dengan ditaati dalam hal-hal selain itu, yaitu perbuatan-perbuatan yang kamu sebenarnya tahu bahwa itu salah,tetapi tetap kamu perbuat. Maka, waspadalah terhadap setan dalam hal agamamu. Sesungguhnya kamu mempunyai hak atas istri-istrimu dan merekapun mempunyai hak terhadapmu. Bertaqwalah kamu kepada Allah dalam memperlakukan istri-istrimu sebab kamu telah mengambil mereka dengan amanat Allah.

 Wahai manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan bagi kamu sesuatu, yang jika kamu berpegang teguh kepadanya pasti kamu tidak akan tersesat selama-lamanya,yaitu sesuatu yang terang dan nyata: Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya. sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara,kecuali dia memberikan dengan rela. Sesungguhnya Tuhanmu cuma satu, dan sungguh ayah kamu juga satu. Kamu semua berasal dari Adam, sedangkan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah yang paling Taqwa. Tidak ada keutamaan orang Arab dari yang bukan Arab melainkan lantaran Taqwa.”

Di akhir khotbah beliau, Rasulullah Saw.bertanya kepada puluhan ribu umat yang hadir,”Wahai manusia,apakah aku telah menyampaikan?Jemaah haji serempak menjawab,”Benar, telah engkau sampaikan.” Maka Rasulullah mengacungkan tangan beliau kelangit sambil berseru,“Wahai Allah,saksikanlah!Wahai Allah saksikanlah!” Kemudian Rasulullah menutup khotbah beliau dengan bersabda,” Maka hendaklah yang telah menyaksikan dari  pAdamu menyampaikan kepada yang tidak hadir. Semoga siapa yang menyampaikan akan lebih dalam memperhatikannya daripada yang sekedar mendengarkan. Mudah-mudahan berlimpahlah rahmat dan berkah Allah kepada kamu sekalian.” 

Selesai berkhotbah Rasulullah Saw, turun dari unta, lalu memimpin shalat zuhur dan asar secara Jama’ dan qasar. kemudia menuju Sakhrat, batu karang dikaki bukit Jabal Rahmah. disini Rasulullah Saw. menerima wahyu surah Al-Maidah ayat 3:

“….hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamamu dan aku lengkapkan untukmu nikmat-Ku dan Aku relakan bagimu Islam sebagai agamamu…” 

Ketika Rasulullah Saw. menyampaikan wahyu yang baru beliau terima kepada para sahabat, Abu Bakar Shiddiq menangis tersedu-sedu. Umar ibnu Khattab bertanya, “Apa yang kau tangiskan, wahai Abu Bakar? Bukankah kita semua bergembira bahwa agama kita telah sempurna?” Abu Bakar menjawab, ”Tidakkah terpikir olehmu, wahai anak Khatab, hal ini merupakan isyarat bahwa Rasululah mungkin cuma sebentar lagi bersama dengan kita.” 

Rasulullah Saw. memerintahkan ummatnya untuk tidak menyia-nyiakan waktu wukuf. “Haji itu di Arafah,” sabda beliau. Sambil menghadap kiblat, Rasulullah dan para sahabat memuji dan mengagungkan Allah, berzikir, berdoa, memohon ampun, membaca ayat-ayat Al-Quran dan memperbanyak talbiyah. Setelah matahari terbenam, Rasulullah Saw, mengajak para jamaah haji untuk berangkat menuju Muzdalifah (Masy’ar al-Haram), sesuai dengan firman Allah:

” … Maka ketika kamu bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepAdamu, sekalipun sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang yang tidak tahu” (QS Al-Baqarah : 198 )

Rasululullah Saw. mengajak Usamah ibn Zaid untuk duduk di punggung unta Al-Qaswa’. Di zaman jahiliyah sudah menjadi kebiasaan untuk secepat mungkin untuk meninggalkan Arafah dengan berlari, maka Rasulullah melarang cara yang tergopoh-gopoh ini. ”Tenang-tenang, sebagaimana tenangnya jiwa. hendaklah yang kuat diantaramu membantu dan menagawasi yang lemah,” demikian sabda beliau.

Sesampainya di Muzdalifah, Rasulullah Saw. dan rombongan menunaikan sholat maghrib dan isya secara berjamaah di Muzdalifah. Tetapi beliau mengijinkan orang-orang yang lemah, wanita, anak-anak berangkat ke Mina sesudah tengah malam. Hal ini bertujuan agar dapat melontar jumrah sebelum massa datang membanjiri Mina. Sawdah istri Nabi yang paling gemuk, memohon ijin untuk pergi ke Mina malam itu juga sebab tubuhnya tidak kuat berdesak-desakkan. Rasulullah Saw mengijinkan dan mengirimkan Sawdah bersama Ummu Sulaim dengan ditemani oleh sepupu Rasul yang masih remaja, Abdullah ibn Abbas ibn Abdil Muthalib. Di kemudian hari, Abdullah Ibnu Abbas (nama populernya Ibnu Abbas) menjadi salah seorang perawi hadis yang termasyur.

Sesudah Sholat subuh di Muzdalifah, Rosulullah Saw. memimpin jamaah haji menuju Mina. Kini yang beliau ajak membonceng dipunggung Al-Qiswa’ adalah sepupu beliau Fadhil Ibnu Abbas (kakaknya Abdulah). Ketika melewati lembah Muhassir, Rasulullah menyuruh para jamaah haji mempercepat langkah jamaah haji seraya bersabda,” Bersegeralah melewati Muhassir sebab di lembah ini ashabul-fil (pasukan gajah) Abrahah dimusnahkan burung Ababil.”

Pada hari Sabtu, 10 Zulhijah (7 maret), pagi hari Rasulullah Saw. sampai di Mina. Beliau tidak mampir di Jumrah Ula dan Jumrah Wustha, melainkan langsung menuju jumrah Aqabah. Tepat sebelas tahun sebelumnya, pada musim haji tahun 621 (setahun sebelum Hijrah) di bukit Aqabah, persis diatas Jumrah, Rasulullah menerima ikrar sumpah setia dari para wakil masyarakat anshar (suku Aws dan Khazraj) yang mengundang beliau untuk berhijrah ke kota mereka, Yatsrib atau Madinah.

Berbeda dengan Jumrah Ula dan Jumrah Wustha yang terletak dilapangan terbuka, Jumrah Aqabah terletak di kaki bukit. Itulah sebabnya penampung batu lontaran di Jumrah Ula dan Jumrah Wustha berbentuk lingkaran, sedangkan diJumrah Aqabah hanya setengah lingkaran karena terhalang cadas bukit. Di kemudian hari, meskipun bukit aqabah sudah diratakan dengan tanah, ummat Islam “tidak berani” menjadikan penampung batu lontaran di Jumrah Aqabah sebagai lingkaran penuh seperti dua jumrah yang lain, mungkin karena takut dianggap bid’ah.

Pada tanggal 10 Zulhijah itu Rasulullah Saw. melakukan berbagai manasik dengan urutan sebagai berikut : Rasulullah melontar Jumrah Aqabah dengan batu kerikil sebanyak 7 kali, dan beliau bertakbir pada setiap lontaran. Inilah perlambang usaha penolakan secara maksimal terhadap godaan syetan. Sesudah melontar beliau berdoa,”Allahumma j’alhu hajjan mabruran wa sa’yan masykuran wa dzanban maghfura”. (ya Allah, jadikanlah manasik ini membuahkan haji yang bermutu, usaha yang diterima, dan dosa yang terampuni).  

Kemudian Rasulullah menyembelih hadyu sebanyak 63 ekor unta dengan tangan beliau sendiri, lalu sisanya yang 37 ekor di sembelih oleh Ali ibn Abi Thalib. Sesudah itu Rasulullah Saw. melakukan tahalul dengan menyuruh Khirasy, yang pernah mencukur kepala beliau ketika umrah tahun 7 Hijriah. Saat mengharukan ketika Rasulullah dicukur, Khalid ibn Walid dan Suhail ibn Amr memunguti rambut-rambut beliau yang jatuh, lalu mengusapkan rambut-rambut itu ke wajah mereka sambil menangis karena menyesali perbuatan mereka sebelum masuk Islam.

Selanjutnya, Rasulullah SAW pergi ke Mekkah untuk melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah. Setelah shalat zuhur, beliau kembali ke Mina. Oleh karena itu Rasulullah mengambil cara haji Qiran (haji dan umrah digabungkan), tanggal 10 Dzulhijjah itu beliau tidak melakukan sa’i, karena beliau sa’i cukup satu kali saja pada tanggal 4 dzulhijjah yang sudah mencakup sa’i haji dan umrah. Tetapi sebagian besar sahabat melakukan sa’i tanggal 10 Dzulhijjah atau sesudahnya karena mereka mengambil cara Haji Tamattu’ sesuai perintah Rasulullah SAW. Inilah sa’i haji bagi para sahabat yang Tamattu’ sebab sa’i mereka tanggal 4 Dzulhijjah adalah sa’i umrah saja dan belum sa’i haji.

Rasulullah SAW memberikan kelonggaran kepada jamaah haji untuk melakukan manasik dengan urutan yang berbeda-beda. Melontar jumrah, menyembelih hadyu, mencukur atau menggunting rambut, serta tawwaf dan sa’i boleh dilakukan secara tidak berurutan. Para jamaah haji boleh mendahulukan mana yang sempat dan mudah dikerjakan lebih dulu. Bahkan manasik-manasik di atas tidak harus semuanya terlaksana pada hari Nahar (10 Dzulhijjah).

Penyembelihan hadyu boleh dilakukan pada hari-hari tasyrik (11 – 13 Dzulhijjah). Tawwaf dan sa’i boleh dilakukan pada hari-hari tasyriq. Boleh juga dilakukan setelah jamaah pulang dari Mina asalkan masih dalam bulan Dzulhijjah. Juga boleh dilakukan urutan seperti ini : Dari Muzdalifah jamaah haji langsung ke Mekkah melakukan tawwaf dan sa’i, lalu tahallul mencukur atau menggunting rambut di Marwa, kemudian baru ke Mina untuk melompar Jumrah atau menyembelih hadyu. “Kerjakan saja, tidak apa-apa .. (If’al, laa haraj)“. Demikian selalu jawaban Rasulullah SAW ketika beliau ditanya oleh para jamaah mengenai urutan manasik-manasik di atas.

Apapun urutan manasik yang dipilih oleh jamaah haji, Rasulullah menginstruksikan kepada jamaah haji untuk menginap di Mina pada malam-malam hari Tasyriq, kecuali bagi mereka yang karena kesibukannya tidak dapat menginap di Mina. Rasulullah mengizinkan Paman beliau Abbas Bin Abdul Muthallib bermalam di Mekkah untuk mengelola Siqayah (air Zamzam untuk jamaah haji). Demikian pula para gembala yang harus menjaga ternak mereka di malam hari diberi izin oleh Rasulullah untuk tidak menginap di Mina.

Pada tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah, sesudah masuk waktu zuhur, Rasulullah SAW dan para jamaah haji melontar masing-masing tujuh lontaran secara berturut-turut Jumlah Ula, Jumrah Wustha dan akhirnya Jumrah Aqabah. Rasulullah memberikan kelonggaran bagi yang tidak sempat melontar jumrah pada siang hari untuk melakukannya di malam hari. Untuk orang yang sakit, lanjut usia, lemah atau wanita hamil, pelontaran boleh diwakilkan kepada orang lain.

Dimasa jahiliyyah, kaum musyrikin Quraisy menggunakan waktu luang di Mina untuk saling membanggakan silsilah keturunan dan kehebatan nenek moyang masing-masing. Rasulullah SAW melarang kebiasaan takabbur ini dan menggantinya dengan dzikir kepada Allah semata, sesuai dengan firman Allah :

“Maka ketika kamu telah menunaikan ibadah hajimu, berdzikirlah kepada Allah seperti berdziki nenek moyang kamu, bahkan harus lebih hebat dzikirnya.” (QS Al Baqarah 203)

Jadi pada tanggal 12 Dzulhijjah sore hari jamaah haji boleh melakukan Nafar Awal (pulang duluan) meninggalkan Mina pulang ke Mekkah. Mereka yang ingin Nafar Awal harus sudah berada di luar Mina sebelum maghrib. Jika saat maghrib masih di Mina, mereka harus mengambil Nafar Tsani (pulang pada rombongan kedua), yaitu harus bermalam di Mina dan melontar lagi 3 jumrah pada tanggal 13 Dzulhijjah. Setelah itu, jamaah pulang ke Mekkah. Sebagian sahabat memilih Nafal Awal dan sebagian lagi memilih Nafar Tsani. Adapun Rasulullah SAW melakukan Nafar Tsani, pulang ke Mekkah tanggal 13 Dzulhijjah.

Pada malam 14 Dzulhijjah Rasulullah menyuruh istri beliau Aisyah yang selesai masa haidnya untuk menunaikan Um rah. “Inilah pengganti Umrahmu yang gagal,” sabda Nabi.  Aisyah kembali berihram dari Tan’im dengan ditemani adiknya Abdur Rahman Bin abu Bakar. lalu mereka melakukan tawwaf dan sa’i hingga bertahallul di Marwa. Pengalaman Aisyah yang melakukan haji Ifrad (haji dulu baru Umrah) dijadikan dasar oleh para ulama dikemudian hari untuk membolehkan haji ifrad bagi yang bukan penduduk Mekkah dan tidak membawa hadyu.

Pengalaman Abdur Rahman Bin Abu bakar yang melakukan Umrah lagi, dijadikan sebagai dasar untuk melakukan umrah sunnah di musim haji dengan berihram dari Tan’im. Tetapi ada juga ulama yang berpendapat bahwa jamaah yang tidak membawa hadyu harus melakukan haji Tamattu’ sesuai perintah Rasul. Aisyah sendiri melakukan Ifrad karena sedang haid, serta umrah sunnah di musim haji tidak dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat. Umrahnya AbdurRahman Bin Abu Bakar karena menemani kakaknya Aisyah. Wallahu a’lam.

Sesuadah shalat subuh hari Rabu 14 Dzulhijjah (11 Maret), Rasulullah SAW dengan istri-istri beliau kecuali Safiyah yang mengalami haid dua hari sebelumnya, melakukan tawwaf wada’, lalu mereka kembali ke Madinah. Rasulullah tidak dapat berlama-lama di Mekkah sebab pekerjaan beliau sebagai kepala negara harus segera beliau rampungkan. Tiga bulan sesudah itu pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 11 H (8 Juni 632 M) Rasulullah berpulang ke rahmatullah.

Rasulullullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda tentang haji mabrur: Artinya; ‘Umrah ke umrah menghapus dosa antara keduanya, dan tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga.” (HR. Al-Bukhari 1773, Muslim 1350).

Dan di hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullullah Sallallahu Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang amalan apa yang paling utama? Beliau menjawab : ‘Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.’ Kemudian beliau ditanya kembali, ‘Setelah itu apa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Jihad fi Sabilillah.’ Kemudian ditanya lagi, ‘Lalu apa lagi? Beliau menjawab, ‘Haji mabrur.’ (HR. Al-Bukhari 1519, Muslim 83)

C. MENCAPAI HAJI MABRUR

Ulama berbeda pendapat dalam memaknai haji mabrur. Sebagian berpendapat bahwa ia adalah amalan haji yang diterima di sisi Allah, dan sebagiannya lagi berpendapat yaitu haji yang buahnya tampak pada pelakunya dengan indikasi keadaannya setelah berhaji jauh lebih baik sebelum ia berhaji. (lihat Fathul Allam oleh Shiddiq Hasan Khan 1/594). Salah seorang Ulama Hadis Al Hafidh Ibn Hajar al’ Asqalani dalam kitab Fathul Baarii, syarah Bukhori Muslim menjelaskan: “Haji mabrur adalah haji yang maqbul yakni haji yang diterima oleh Allah Subhanahu waTa’ala.”

Pendapat lain yang saling menguatkan dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam syarah Muslim: “Haji mabrur itu ialah haji yang tidak dikotori oleh dosa, atau haji yang diterima Allah Subhanahu waTa’ala, yang tidak ada riyanya, tidak ada sum’ah tidak rafats dan tidak fusuq.”

Selanjutnya oleh Abu Bakar Jabir al Jazaari dalam kitab, Minhajul Muslimin mengungkapkan bahwa: “Haji mabrur itu ialah haji yang bersih dari segala dosa, penuh dengan amal shaleh dan kebajikan-kebajikan.” Berdasarkan rumusan yang diberikan oleh para Ulama di atas tentang pengertian haji mabrur ini, maka dapat kita simpulkan bahwa haji mambur adalah haji yang dapat disempurnakan segala hukum-hukum berdasarkan perintah Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi waSallam. Sebuah predikat haji yang tidak mendatangkan perasaan riya’ bersih dari dosa senantiasa dibarengi dengan peningkatan amal-amal shalih, tidak ingin disanjung dan tidak melakukan perbuatan keji dan merusak.

Makna di atas saling berdekatan, dan untuk mencapai kemabruran haji tentu tidak dapat terlepas dari makna diatas. Dengan demikian Al-Allamah Al-Munâwi berkata ketika menjelaskan makna ‘haji mabrur’ : ‘Maknanya adalah haji yang diterima, yaitu haji yang tidak tercampur dengan dosa apapun, dan diantara indikasi diterimanya adalah ia kembali melakukan kebaikan yang pernah ia lakukan dan ia tidak kembali melakukan kemaksiyatan.’ (Faidhul Qadîr oleh Al-Allamah Al-Munâwi 3/520)

Syarat-syarat Haji Mabrur

Untuk meraih predikat haji mabrur, maka mesti terkumpul di dalamnya hal-hal berikut:

  1. Hendaknya haji yang ia lakukan harus benar-benar ikhlash karena Allah, bahwa motivasinya dalam berhaji tidak lain hanya karena mencari ridha Allah dan bertaqarrub kepada-Nya. Ia berhaji bukan karena riya’ dan sum’ah, dan bukan pula karena ingin di gelar dengan sebutan haji. Ia berhaji semata-mata mencari keridhaan Allah.
  2. Haji yang ia lakukan mesti serupa dengan sifat haji Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam. Maksudnya dalam melakukan proses ibadah haji, manusia dengan segenap kemampuannya mengikuti cara yang dicontohkan Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam.
  3. Harta yang ia pakai untuk berhaji adalah harta yang mubah bukan yang haram. Bukan diperoleh dari hasil transaksi riba, tipuan, judi dan bentuk-bentuk lainnya yang diharamkan. Tapi, didapat dari usaha halal.
  4. Hendaknya ia menjauhi rafats (menge-luarkan perkataan yang menimbulkan birahi/bersetubuh), berbuat fasik, dan berbantah-bantahan. Allah berfirman:

فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ

Artinya: ‘Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. (QS. Al-Baqarah 197).

Tanda Haji Mabrur

Sebenarnya yang mempunyai hak menilai kemabruran haji seseorang hanyalah Allah Ta’ala. Dan sebagai manusia kita hanya bisa menilai mabrur tidaknya haji dari pandangan manusia saja. Ada beberapa tanda haji mabrur menurut para Ulama Islam berdasarkan akan keterangan serta nash Al-Qur’an dan As-Sunnah. Berikut beberapa tanda ciri haji mabrur tersebut :

  1. Segala amalan ibadah haji dilakukan dan berdasarkan atas keikhlasan mendapatkan keridhoan Allah Ta’ala dan juga dilaksanakan sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Dalam melaksanakan ibadah haji ini kita harus benar-benar meluruskan niatan hati kita ikhlas karena Allah, bukan karena kita naik haji karena gengsi, untuk status sosial atau niat keliru lainnya untuk mendapatkan pandangan masyarakat saja. Inilah salah satu ciri haji yang mabrur.
  2. Harta yang digunakan dalam melaksanakan haji tersebut adalah dari hasil harta yang halal. Karena sesuatu yang baik dalam hal apa pun akan menghasilkan hasil yang baik bila hal tersebut juga berasal dari yang baik. Untuk itu bila kita memang menginginkan pergi haji dan melaksanakan ibadah haji maka kita juga harus bisa memastikan harta yang dipakai kita adalah halal agar bisa bisa nantinya mendapatkan haji yang mabrur.
  3. Melaksanakan serangkaian ibadah haji yang telah dituntunkan dan ditambah serta dipenuhi dengan amalan-amalan ibadah lainnya yang menyertainya seperti halnya memperbanyak dzikir di Masjidil Haram, memperbanyak sedekah di kala haji dan berkata-kata yang baik. Point pentingnya adalah dengan banyak melakukan kebaikan di dalam melaksanakan haji tersebut. Di antara amalan khusus yang disyariatkan untuk meraih haji mabrur adalah bersedekah dan berkata-kata baik selama haji. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang maksud haji mabrur, maka beliau menjawab :”Memberi makan dan berkata-kata baik.” (HR. Al-Baihaqi 2/413 (no. 10693).
  4. Tidak melakukan perbuatan maksiat khususnya dalam melaksanakan ihram. Larangan berbuat maksiat ini memang dalam setiap tindakan kita dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya saat sedang melaksanakan haji, maka meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat adalah salah satu cara dan tips agar haji kita memperoleh kemabruran. Hal-hal yang termasuk dilarang dalam ihram dan haji adalah rafats, fusuq dan berbantah-bantahan selama mengerjakan haji. Pengertian rafats adalah semua bentuk kekejian dan perkara yang tidak berguna. Termasuk di dalamnya bersenggama, bercumbu atau membicarakannya, meskipun dengan pasangan sendiri selama ihram. Fusuq adalah keluar dari ketaatan kepada Allah, apapun bentuknya. Dalilnya adalah salah satunya hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu :”Barang siapa yang haji dan ia tidak rafats dan tidak fusuq, ia akan kembali pada keadaannya saat dilahirkan ibunya.” (HR. Muslim (1350).
  5. Kebaikan dan amal sholehnya meningkat setelah selesai melaksanakan ibadah haji dan tiba di tanah air. Salah satu tanda diterimanya amal seseorang di sisi Allah adalah diberikan taufik untuk melakukan kebaikan lagi setelah amalan tersebut. Sebaliknya, jika setelah beramal saleh melakukan perbuatan buruk, maka itu adalah tanda bahwa Allah tidak menerima amalannya. Sama halnya dengan diterima amalan ibadah puasa ramadhan maka bila sebelas bulan berikutnya amalan ibadah kita meningkat maka itu adalah salah satu tanda ibadah puasa Ramadhan kita diterimaNya. Sehingga tentunya kita lebih memahami bahwasannya setelah melaksanakan ibadah haji maka amalan ibadahnya akan semakin baik, banyak bertaubat setelah haji, berubah menjadi lebih baik baik dalam ibadahnya kepada Allah dan juga hubungannya antara sesama manusia, memiliki hati yang lebih lembut dan bersih, ilmu dan amal yang lebih mantap dan benar, kemudian istiqamah di atas kebaikan itu adalah salah satu tanda haji mabrur

D. HIKMAH HAJI DALAM BERBAGAI ASPEK

Akhirnya kunjungan ke tanah suci harus diakhiri. Jamaah bergegas meninggalkan Mekah menuju Jeddah untuk kembali ke tanah air. Kerinduan terhadap keluarga yang ditinggalkan akhirnya akan terpenuhi. Namun kenangan terhadap Masjidil Haram dan Kabah akan abadi selamanya.

Setelah tiba di tanah air lakukan sujud syukur dan shalat sunnat di masjid yang terdekat dengan rumah. Kini engkau menjadi duta Allah untuk berdakwah dan beramar maruf di lingkungan masing-masing.

Jamaah haji yang pulang ke tanah air diharapkan membawa dampak positif bagi dirinya, keluarga dan masyarakat sekitar setelah melaksanakan ibadah haji. Seorang haji diharapkan melaksanakan amar maruf nahi munkar dengan menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar dan menggali potensi sehingga terbentuk kekuatan ummah.

Seorang haji diharapkan mengamalkan pesan moral yang diperoleh ketika berhaji dengan merefleksikannya dalam keseharian dan di lingkungan sekitarnya. Seorang haji harus mampu menjadi role model bagi masyarakat untuk menciptakan kemajuan dalam masyarakat yang irahmati Allah.  Demikianlah harapan yang diminta kepada para calon haji agar menjadi haji yang mabrur, sehingga Allah mengganjarnya dengan syurga : Haji Mabrur, tiada balasannya kecuali Syurga.

Realisasi Haji dalam kehidupan

Dr. Ali Syariati, melalui analisanya, mengajak kita untuk menyelami makna haji. Menggiring kita ke dalam lorong-lorong haji yang penuh makna. Diajaknya kita untuk memahami haji sebagi langkah “pembebasan diri”, bebas dari penghambaan kepada tuhan-tuhan palsu menuju penghambaan kepada Tuhan Yang Sejati.

Melalui uraiannya membangkitkan semangat, kita diberitahu siapa saja kepalsuan yang ternyata menjadi sahabat, kekasih dan pembela kita, yang harus kita waspadai dan kita bongkar topeng kemunafikannya. Haji bukanlah sekadar prosesi lahiriah formal belaka, melainkan sebuah momen revolusi lahir dan batin untuk mencapai kesejatian diri sebagi manusia. Dengan kata lain, orang yang sudah berhaji haruslah menjadi manusia yang lebih lurus hidupnya dibanding sebelumnya. Kalau tidak, sesungguhnya kita hanyalah wisatawan yang berlibur ke tanah suci di musim haji, tidak lebih! Tanda-tanda kemabruran haji seseorang adalah jika ia mampu membentuk kepribadiannya menjadi lebih baik setelah melaksanakan haji dibandingkan sebelumnya dan tidak lagi mengulang maksiat.

Pelestarian Ibadah haji dilaksanakan dengan merealisasikan apa yang dilakukan selama haji dalam kehidupan sehari-hari.  Keterkaitan antara pelaksanaan haji dengan kehidupan sehari-hari antara lain terwujud dalam:

  • Pengambilan sikap untuk berbuat sesuai aturan Allah sebagai realisasi dari pengambilan miqat ihram.
  • Menjaga diri dengan aturan  dan membatasi diri dari hal yang mengharamkan sebagai realisasi dari ihram.
  • Senantiasa mendahulukan panggilan Allah dan tidak membaurkan dengan niat dan tujuan lain sebagai realisasi dari ungkapan Talbiyah.
  • Memperjuangkan syiar Allah sehingga Allah dan Islam menjadi pusat dari perputaran dunia sebagai realisasi kepatuhan dan kekhusyuan dalam ibadah Thawaf.
  • Senantiasa berintrospeksi  sebagai perwujudan makna Wukuf di Arafah.
  • Senantiasa berkurban di jalan Allah dengan harta dan jiwa sebagai realisasi dan makna berqurban dan tahalul.
  • Kesediaan untuk sewaktu–waktu beriktikaf, berkhalwat dan tadabur  alam sebagai realisasi makna mabit.
  • Keharusan berusaha dan berjuang sekuat tenaga untuk meraih kehidupan dan cita-cita masa depan sebagai realisasi Sa’i antara Safa dan Marwah.
  • Memelihara kelestarian alam dan menghindari seluruh aktivitas yang merusak lingkungan hidup sebagai realisasi larangan berburu, memotong pohon dan menyakiti orang lain selama berhaji.
  • Berjiwa toleran dan saling menghormati sesama sebagai realisasi makna larangan untuk berbuat rafats, fusuq, dan jidal.

Hikmah Ibadah Haji

Banyak sekali Hikmah yang terkandung dalam ibadah Haji, baik yang dinyatakan dalam Al Qur’an maupun yang harus dicari sendiri oleh pelakunya.  Ibadah haji telah mewujudkan pertemuan dialogis antara kesadaran aqidah dan kecerdasan rasio.

Pengalaman spiritual masing-masing orang akan berbeda tergantung kepada banyak factor.  Dalam berbagai amaliah haji seringkali sulit bagi akal manusia untuk memahami atau mengungkapkan apa hikmah yang tersirat di dalamnya yang sepintas terlihat irasional dan tak masuk akal.

Para Haji yang telah pulang ke tanah airnya diharapkan mendapat pencerahan yang direfleksikan kepada masyarakat dengan amal shaleh dan karya nyata.  Indikator kemabruran haji nampak pada kepribadian dan sikap sebagai berikut:

  1. Kepatuhan dan penyerahan kepada Allah semata.

Hikmah utama dari ibadah haji adalah sebagai bentuk Kepatuhan dan penyerahan diri kepada Allah. Ketika Allah memanggil kita, maka kita bergegas memenuhi panggilan tersebut walaupun harus menempuh perjalanan  jauh dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, meluangkan waktu yang sangat berharga dan meninggalkan keluarga dan harta benda.  Dengan demikian seorang haji akan selalu siap bila Allah memerintahkannya menjalankan tugas luhur dari Allah karena untuk memenuhi tugas yang sulitpun kita telah bersedia datang memenuhi panggilannya.

  1. Meningkatkan kedisiplinan.

Selama di tanah suci, jamaah haji dibiasakan untuk disiplin melaksanakan semua ritual haji dan sholat secara berjamaah di awal waktu dengan bersemangat. Kebiasaan disiplin tersebut diharapkan dapat melekat dalam kehidupan selanjutnya. Hasan al-Bashari berkata: Bersegerah, bersegeralah, sesungguhnya itulah napasmu, jika telah dihisab niscaya ia akan terputus darimu amal ibadahmu yang dengannya kamu mendekatkan diri kepada Allah swt, semoga Allah swt memberikan rahmat-Nya kepada seseorang yang merenungkan dirinya dan menangisi dosanya, kemudian ia membaca firman Allah swt:

karena sesungguhnya Kami hanya menghitung datangnya (hari siksaan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti” (QS. Maryam: 84),

Apakah ada obat mujarab untuk mengobati penyakit malas dalam melaksanakan rutinitas keta’atan? kematian, ingatlah kita semua akan berangkat meninggalkan dunia ini menuju suatu negeri yang akan dibalas padanya orang-orang yang berbuat baik dan yang berbuat jahat, apabila kita menginginkan untuk terus merasakan berkah hajimu, maka ingatkanlah dirimu dengan kematian, karena sesungguhnya ia pada saat itu akan segera untuk melaksanakan amal shalih dan giat dalam beribadah kepada Allah swt. Ibnu Umar ra berkata: [Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi, dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah engkau menunggu hingga sore, ambilah kesempatan sehatmu untuk saat sakitmu, dan ambilah kesempatan hidupmu untuk saat matimu.  

  1. Senantiasa Mengingat Kematian

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata: [Kematian ini menahan penduduk dunia dari kenikmatan dunia dan perhiasaannya yang mereka nikmati, sehingga tatkala mereka dalam keadaan seperti itu kematian datang menjemputnya, maka celaka dan merugilah orang yang tidak takut mati dan tidak mengingatnya di saat senang sehingga dapat memberikan kebaikan yang akan didapatinya setelah ia meninggalkan dunia dan para penghuninya].

  1. Senantiasa memperbanyak berdo’a kepada Allah swt,

agar Dia selalu menetapkan kita dalam keta’atan,   meluruskan langkah dan senantiasa menjalani jalur agama-Nya yang benar. Rasulullah saw memperbanyak do’a kepada Allah swt agar menetapkannya di atas agama-Nya, Kebanyakan doa beliau adalah “Wahai Dzat Yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hatiku berada diatas agama-Mu

  1. Motivasi peningkatan diri.

Ibadah haji akan menumbuhkan motivasi untuk memperbaiki diri. Seseorang yang bergelimang dosa, sering putus asa dengan dosa-dosanya sehingga sering merasa sudah terlanjur dengan dosanya. Dengan jaminan Allah bahwa Haji akan menghapus dosa, seolah-olah kita disegarkan kembali, sehingga akan termotivasi untuk menjaga diri agar tidak membuat dosa lagi.

  1. Menumbuhkan jiwa sabar

Kondisi yang dihadapi selama pelaksanaan ibadah haji akan menumbuhkan jiwa sabar. Dalam kondisi hampir 4 juta manusia berkumpul pada satu saat dan satu tempat maka fasilitas yang ada menjadi sangat terbatas. Setiap aktivitas membutuhkan kesabaran yang tinggi, mulai dari antri makan, ke toilet, dll.

Setelah berhaji kita harus sabar dalam keta’atan ketika meneruskan perjalanan hidup dan bersabar pula dalam meninggalkan maksiat, karena sesungguhnya bersabar dalam melaksanakan ibadah dan meninggalkan maksiat merupakan tingkatan sabar yang tertinggi. Sesungguhnya kesudahan bagi orang-orang yang bersabar adalah surga:

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabbnya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rejeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk kedalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan):”Salamun ‘alaikum bima shabartum”.Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu” (QS. Ar-Ra’ad:22-24)

  1. Menumbuhkan Solidaritas dan kebersamaan.

Berkumpulnya ummat Islam dari seluruh dunia pada satu saat di satu tempat menumbuhkan jiwa solidaritas & kebersamaan. Kita akan bertemu dengan saudara Muslim dari seluruh dunia dalam kesederhanaan dan keberagaman. Kapan lagi bertemu dengan Muslim dari Kosovo, Uzbekistan, Kazakhstan, Mali, Nigeria, Bosnia Herzegovina, Turki, Kirgistan, China, India, Pakistan, Bangladesh, Afganistan. Walaupun ada perbedaan dalam tata cara ibadah, namun tidak membuat ikatan persaudaraan sesama muslim menjadi terhambat.

  1. Menjiwai perjuangan para rasul.

Di Tanah suci kita akan mengunjungi tempat-tempat bersejarah para Nabi dan rasul. Dengan menyaksikan tempat-tempat tersebut dan mempelajari sepak terjang mereka maka kita akan sampai pada tahapan ainul yakin dan haqul yakin sehingga menginspirasi kita untuk belajar dari para pendahulu.

Ibadah haji penuh dengan ‘gerakan’ dari satu tempat menuju tempat lain. Dari Miqat menuju Arafah, dari Arafah menuju Muzdalifah, dari Muzdalifah menuju Mina. Haji merupakan gerakan bukan sekedar perjalanan. Bila perjalanan akan sampai pada ujung, maka haji adalah sasaran yang berusaha kita dekati, bukan tujuan yang kita capai. Untuk menuju Allah ada 3 fase yang harus dilalui : Arafah, Masy’ar (Muzdalifah) dan Mina. Arafah berarti “Pengetahuan”, May’ar berari “Kesadaran” dan Mina berarti Cina dan keimanan. Arafah melambangkan penciptaan manusia dan tempat pertemuan Adam dan Hawa, di sanalah mereka saling berkenalan.

Berkumpulnya ummat Islam sedunia melaksanakan Ibadah haji merupakan sarana dan media efektif untuk meningkatkan dakwah Islamiyah dan mempersatukan ummat manusia dalam satu panji Islam yang akan menggentarkan musuh-musuhnya.

Indikator Haji Mabrur

Setibanya dari haji, kita masih merasa dekat dengan Allah swt, sehingga alangkah baiknya bila kebiasaan selama berhaji dilanjutkan sebelum datangnya rasa malas dan jemu yang membuat sirna haji kita bersama tiupan angin.    Berjuanglah agar kita tidak menjadi lemah sebagaimana ketika berjuang pada hari-hari kita berada di tempat yang suci tersebut.

Bersamaan dengan kepulangan kita menuju tanah air, yaitu: janganlah kita memandang terhadap diri sendiri seperti pandangan orang-orang yang tertipu, yaitu orang-orang yang apabila mengerjakan sedikit saja keta’atan, mereka menganggap diri mereka seolah-olah manusia paling mulia dimuka bumi, akan tetapi lihatlah dirimu dengan pandangan kekurangan, karena sesungguhnya sebanyak apapun amal shalih yang kita kerjakan, maka ia tidak bisa digunakan untuk mensyukuri kenikmatan terkecil yang Allah anugerahkan terhadap kita.

Rasulullah saw mengajarkan kepada kita bagaimana cara beribadah kepada Allah swt, Beliau beribadah di malam hari hingga bengkak kedua kakinya, apabila mereka bertanya akan hal tersebut, beliau akan menjawab:

Apakah aku tidak boleh untuk menjadi hamba yang sangat bersyukur?”  Dan Nabi saw bersabda:“Demi Allah, sesungguhnya aku meminta ampun dan bertaubat kepada Allah swt dalam sehari lebih dari tujuh puluh kaliHR. al-Bukhari

Indikator kemabruran haji dapat dilihat pula dari aspek kehidupan sosial kemasyarakatan antara lain;

  1. Menegakkan shalat berjamaah dan menjadi pelopor kemakmuran masjid. Salah satu pendidikan dalam haji yang mengedepankan pentingnya melaksanakan shalat berjamaah adalah perintah kepada para jamaah haji untuk melaksanakan shalat arbain (empat puluh waktu shalat) di masjid nabawi yang bertujuan membiasakan para hujjaj untuk selalu sigap melaksanakan shalat berjamaah di masjid sekembalinya dari haji.
  2. Meningkatkan kepedulian terhadap orang yang lemah, menyantuni anak yatim dan fakir miskin sebagai amanah Allah kepada hambanya yang berkemampuan melalui zakat, infaq dan shadaqoh. Rasulullah menegaskan bahwa salah satu tanda kemabruran adalah kecenderungan serang Hujaj untuk memberi kepada yang membutuhkan. Sebagai pelayanan masyarakat seorang Haji akan mendatangi anak yatim dan fakir miskin untuk membantu dan menghidurnya untuk mendapatkan keridhoan Allah.
  3. Menjenguk orang sakit dan takjiyah kepada yang meninggal.   Seorang haji yang mendengar sanak saudara atau famili yang sedang menderita sakit atau meninggal dunia akan tergerak untuk menjenguk dan takziah sebagai tindak lanjut talbiyah yang sudah masuk ke dalam hati bukan hanya sekedar di mulut. Menjenguk orangsakit sangat dicintai Allah karena merupakan implementasi dari menghidupkan silaturahmi sehingga puluhan ribu malaikat akan mengiringi orang yang menghidupkan silaturahmi ini.
  4. Aktif memperjuangkan dakwah dan amar maruf nahi munkar.
  5. Tolong Menolong terhadap saudara, kerabat dan tetangganya. Kebiasaan saling tolong menolong merupakan panggilan Illahi yang terbiasa melakukan tolong menolong selama di tanah suci.
  6. Mendamaikan orang yang berselisih.  Sebagai duta Allah, seorang Hujjaj terpanggil untuk menjadi duta perdamaian yang mendamaikan orang yang berselisih. Jika seorang haji mendengar ada orang yang berselisih, maka berita itu merupakan undangan ALLah untuk mengishlahkan orang yang berselisih dan menyambungkan kembali tali silaturahmi di antara mereka.
  7. Patuh melaksanakan perintah Allah khususnya meningkatkan kualitas Shalat sebagai dasar untuk melaksanakan amar makruf nahi munkar. Sahalat berkualitas adalah shalat yang dilaksanakan dengan Khudu (rendah diri), khusyu, dan menjaga waktunya.
  8. Konsekuen meninggalkan apa yang diperintahkan Allah karena malu kepada Allah .
  9. Gemar melaksanakan ibadah sunnah dan menjauhi amal yang makruh dan tidak bermanfaat.
  10. Meningkatkan rasa syukur dan tawakal. Orang yang melaksanakan haji berarti mendapatkan nikmat besar yang wajib disyukuri disamping berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya lalu berserah diri kepada Allah.
  11. Memelihara akhlaq terpuji. Akhlaq terpuji adalah perilaku orang shaleh yang melekat pada dirinya dalam pergaulan hidup bermasyarakat
  12. Meningkatkan ibadah puasa dan membiasakan membaca AL Qur’an.  Ibadah puasa adalah sarana untuk mencapai ketaqwaan dan mengendalikan syahwat di samping menjaga kesehatan jasmani. Membaca Al Qur’an adalah sarana untuk menambah ilmu yang akan menjadi syafaat di akhirat.
  13. Memelihara kejernihan hati dan kejujuran sehingga tidak mudah terjerumus ucapan dan perbuatan maksiat yang merugikan orang lain.
  14. Bersemangat mencari ilmu dan mengembangkan potensi diri
  15. Cepat bertaubat ketika menyadari dirinya melakukan kesalahan
  16. Senantiasa bekerja keras untuk mencari nafkah untuk kebutuhan dirinya dan berusaha tidak membebani orang lain.

” وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Ankabuut: 69)

” فَأَمَّا مَن طَغَى {37} وَءَاثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا {38} فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى {39} وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى {40} فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى “

Adapun orang yang melampaui batas, (37) dan lebih mengutamakan kehidupan dunia (38) maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). (39) Dan adapun orang-orang yangtakut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya (40) maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” (QS. An-Nazi’aat: 37-41)

Setiap pribadi umumnya akan mendapatkan hikmah dan pengalaman sendiri yang boleh diceritakan kepada orang lain sebagai rasa syukur dan pelajaran bagi orang lain. Siapa tahu bisa menjadi wasilah agar orang lain mengikuti jejak kita melaksanakan ibadah haji.  Namun bila ada pengalaman kurang baik sebaiknya disimpan untuk introspeksi diri, kalaupun diceritakan bukan untuk menakut-nakuti namun untuk menjaga kewaspadaan.

 E. MAKNAN SPIRITUAL HAJI BAGI KEHIDUPAN SOSIAL

HAJI adalah ibadah yang sangat monumental dalam kehidupan seorang muslim. Sebab tidak semua muslim bisa melaksanakannya. Sebagai ibadah yang paripurna, Haji melibatkan semua aspek, mulai dari materi, fisik maupun psikis.

Orang yang tidak memiliki tiga hal tersebut tidak bisa melakukan ibadah haji. Betapa banyak orang yang dari segi fisik mampu tapi materi tidak cukup. Atau punya harta yang cukup tapi fisik tak mendukung. Bahkan, ada orang yang memiliki kemampuan finansial dan fisik tapi psikisnya terganggu, juga tidak bisa melaksanakan ibadah haji.

Sebuah ‘simbol’

Ali Syariati dalam bukunya Hajj: Reflection on its Rituals memberikan refleksi bahwa Haji adalah sebuah “simbol”. Semakin dalam engkau menyelami lautan ini, semakin jauh engkau dari tepiannya. Haji adalah samudera tak bertepi. Artinya haji sarat dengan makna spiritual yang mendalam di balik ritual simboliknya.

Pertama, Thawaf, yakni mengitari Kakbah sebanyak tujuh kali melawan arah jarum jam. Thawaf adalah simbol bahwa alam ini tidak berhenti bergerak. Ini dilambangkan dengan mengelilingi Kakbah. Manusia yang ingin eksis adalah yang manusia yang selalu bergerak. Maknanya, bergerak adalah entitas kehidupan, sebab berhenti bergerak sama dengan kematian. Kualitas seseorang ditentukan oleh bergeraknya ia ke arah yang memberi gerak. Bergerak ke pusat orbitnya. Dalam konteks kehidupan kita, seseorang yang haji adalah pribadi yang bergerak dalam mengejewantahkan nilai-nilai ketuhanan di muka bumi. Bergerak dari perilaku yang penuh dengan maksiat menuju perilaku yang penuh rahmat. Karena dengan bergerak ke arah ketuhananlah kita akan selamat dalam kehidupan ini. Sebab berhenti bergerak adalah statis dan itu sejatinya mati,walau tanpa dikebumi.

Dalam Thawaf, jama’ah belajar tentang makna disiplin, keharusan mengikuti hukum dan aturan, mengedepankan kebersamaan, menjauhkan egoisme, dan keharusan dalam hidup untuk berkeliling menuju kepada Yang Satu, menemukan Yang Esa, dan selalu berdekatan dengan-Nya. Betapa dlam hidup ini, manusia mestinya mengikuti pola aturan dalam thawaf itu. Dalam kehidupan mesti ada aturan hukum yang dibuat dan ditaati. Ada syari’ah yang dijunjung tinggi, dipatuhi dan ditegakkan. Manusia sejatinya berkeliling berputar-putar dalam kehidupannya, menuju kepada yang satu, kepada Yang Esa. Berbagai aktifitas dilakukan dalam kehidupan itu, tapi hendaklah aktifitas itu sesuai dengan aturan hukum, mentaati perintah Tuhannya hingga mendapat ridha dari-Nya.

Bila sabilillah (jalan Allah) yang kita tempuh, maka sampailah kita pada tujuan kebahagiaan, tapi bila sabilitthaghut (jalan taghut) yang kita tempuh pasti kita tersesat menuju siksa Allah. Sabilillah itulah jalan yang benar, Sabilithaghut itulah jalan yang sesat. Firman Allah: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus…”. ( QS. Al-Baqarah:256)

Kedua, Sa’i yaitu berlari-lari kecil antara bukit Safa dan Marwa. Hal ini dilakukan ketika Siti Hajar sangat membutuhkan air di padang yang tandus. Berdua dengan anak yang masih kecil di tempat yang tidak dikenal dan tidak ada sumber kehidupan. Sebuah tantangan kehidupan yang teramat berat. Berkali-kali Siti Hajar berlari-lari mencari sumber kehidupan. Ketika sampai di Marwa, ia melihat air di Safa, ketika sampai di Safa, ia melihat air di Marwa. Ternyata gambaran air itu adalah fatamorgana. Tanpa disangkanya muncullah air di kaki Ismail, air yang dikenal dengan nama air Zam-Zam. Perilaku Siti Hajar itu memberikan gambaran kepada kita bahwa untuk hidup perlu usaha, usaha yang sungguh-sungguh dan maksimal. Kendati ia isteri Nabi tapi Siti Hajar tidak ujug-ujug minta kepada Allah Swt sebelum berusaha. Kendatipun usaha telah maksimal, keputusan akhir ada di tangan Allah Swt. Terkadang dalam kehidupan kita merasakan bagaimana usaha telah maksimal tapi hasil tak memuaskan. Sejatinya itu menunjukkan bahwa yang menentukan hasil adalah Allah. Manusia tak satupun yang punya kuasa.

Dalam Sa’i, jamaah belajar tentang pentingnya usaha, doa, dan kepasrahan kepada Allah. Dengan usaha seseorang mendapat apa yang di ingiinkan. Namun bila yang didapatkan itu tidak persis sama dengan yang dikehendaki, setidaknya dia telah berusaha. Bila Allah menghendaki berbeda, maka itu adalah yang terbaik yang diberikan Allah kepadanya. Siti Hajar, isteri Nabi Ibrahim AS, berlari-lari kecil berusaha mencarikan air minum untuk putranya, Ismail. Bolak-balik Hajar mencari air dari bukit shafa ke bukit Marwah. Dia tidak mendapat air, namun usahanya telah dicatat sebagai usaha mulia. Usaha mulia itu dibalas oleh Allah dengan diberikannya sumber air jernih yang tidak jauh malah di dekat kaki Ismail, itulah sumur Zamzam. Dalam kehidupan kita seringkali apa yang kita tidak sesuai dengan yang kita usahakan. Namun usaha kita yang sungguh-sungguh pasti dicatat Allah sebagai sebuah kemuliaan. Allah akan memberi yang terbaik buat kita, meskipun bisa jadi tidak sesuai dengan yang kita inginkan belum tentu baik buat kita, dan Allah mengetahui apa yang terbaik buat kita.

Dalam rangkaian ibadah haji, jamaah haji melaksanakan sa’i, berjalan dari shafa ke Marwa sebanyak tujuh kali, berusaha menempuh perjalanan mencari sesuatu yang dikehendaki. Diharapkan setelah kembali ke tanah air, mereka terus melaksanakan sa’i, berusaha dengan sungguh-sungguh, menggapai keinginan dan cita-cita yang diridhai Allah.

Tanggal 9 Dzulhijjah, jama’ah haji memadati padang Arafah. Semua jamaah berduyun-duyun menuju padang Arafah dengan mengedarai bus, mobil, atau berjalan kaki. Satu persatu jamaah memasuki tenda-tenda yang beralaskan kasur yang ditata berhimpit-himpitan, atau sekedar beralas tikar seadanya. Semua berada dalam kebersahajaan. Tidak mempunyai apa-apa selain pakaian ihram yang dipakai.

Ketiga, Melontar jumrah. Sebuah ibadah yang didasarkan kepada perilaku Nabi Ibrahim as yang melempar setan ketika ia ingin menunaikan perintah Allah Swt. Setan adalah simbol menggagalkan manusia untuk mentaati Allah. Dan itu harus dilawan dan dikeluarkan dari diri manusia. Setan di dalam diri manusia terkadang muncul dengan berbagai personifikasi. Bagi orang yang kaya setannya adalah perilaku Qarun. Orang yang memiliki kekuasaan adalah sifat Fir’aun dan bagi yang intelektual adalah perilaku Bal’am. Untuk menjadi orang yang selamat bergerak dalam kehidupan mesti setan-setan itu dilempar dari kehidupan kita. Dan ini harus dimiliki seorang yang haji.

Keempat, Di Arafah, jamaah haji besimpuh menghadap Allah dalam kesederhanaan. Mereka berkumpul laksana sedang di padang Mahsyar, menyerahkan seluruh amal perbuatannya, yang baik atau yang buruk, untuk mendapatkan pengadilan yang sesungguhnya. Di Arafah, jamaah berwukuf menemukan kesejatian hidup, menyerahkan laporan amal perbuatannya kepada Allah, yang baiknya dan ditangisi dosa dan kesalahannya. Sejak tergelincir matahari, mereka mengikuti shalat Dzuhur dan Ashar, khutbah Arafah, dzikir dan doa hingga terbenam matahari. Mereka berkomunikasi langsung dengan Allah.

Kelima, Di Muzdalifah, jamaah melakukan mabit (bermalam) di lapangan terbuka. Udara dingin dan angin menerpa tidak mengurungkan tekad mereka untuk tetap bertahan hingga pagi hari. Di lapangan gelap itu mereka membentangkan tikar tipis berbantal ransel, merebahkan diri, menatap langit, sambil memanjatkan puja dan puji serta doa-doa. Di Muzdalifah juga, jamaah mengumpulkan bekal, senjata berupa batu-batu kecil yang akan digunakan untuk melempari setan di Jamarat Mina. Setelah subuh, perjalanan dilanjutkan menuju Mina.

Keenam, Di Mina, Pagi hari jamaah sampai di tenda Mina, dalam kondisi kelelahan, meletakkan ransel, istirahat sebentar, lalu segera bersiap-siap melakukan jumrah Aqabah, melempari tiang besar sebagai bentuk peperangan terhadap setan, perlawanan terhadap segala bentuk kejahatan dan kemaksiatan. Dengan semangat, batu-batu itu dilemparkan tepat pada sasaran, sambil membaca Bismillahi Allahu Akbar (Dengan nama Allah, Allah Mahabesar). Seakan mereka sedang melempari nafsu setan kesombongan dirinya, nafsu setan keserakahannya, nafsu setan kerakusan, dan nafsu-nafsu jahat lainnya. Begitulah, dua hari berikutnya, tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah (nafar Awwal), atau sampai tanggal 13 Dzulhijjah (nafar Tsani), jamaah haji membuat komitmen tegas melakukan perlawanan nyata terhadap segala bentuk kejahatan, kemungkaran, dan kemaksiatan, yang disimpulkan dengan melakukan lempar jumrah. Bila perlawanan itu dilakukan terus menerus hingga sampai di tanah air, maka mereka akan terhindar dari dosa dalam kehidupannya setelah berhaji.

Ibadah haji memiliki makna besar dalam memperbaiki kehidupan kita. Hanya saja terkadang banyak yang salah niat dalam menjalankannya. Haji dijadikan sarana untuk menaikkan popularitas, karir, dan jabatan. Haji untuk menghapus jejak, bahkan haji untuk kesombongan. Padahal dalam haji terdapat pelajaran kesantunan, kebersahajaan, kebersamaan, kesabaran dan tolong menolong. Semoga kita mampu mengambil pelajaran dari ibadah haji. Aamiin

IBADAH HAJI

  1. Pengertian haji.

 Haji adalah sebagian rukun Islam, atau penutup dari rukun Islam dan dalam surat al-imran disebutkan bahwa Allah mewajibkan pada manusia untuk berhaji ke baitullah (masjidil haram) bagi yang mampu. Dalam hal ini ayat tersebut menyebutkan “manusia” dengan pengertian laki-laki dan perempuan. Selanjutnya jika disebutkan ihram, maka yang dimaksud yaitu seperti niat untuk melaksanakan haji, setelah Nabi menyebutkan bahwa sesungguhnya semua perbuatan itu dengan niat.

  1. Tata cara pelaksanaan haji.

 Tamatu’

     Tamatu’ ialah mengerjakan umrah lebih dahulu, baru mengerjakan haji. Cara

    ini  wajib membayar dam.

  1. Qiran.

 Mengerjakan haji dan umrah di dalam satu niat dan satu pekerjaan sekaligus. Cara ini wajib membayar dam.

  1. Ifrad.

 Mengerjakan haji lebih dulu, baru mengerjakan umrah, cara ini tidak membayar dam. Bagi jamaah yang mengambil haji ifrad dan haji qiran disunatkan mengerjakan tawaf qudum bukan tawaf umrah dan bukan tawaf haji. Tawaf qudum ini boleh disambung atau tidak disambung dengan sa’i. Tetapi apabila disambung dengan sa’i, maka sa’inya sudah termasuk sa’i haji.

  1. Do’a penting dalam ibadah haji.

 Do’a tawaf.

  1. Pada awal putaran pertama, menghadap hajar aswad sambil mengangkat tangan dan mengucap : Serta mengecupnya maka mulailah bergerak dengan posisi ka’bah disebelah kiri.
  2. Do’a putaran 1 sampai dengan putaran 7 dibaca mulai hajar aswad sampai rukun yamami.
  3. Membaca do’a diantara rukun yamami dan hajar aswad.

Do’a sesudah tawaf.

1. Do’a sesudah tawaf munajat di multazam, yaitu tempat antara hajar aswad dan pintu ka’bah.

2. Do’a sesudah shalat tawaf di makam ibrahim, setelah munajat di multazam, kemudian ke makam ibrahim untuk sholat sunat tawaf dua rakaat. Rakaat pertama setelah al-fatihah membaca surat al-kafirun dan setelah al-fatihah rakaat kedua membaca al-ikhlas

1) Do’a sesudah sholat di hijir ismail.

2) Do’a  waktu minum air zam-zam.

Do’a sa’i.

1. Do’a ketika mendaki bukit Safa sebelum mulai sa’i.

2. Do’a di atas bukit Safa ketika  menghadap ka’bah.

3. Do’a perjalanan ke 1 sampai dengan perjalanan ke 7 dari bukit Safa ke bukit Marwah, dibaca  mulai dari bukit Safa sampai pilar hijau.

1) Diantara dua pilar membaca do’a

2) Membaca do’a ketika  mendekati bukit Marwa.

3) Do’a di bukit  Marwa selesai sa’i.

Do’a di Arafah.

1. Do’a ketika berangkat ke Arafah.

2. Do’a  waktu masuk Arafah.

3. Do’a  melihat jabal rahmat.

4. Zikir dan  wukuf.Do’a di muzdhalifah dan mina

5. Do’a  waktu berangkat dari Arafah.

6. Do’a ketika sampai muzdhalifah.

7. Do’a ketika sampai di may’ aril haram.

8. Do’a ketika sampai di mina.

9. Do’a melontar jumroh. Setiap melontar 1 jumroh 7 kali lontaran masing-masing dengan 1 kerikil dan do’a.

10. Do’a setelah melontar ketiga  jumroh.

Do’a tawaf wada’

Pelaksanaan tawaf wada’ sebanyak 7 kali putaran mengelilingi ka’bah sebagai berikut :

  1. Putaran pertama. 1) Putaran pertama dimulai dari hajar aswad sampai rukun yamami dengan membaca do’a. 2) Putaran dari rukun yamami sampai hajar aswad membaca do’a.
  2. Do’a  putaran ke dua dan seterusnya. Do’a putaran kedua sampai dengan ketujuh, gerakan dan do’annya seperti Putaran pertama.
  3. Do’a sesudah tawaf wada’. Sesudah selesai tawaf wada’ kemudian berdiri di multazam yaitu antara hajar aswad dan pintu ka’bah atau yang searah lalu membaca do’a.
Oleh: subair | April 2, 2018

PUASA


Puasa wajib ramadhan adalah puasa dengan hukum wajib ‘ain yang harus dilakukan oleh setiap orang Islam beriman di bulan ramadan yang telah dewasa (akil balig), waras, mampu, merdeka dan tidak dalam safar sesuai dengan perintah langsung dari Allah SWT dalam firmanNya di dalam Kita Suci Al-Qur’an.

Puasa merupakan ibadah wajib yang ada dalam rukun Islam dengan menahan lapar dan haus serta hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa mulai dari terbit fajar di timur hingga terbenam matahari di barat. Orang yang melanggar aturan puasa akan batal puasanya dan wajib mengganti puasanya dengan hari lain di luar romadon.

Firman Allah Mengenai Puasa Ramadhan:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa”  (Q.S. Al-Baqarah: 183)

“(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”  (Q.S. Al-Baqarah: 184).

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian. Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur.  (Q.S. Al-Baqarah: 185)

A. Hakikat Puasa

Shaum menurut bahasa yaitu alimsak (menahan diri), adapun pengertian menurut syari’ yaitu menahan diri dengan niat dari seluruh yang membatalkan puasa seperti makan, minum dan bersetubuh mulai dari terbit fajar sampai dengan terbenam matahari. (Anas ismail Abu Dzaud, 1996: 412) Namun, secara implisit dalam puasa terdapat dua nilai yang menjadi parameter antara sah atau rusaknya puasa seseorang.

Pertama, Nilai Formal yaitu yang berlaku dalam perspektif ini puasa hanya tinjau dari segi menahan lapar, haus dan birahi. Maka menurut nilai ini, seseorang telah dikatakan berpuasa apabila dia tidak makan, minum dan melakukan hubungan seksual mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Padahal Rasulullah SAW telah memberikan warning terhadap umat muslim melalui sebuah haditnya yang berbunyi :

“Banyak orang yang puasa mereka tidak mendapatkan apa-apa melainkan hanya rasa lapar dan haus saja”. (H.R. bukhari).

Dari hadits tersebut kita dapat mengetahui bahwa hakekat atau esensi puasa tidak hanya menahan rasa lapar, haus dan gairah birahi saja, melainkan dalam puasa terkandung berbagai aturan, makna dan faedah yang mesti diikuti.

Kedua, Nilai Fungsional yaitu yang menjadi parameter sah atau rusaknya puasa seseorang ditinjau dari segi fungsinya. Adapun fungsinya yaitu untuk menjadikan manusia bertakwa (laa’lakum tattaqun). QS. Al-Baqarah 183

Kemudian menurut nilai ini, puasa seseorang sah dan tidak rusak apabila orang tesebut dapat mencapai kualitas ketakwaan terhadap Allah SWT. Maka dari itu, hakekat puasa dalam pandangan Rasyid Ridha adalah sebagaimana berikut ini:

1. Tarbiyat aliradat (pendidikan keinginan)

Keinginan atau kemauan merupakan fitrah manusia. Tapi acapkali kemauan atau keinginan yang dimiliki manusia tidak selamanya baik dan tidak pula selamanya buruk. Karena itu puasa dapat mendidik atau membimbing kemauan manusia baik yang positif maupun yang negatif. Dengan puasa, kemauan positif akan terus termotivasi untuk labih berkembang dan meningkat. Adapun kemauan negatif, puasa akan membimbing dan mengarahkan agar kemauan tersebut tidak terlaksana. Adapun yang menyebabkan kamauan seseoarang ada yang positif dan yang negatif, sesuai yang diungkapkan oleh Imam Al-Gazali bahwa di dalam diri manusia terdapat sifat-sifat sebagaimana berikut ini:

  1. Sifat Rububiyah, yaitu sifat yang mendorong untuk selalu berbuat baik.
  2. Sifat Syaithoniyah, inilah sifat yang mendorong seseorang untuk berbuat kesalahan dan kejahatan.
  3. Sifat Bahimiyah (kehewanan), sesuai dengan istilah yang diberikan pada manusia sebagai mahluk biologis.
  4. Sifat Subuiyah, yaitu sifat kejam dan kezaliman yang terdapat dalam diri manusia.

2. Thariqat almalaikat,

Malaikat merupakan makhluk suci, yang selalu taat dan patuh terhadap segala perintah Allah. Begitupun orang yang puasa ketaatannya merupakan suatu bukti bahwa jiwanya tidak dikuasai oleh hawa nafsunya. Juga, orang puasa akan mengalami iklim kesucian laksana seorang bayi yang baru lahir, jiwanya terbebas dari setiap dosa dan kesalahan. Inilah janji Allah yang akan diberikan untuk orang yang berpuasa dan melaksanakan setiap amalan ibadah pada bulan ramadhan.

3. Tarbiyat alilahiyyat (pendidikan ketuhanan)

Puasa merupakan sistem pendidikan Allah SWT dalam rangka mendidik atau membimbing manusia. Sistem pendidikan ini mengandung dua fungsi yaitu: 1) Sebagai sistem yang pasti untuk mendidik manusia supaya menjadi hamba tuhan yang taat dan patuh. 2) Sebagai suatu sistem yang dapat mendidik sifat rubbubiyyah (ketuhanan) manusia untuk dapat berbuat adil, sabar, pemaaf dan perbuatan baik lainnya.

4. Tazkiyat annafsi (penyucian jiwa)

Hakekat puasa yang keempat ini diungkapkan oleh Ibnu Qayim al Jauzi. Puasa dapat menjadi sarana untuk membersihkan berbagai sifat buruk yang terdapat dalam jiwa manusia. Adakalanya jiwa manusia akan kotor bahkan sampai berkarat terbungkus oleh noda dan sikap keburukan yang terdapat didalamnya. Maka wajar kalau puasa dapat menjadi penyuci jiwa. Dengan demikian kesempatan hidup pada bulan ramadhan yang akan segera hadir, semoga dapat dijadikan momen untuk menigkatkan kualitas iman dan takwa serta untuk dapat menggapai maghfirah Allah SWT.

B. Mengapa Allah Mewajibkan Puasa

  1. Karena Puasa Adalah Perintah Agama

Ini adalah jawaban yang paling utama dan paling mutlak. Dalam segala bentuk ibadah, ketika ditanya mengapa, jawabnya “karena ini adalah perintah agama“. Seseorang tidaklah layak beragama Islam sampai ia menyerahkan diri dan menerima sepenuhnya agama Islam, karena arti dari Islam sendiri itu adalah “menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah“. Sehingga segala bentuk perintah agama wajib diterima dan dilaksanakan termasuk diantaranya adalah puasa.

  1. Karena Puasa Adalah Rukun Islam

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu umar radhiallahu anhuma Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

بني الإسلام على خمس شهادة أن لا إله إلا الله و أن محمدا رسول الله و إقاق الصلاة و إيتاء الزكاة و صوم رمضان و الحج و صوم رمضان

(Islam dibangun diatas lima (pondasi) : Syahadat laa ilaaha illallah wa anna Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan ibadah haji (bagi yang mampu), dan berpuasa di bulan Ramadhan) (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibarat sebuah tenda kehilangan satu tiang, masihkah ia tegak menjulang?. inilah Islam, yang tak akan tegak tanpa tiang–tiang nya, yang diantaranya adalah puasa.

  1. Karena Dengan Puasa Kita Bisa Bertakwa

Mengapa kita diwajibkan berpuasa?, “agar kalian kalian bisa bertakwa…“. Allah sendirilah yang memberikan jawaban ini kepada kita. Allah ta’ala berfirman :

 “wahai orang–orang yang beriman telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas  umat –umat sebelum kalian agar kalian bertakwa“ (Al Baqarah : 183)

Dengan berpuasa terwujudlah hakekat takwa. Bagaimana tidak, sedangkan orang yang berpuasa menjauhi segala hal yang dapat membatalkan puasanya karena taat kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya, dengan ini terwujudlah takwa. Karena ia menaati perintah Allah berupa puasa, dan menjauhi larangan Nya yang berupa pembatal– pembatal puasa.

  1. Agar Terhapus Dosa Dan Mendapat Banyak Pahala

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

من صام رمضان إيماناً واحتساباً غُفر له ما تقدم من ذنبه

“barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa–dosanya yang telah lalu“ (HR. Bukhari dan Muslim).

Tidak hanya dihapusnya dosa, pahala yang tak terhingga pun didapat juga, sebagaimana dalam hadits qudsi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

يقول الله تعالى: كل عمل ابن آدم له، الحسنة بعشر أمثالها، إلا الصيام فإنه لي وأنا أجزي به، ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلي، للصائم فرحتان: فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه، ولَخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك

Allah ta’ala berfirman “setiap amalan anak Adam adalah untuk dirinya sendiri, dan setiap kebaikan akan dilipat gandakan sepuluh kali lipat kecuali puasa, karena puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendirilah yang akan membalasnya, ia meninggalkan syahwat, makanan, dan minumnya hanya karena untuk-Ku. Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan : bahagia ketika ia berbuka, dan bahagia ketika ia bertemu dengan Rabb-nya, dan sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum dari bau mis“ (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Agar Mudah Masuk Surga Dan Terhidar Dari Neraka

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pintu yang disebut sebagai Ar Rayyan, yang hanya dimasuki oleh orang–orang berpuasa dan tidak ada satupun yang masuk kecuali mereka. Tatkala ada yang menyeru “manakah orang–orang yang berpuasa?“ maka merekapun memasuki pintu tersebut dan tak ada yang masuk dari pintu tersebut selain mereka. Hingga apabila mereka telah memasukinya pintu tersebut akan ditutup dan tak ada lagi yang akan memasukinya“ (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak hanya itu, orang yang gemar berpuasa akan terhindar dari adzab neraka. Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“barangsiapa yang berpuasa satu hari fi sabilillah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh 70 tahun (perjalanan)“ (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Karena Begitu Banyaknya Keutamaan Di Bulan Ramadhan

Mari kita merenung sejenak, “mengapa puasa diwajibkan pada bulan Ramadhan?“  sebelum menjawab pertanyaan ini, timbul pertanyaan lain yang perlu kita jawab terlebih dahulu “apa saja keutamaan yang ada di bulan Ramadhan?“, sedikit akan kami sebutkan beberapa keutamaan bulan Ramadhan yang diantaranya :

Al Qur’an Diturunkan Pada Bulan Ramadhan

Allah ta’ala berfiman : “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan  (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda  (antara yang hak dan yang bathil)“ (Al Baqarah : 185)

Bulan Ramadhan Adalah Bulan Penuh Berkah, Rahmat, Dan Mustajabnya Doa

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

إذا دخل شهر رمضان فتحت أبواب الرحمة و غلقت أبواب جهنم و سلسلت الشياطين

“apabila telah masuk bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu–pintu rahmat, sedangkan pintu– pintu neraka jahannam ditutup, dan setan pun dibelenggu“ (HR. Bukhari dan Muslim dan ini adalah lafadz Muslim)

Bulan Ramadhan Bulan Ibadah Dan Amal Kebaikan

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam apabila telah memasuki sepuluh malam terakhir, beliau mengencangkan sarungnya untuk beribadah dan beliau membangunkan keluarganya untuk menghidupkan malam hari dengan ibadah.

Dari beberapa keutamaan yang telah disebutkan diatas, jelaslah bagi kita mengapa Allah mewajibkan puasa di bulan Ramadhan yang tentunya tidak seperti pada bulan–bulan lainnya, dan masih banyak keutamaan lainnya.

C. Tujuan dan Fungsi Puasa

  1. Tujuan Puasa

Tujuan ibadah puasa adalah untuk menahan nafsu dari berbagai syahwat, sehingga ia siap mencari sesuatu yang menjadi puncak kebahagiaannya; menerima sesuatu yang menyucikannya, yang di dalamnya terdapat kehidupannya yang abadi, mematahkan permusuhan nafsu terhadap lapar dan dahaga serta mengingatkannya dengan keadaan orang-orang yang menderita kelaparan di antara orang-orang miskin; menyempitkan jalan setan pada diri hamba dengan menyempitkan jalan aliran makanan dan minuman; puasa adalah untuk Tuhan semesta alam, tidak seperti amalan-amalan yang lain, ia berarti meninggalkan segala yang dicintai karena kecintaannya kepada Allah Ta ‘ala; ia merupakan rahasia antara hamba dengan Tuhannya, sebab para hamba mungkin bisa diketahui bahwa ia meninggalkan hai-hal yang membatalkan puasa secara nyata, tetapi keberadaan dia meninggalkan hal-hal tersebut karena Sembahannya, maka tak seorangpun manusia yang mengetahuinya, dan itulah hakikat puasa.

  1. Manfaat dan fungsi Puasa

Puasa memiliki beberapa manfaat, ditinjau dari segi kejiwaan, sosial dan kesehatan, di antaranya:

  1. Beberapa manfaat, puasa secara kejiwaan adalah puasa membiasakan kesabaran, menguatkan kemauan, mengajari dan membantu bagaimana menguasai diri, serta mewujudkan dan membentuk ketaqwaan yang kokoh dalam diri, yang ini merupakan hikmah puasa yang paling utama. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Al-Baqarah: 183)
  2. Termasuk manfaat puasa secara sosial adalah membiasakan umat berlaku disiplin, bersatu, cinta keadilan dan persamaan, juga melahirkan perasaan kasih sayang dalam diri orang-orang beriman dan mendorong mereka berbuat kebajikan. Sebagaimana ia juga menjaga masyarakat dari kejahatan dan kerusakan.
  3. Sedang di antara manfaat puasa ditinjau dari segi kesehatan adalah membersihkan usus-usus, memperbaiki kerja pencernaan, membersihkan tubuh dari sisa-sisa dan endapan makanan, mengurangi kegemukan dan kelebihan lemak di perut.
  4. Termasuk manfaat puasa adalah mematahkan nafsu. Karena berlebihan, balk dalam makan maupun minum serta menggauli isteri, bisa mendorong nafsu berbuat kejahatan, enggan mensyukuri nikmat serta mengakibatkan kelengahan.
  5. Di antara manfaatnya juga adalah mengosongkan hati hanya untuk berfikir dan berdzikir. Sebaliknya, jika berbagai nafsu syahwat itu dituruti maka bisa mengeraskan dan membutakan hati, selanjutnya menghalangi hati untuk berdzikir dan berfikir, sehingga membuatnya lengah. Berbeda halnya jika perut kosong dari makanan dan minuman, akan menyebabkan hati bercahaya dan lunak, kekerasan hati sirna, untuk kemudian semata-mata dimanfaatkan untuk berdzikir dan berfikir.
  6. Orang kaya menjadi tahu seberapa nikmat Allah atas dirinya. Allah mengaruniainya nikmat tak terhingga, pada saat yang sama banyak orang-orang miskin yang tak mendapatkan sisa-sisa makanan, minuman dan tidak pula menikah. Dengan terhalangnya dia dari menikmati hal-hal tersebut pada saat-saat tertentu, serta rasa berat yang ia hadapi karenanya. Keadaan itu akan mengingatkannya kepada orang-orang yang sama sekali tak dapat menikmatinya. Ini akan mengharuskannya mensyukuri nikmat Allah atas dirinya berupa serba kecukupan, juga akan menjadikannya berbelas kasih kepada saudaranya yang memerlukan, dan mendorongnya untuk membantu mereka.
  7. Termasuk manfaat puasa adalah mempersempit jalan aliran darah yang merupakan jalan setan pada diri anak Adam. Karena setan masuk kepada anak Adam melalui jalan aliran darah. Dengan berpuasa, maka dia aman dari gangguan setan, kekuatan nafsu syahwat dan kemarahan. Karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan puasa sebagai benteng untuk menghalangi nafsu syahwat nikah, sehingga beliau memerintah orang yang belum mampu menikah dengan berpuasa ( Lihat kitab Larhaa’iful Ma’aarif, oleh Ibnu Rajab, hlm. 163) sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

D. Hikmah Puasa

Puasa disamping sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, juga mengandung nilai-nilai keutamaan yang bermanfaat bagi pembinaan pribadi muslim. Keutamaan serta hikmah yang terkandung di dalamnya antara lain :

  1. Latihan kedisiplinan, kejujuran dan kepercayaan diri. Dengan berpuasa berarti kita melatih diri kita sendiri untuk mampu menahan makan, minum dan apa saja yang dapat merusak puasa dalam  waktu yang ditentukan. Kemampuan menahan diri dari makan dan minum serta apa saja yang dapat merusak puasa dalam waktu yang ditentukan, dapat menumbuhkan kedisiplinan, kejujuran dan percaya diri.
  2. Latihan pengendalian diri. Dengan berpuasa, kita dilatih bukan saja menahan makan minum, tetapi juga menahan agar selalu bersabar, tidak cepat marah, mengendalikan diri dari perbuatan-perbuatan tercela.
  3. Memelihara Kesehatan “berpuasalah niscaya  kamu sehat” begitulah sabda Rasulullah SAW..
  4. Tanda terima kasih kepada  Allah S.W.T
  5. Terima kasih kepada Allah S.W.T. atas nikmat, pemberiannya yang tidak terbatas.
  6. Didikan perasaan belas kasihan terhadap fakir miskin, agar suka mengentaskannya.

 F. Makna Spiritual Puasa

Kehidupan sebenarnya adalah rangkaian peristiwa, baik yang mengandung dimensi masalah atau yang mengandung kesebalikannya, tidak bermasalah. Hidup sesungguhnya merupakan rangkaian dari peristiwa demi peristiwa, baik yang kita ciptakan sendiri ataupun yang diciptakan oleh lingkungan kita.

Kata penciptaan dimaksudkan adalah merupakan hasil dari kreasi manusia sebagai akibat dari kemampuan insting, pikiran dan hati. Binatang hanya memiliki insting saja, sementara manusia memiliki kelengkapan potensi kehidupan, yaitu insting, pikiran dan hati. Manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling sempurna karena memiliki tiga potensi sekaligus itu.

Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang paling utama, sebaik-baik ciptaan. Meskipun Jin terbuat dari cahaya api yang menyala, akan tetapi dalam derajat kemakhlukannya kalah oleh manusia yang terbuat dari segumpal tanah. Manusia memang diberi kemampuan untuk memahami kehidupan secara lebih utuh karena sumber potensialnya yang lebih utama.

Manusia memiliki kemampuan untuk memimpin dan mengatur dunia ini sebagai implemetasi dari kekhalifahan yang dimilikinya. Manusia adalah ruh Allah yang ditiupkan kepadanya. Dengan demikian, manusia mengandung di dalam dirinya potensi ketuhanan. Yang saya maksud dengan potensi ketuhanan adalah potensi spiritual yang memang sangat unik dan hanya dimiliki oleh manusia.

Akan tetapi manusia bisa lupa dengan potensi spiritualnya ini. Manusia mudah terlena untuk tidak menjadikan potensi spiritualnya tersebut menjadi mengeksis di dalam kehidupannya. Itulah sebabnya Allah lalu menurunkan Nabi-Nabi atau Rasul-Rasul yang memiliki tugas untuk mengingatkan kembali akan potensi spiritual manusia tersebut. Rasul dibekali dengan pedoman hidup untuk menggapai kembali dunia spiritualnya yang hilang melalui kitab Suci. Dengan demikian, kitab suci merupakan pedoman bagi manusia untuk kembali kepada ajaran agamanya yang benar.

Salah satu ajaran yang potensial untuk mengembalikan kesadaran spiritual manusia adalah puasa. Bagaimana puasa bisa menjadi instrument untuk mengembalikan kesadaran spiritual dimaksud? Pertanyaan ini yang rasanya menjadi penting untuk dijawab. Puasa adalah ajaran Tuhan yang sangat universal. Hampir seluruh ajaran agama mengajarkan tentang puasa ini. Puasa bagi kaum awam adalah sebuah upacara ritual keagamaan yang hanya menekankan pada keabsahan secara lahiriyah, yaitu tidak makan, minum dan berhubugan seksual. Akan tetapi bagi kaum spiritualis, maka dimensi puasa sangatlah luas. Ia mencakup semua hal yang terkait dengan bagaimana membangkitkan fungsi spiritual tersebut di dalam kehidupannya.

Secara empiris dapat diketahui bahwa seluruh prosesi seseorang untuk menjadi alim yang unggul maka dipastikan bahwa prosesinya melalui puasa. Kanjeng Sunan Kalijaga, kala akan menjadi salah satu waliyullah, maka Beliau harus puasa selama bertahun-tahun di sungai di wilayah Tuban. Beliau puasa di air sungai untuk menjernihkan basis pikiran dan hatinya. Melalui puasa, maka beliau dapat memfokuskan seluruh kehidupannya hanya kepada Allah semata.

Sesungguhnya agama memberikan pedoman agar seseorang dapat mengarungi kehidupan bersearah kepada kebaikan. Agar seseorang bisa mengarahkan kepada kebaikan, maka di antara yang diajarkannya adalah dengan menahan hawa nafsunya. Seseorang harus mengarahkan kehidupannya dengan mengembangkan nafsu mutmainnahnya atau nafsu yang membawa kepada kedamaian, ketenangan, kesabaran dan hal-hal baik lainnya. Seirama dengan hal itu, maka nafsu amarah yang mewujud di dalam keangkaramurkaan, merasa paling berkuasa, merasa paling hebat dan segala nafsu yang terkait dengan keburukan harus dipangkas sesuai dengan kapasitas dirinya.

Nafsu amarah ini yang di dalam banyak hal dapat membawa kepada perilaku buruk atau jahat. Nafsu amarah akan membawa kepada kerusakan diri, lingkungan, masyarakat dan juga bangsa. Jika makin banyak orang yang memiliki nafsu amarah, maka akan terjadi pertentangan, rivalitas, dan bahkan konflik. Kerusakan sebagai akibat perang, sebenarnya dipicu oleh perilaku yang diarahkan oleh nafsu amarah ini. Demikian pula nafsu lawwamah atau nafsu yang lebih mengedepankan kepada pemenuhan kebutuhan fisikal atau biologis.

Melalui puasa yang mengajarkan spiritualitas, maka manusia diajarkan agar menjadi manusia paripurna, yaitu mengedepankan nafsu muthmainnah sesuai dengan fitrah manusia yang sebenarnya juga menginginkan kebaikan.

F. Puasa dan Pembentukan Insan Berkarakter

Bulan Ramadhan bagi kaum muslimin adalah melaksanakan puasa sebagai perwujudan keimanan. Makna puasa (shiyam) secara harfiah : al-imsak artinya berpantang atau menahan diri daripada melakukan sesuatu. Dalam istilah syara’ al-shiyam diartikansebagai menahan diri daripada makan, minum, berhubungan seksual sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.

 Inti pokok kandungan pengertian al-shiyam sebenarnya pada “proses menunda kesenangan sesaat” untuk mendapatkan“kepuasan/keberhasilan yang maksimal di masa datang”. Kemampuan menunda kesenangan sesaat berkaitan dengan “pengendalian diri” atau “sabar”. Itulah sebabnya ada hadist mengatakan bahwa al-Shiyam nisfu shabr, al-shabr nisfu al-Iman artinya Puasa adalah sebagian dari sabar; dan sabar adalah sebagian dari iman. Setidaknya ada empat tipe muslim menyambut hadirnya Ramadhan setiap tahun. Pertama, suka cita dan gembira menyambut hadirnya Ramadhan, karena ia merasakan kenikmatan beribadah di dalamnya. Kedua, mereka yang suka cita dan gembira menyambut hadirnya bulan Ramadhan, karena diuntungkan secara materi. Ketiga, merasa berat dan terbebani atas hadirnya Ramadhan. Keempat, kalangan yang biasa-biasa saja dalam menapaki Ramadhan.

Jika seseorang berusia 40 tahun, maka setidak-tidaknya telah melaksanakan puasa 27 bulan. Asumsinya adalah semenjak aqil baligh ia sudah puasa penuh. Pertanyaannya adalah: (1) apakah puasa yang sudah dilakukan sekian lama itu telah berdampak bagi pembentukan pribadi yang baik, atau belum; (2) pada tataran kolektif, apakah dampak berpuasa bagi bangsa ini sudah tampak nyata?

Pertanyaan pertama membutuhkan introspeksi atau muhasabah atas individu masing-masing. Jika seseorang berpuasa sementara pada saat yang sama ia juga melakukan perbuatan-perbuatan: (1) kidzb atau berdusta; (2) ghibah wa al-namimah atau menggunjing dan mengadu domba; (3) nadlarun bi al-shahwah atau melihat dengan hawa nafsu; dan (4) yumna la bihaq atau bersumpah palsu, maka puasanya menjadi hampa makna.

Pertanyaan kedua membutuhkan muhasabah nasional. Jika bangsa ini terus berpuasa, namun perilaku kolektifnya masih belum menunjukkan karakter mulia, maka dapat dinyatakan puasanya masih belum sampai pada nilai yang sesungguhnya, yakni taqwa.

Pada tataran realitas, kita masih menjumpai moralitas individu maupun kolektif sebagai bangsa belum sesuai dengan harapan. Di sana sini masih dijumpai fenomena menurunnya karakter individu maupun bangsa. Menurut Megawangi (2009:21), indikatornya antara lain: (a) meningkatnya kekerasan di masyarakat; (b) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk; (c) pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan; (d) meningkatnya perilaku merusak diri; (e) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk; (f) menurunnya etos kerja; (g) semakin rendahnya rasa saling menghormati satu sama lain; (h) rendahnya rasa tanggungjawab individu dan warga negara; (i) membudayanya ketidakjujuran; dan (j) adanya rasa saling curiga dan kebencian diantara sesama.

Membangun Karakter

Membangun karakter individu dan masyarakat merupakan sebuah keharusan, karena hal itu merupakan bagian dari tugas kekhalifahan setiap muslim. Setiap muslim diperintahkan oleh agama untuk membangun karakter dengan cara ber-akhlaq al-karimah.

Tugas mulia Nabi Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan karakter mulia dilandasi rahmah atau kasih sayang. Beliau menyontohkan sendiri ajaran akhlak mulianya, dengan empat pilar: (1) shidiq; (2) amanah; (3) tabligh; dan (4) fathonah.
Karakter shidiq (benar) dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan perilaku yang sama antara perkataan dan tindakan. Sifat amanah (jujur) menjadi landasan utama gerak beliau dalam laku keseharian, sampai-sampai beliau mendapat julukan al-amin oleh suku Quraisy. Tabligh (akuntabel) merupakan karakter Nabi Muhammad SAW dalam melaksanakan tugas kerasulannya. Sedangkan fathonah (cerdas) merupakan cerminan sikap kreatif dalam menjalankan tugas sebagai utusan Allah SWT.

Jika ditarik ke konsep kekinian, maka empat pilar karakter Nabi Muhammad SAW tersebut sangatlah relevan. Dalam literatur moderen karakter positif biasanya dicirikan dengan hal-hal berikut: (1) menghargai nilai normatif; (2) menumbuhkan rasa percaya diri; (3) kemandirian (4) keteguhan; dan (5) kreativitas.(Foester, 2012:2)

Ajaran Puasa

Ajaran puasa diturunkan kepada umat Nabi Muhamad SAW dan umat–umat sebelumnya supaya mereka mencapai derajat taqwa (Q.S. al-Baqarah: 183). Jika tujuan akhir dari perintah puasa adalah untuk mencapai ketaqwaan, maka tentu yang dimaksud bukan sekedar puasa untuk menahan lapar dan dahaga saja, namun juga puasa dalam arti mengendalikan hawa nafsu. Dengan kata lain, puasa yang dimaksudkan adalah mengendalikan diri dari sikap negatif, lalu masuk ke dalam sikap positif, seperti: jujur, disiplin, patuh pada aturan, etos kerja tinggi, dan solidaritas pada sesama.

  1. Kejujuran

Orang puasa akan jujur pada diri sendiri bahwa ia sedang berpuasa. Tidak berani melanggar makan, minum, maupun hal lain yang membatalkan sungguhpun tidak ketahuan orang lain.

  1. Disiplin

Puasa mengajari orang untuk berdisiplin saat mengakhiri sahur, memulai berbuka, serta hal-hal yang dilarang.

  1. Kepatuhan

Setiap orang yang berpuasa pada hakekatnya patuh pada aturan Allah SWT. Jika ia tidak patuh tentulah ia memilih tidak berpuasa. Di dalamnya ada rasa takut melanggar aturan.

  1. Etos Kerja

Puasa yang dilakukan sungguh-sungguh akan mendorong seseorang untuk menyadari bahwa kerja itu adalah ibadah. Kesadaran bahwa kerja itu merupakan ibadah akan memunculkan sikap bertanggungjawab atas setiap tindakannya dalam pekerjaan. Ia akan selalu berusaha meningkatkan profesionalismenya dalam bekerja. Ia takut kalau tidak maksimal dalam bekerja. Ia sadar bahwa ia tidak hanya sedang berurusan dengan atasannya atau pelanggannya semata, namun sedang berurusan (juga) dengan Allah SWT.

  1. Solidaritas

Alur pikir sederhananya dapat dinyatakan bahwa jika seseorang disuruh menahan lapar dan dahaga sehari penuh, diharapkan akan tumbuh kesadaran dalam dirinya betapa orang yang kesulitan ekonomi, yang tiap hari lapar dan dahaga karena tidak memiliki kesempatan untuk makan yang semestinya, harus diperhatikan dan disantuni. Jika kesadaran ini muncul diharapkan bagi orang yang berpuasa tersebut akan bisa berbagi dengan orang lain terutama kaum dhuafa.

G. Macam-macam puasa.

 1. Puasa wajib :

Puasa bulan ramadhan, salah satu rukun Islam yang lima diwajibkan pada tahun kedua  hijriyah. Hukumnya fardhu ain atas tiap-tiap mukallaf. (baliq, berakal)

Firman Allah (q.s. Al-baqarah 183) “hai orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.

 2. Puasa sunnah :

a. Puasa selama enam hari dalam bulan syawal.

b. Puasa arafah, yaitu puasa pada tanggal 9 dzulhijah (bulan haji), terkecuali orang yang sedang mengerjakan ibadah haji maka tidak disunnahkan atasnya.

c. Puasa asyura, yaitu puasa pada tanggal 10 muharram.

d. Puasa sya’ban, berpuasa dalam bulan sya’ban.

e. Puasa pada hari senin dan kamis

f. Puasa pada setiap pertengahan bulan kamariyah (tanggal 13, 14, 15).

3. Kaifiat dan amalan-amalan puasa.

Kaifiat atau tata cara berpuasa antara lain  :

  1. Berniat pada malam hari, waktunya yaitu setelah matahri terbenam sampai sebelum imsak.
  2. Makan sahur, waktunya yaitu mulai dari jam 00 sampai menjelang waktu imsak.
  3. Tidak makan dan minum mulai dari terbit fajar (waktu imsak sampai terbenam matahari)
  4. Menyegerakan berbuka  apabila telah tiba waktunya.

4. Amalan-amalan puasa  :

 a. Sholat terawih.

Sholat terawih ialah sholat malam yang dikerjakan pada setiap malam dan merupakan salah satu ibadah yang paling utama dalam bulan ramadhan, hukumnya sunat muakkad. Waktu mengerjakannya sesudah sholat isya.

Cara mengerjakan sholat terawih ada  2 macam  : a) 20 rakaat dengan 10 kali salam, ditambah dengan 3 rakaat witir. b) 8 rakaat dengan 4 kali salam atau 2 kali salam  ditambah tiga rakaat  witir dengan satu kali salam.

b. Tadarus al-Qur’an.

Tadarus al-Qur’an artinya membaca al-Qur’an. Pada waktu membaca al-Qur’an perlu diperhatikan tata tertib sebagai berikut : a) Disunatkan membaca al-Qur’an itu dalam keadaan suci (berwudhu). b) Membacanya di tempat yang bersih dan suci seperti di masjid, rumah musolla dan sebagainya. c) Diawali dengan ta’awudz dan basmalah dan diakhiri dengan shadaqAllahul ‘azhiim. d) Membaca dengan tenang dan khusyu’. e) Membacanya didasarkan dengan ilmu tajwid agar tidak salah.

c. Sadaqah.

Memberikan sesuatu kepada orang lain karena Allah, khususnya dibulan  ramadhan, memberikan sadaqah sangat dianjurkan. Banyak hal yang dapat digolongkan kedalam kegiatan sadaqah, antara lain  yaitu  : a)  Memberi makan dan minum untuk berbuka atau sahur kepada orang yang berpuasa. b) Memberi bantuan kepada fakir miskin, anak yatim dan siapa saja yang memerlukan bantuan, baik berupa materi dan sebagainya sesuai menurut  batas kemampuan.

Older Posts »

Kategori

%d blogger menyukai ini: