Oleh: subair | Oktober 1, 2009

REFLEKSI RAMADHAN 1430

Sudah menjadi harapan yang rutin setiap tahun untuk selalu bertemu bulan suci Ramadhan tahun berikutnya. Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah S.W.T. yang telah mengabulkan harapan itu untuk bertemu Ramadhan 1430 H. Antara dua Ramadhan telah dijalani dengan segala suka-duka menju kemuliaan hidup di hari depan dan kemuliaan hidup di akhirat kelak, namun sebagai manusia biasa tentu banyak kekurangan dan kehilafan yang terjadi, itulah sebabnya memasuki Ramadhan tahun ini kita berusaha untuk takarrub kepada Allah megharapkan rahmat, ampunan, dan keselamatan serta pembebasan dari siksa neraka di hari kemudian.

Agenda keluarga pada Ramadhan tahun ini adalah meningkatkan kualitas ibadah wajib yaitu melaksanakan shalat wajib tepat waktu secara berjamaah. Shalat Magrib dilaksanakan secara berjama’ah di rumah sesuai berbuka puasa bersama, shalat Isya dan shalat Subuh dilaksanakan di Mesjid, pelaksanaan shalat Zlohor dan Ashar diberikan kepada masing-masing anggota keluarga untuk melaksanakan secara berjamaah di Mesjid atau di tempat kerja. Sementara ibadah sunnah dan amaliah Ramadhan lainnya dilaksanakan masing-masing anggota keluarga sesuai tuntunan Allah dan Rasul Muhammad S.A.W untuk memperoleh sebanyak-banyaknya pahala yang dijanjikan oleh Allah S.W.T. Semoga Allah mencurahkan rahmat dan karunianya kepada orang-orang bertaqwa.

Sampai hari ke 10 di bulan suci Ramadhan ibadah puasa berjalan lancer sesuai tuntunan dan agenda keluarga, namun ada perbedaan kualitas dari masing-masing anggota keluarga. Memasuki hari-hari berikutnya agenda keluarga mulai terabaikan, ada kegiatan yang harus dilaksanakan yang tidak terantisipasi dalam rencana, yaitu tuntutan kehidupan sosial kemasyarakatan serta tugas dan tanggung jawab sebagai aparat yang harus ditunaikan, keluar daerah dan berpisah dengan keluarga mrngikuti berbagai kegiatan. Dalam hal ini bukan hanya agenda keluarga yang terpengaruh tetapi pola ibadah juga turut terganggu, terkadang berbuka puasa bukan lagi diawal waktu, makan sahur bukan lagi diakhir waktu, shalat wajib Zlohor dan Ashar serta Magrib dan Isya kadang-kadang juga digabung karena alasan musyafir, syukur tidak membatalkan puasa karena alasan itu.

Dari Bandara Betoambari Bau-Bau menuju Makassar

Dari Bandara Betoambari Bau-Bau menuju Makassar

Waktu untuk melaksaakan ibadah sunat dan amaliah Ramadhan lainnya sebagian bergeset untuk menjelesaikan tugas-tugas dan kewajibab yang bersifat keduniaan. Pada 10 hari-hari paruh kedua di bulan suci Ramadhan 1430 H sebagian besar waktu digunakan untuk terbang dari satu kota ke kota lain, menginap di hotel

Rakor & Workshop Manajemen BOS dalam rangka Wajar 9 Tahun di Makassar

Rakor & Workshop Manajemen BOS dalam rangka Wajar 9 Tahun di Makassar

mewah, berderet-deret di kursi meeting menerima materi workshop dan diskusi-diskusi untuk kemaslahatan negeri, makan sahur dan buka puasa di di dinning room mewah, kolaborasi dengan mitra kerja untuk kemajuan negeri, hampir-hampir terlupakan bahwa kita dalam keadaan ibadah puasa. Semoga Allah memberikan ampunan atas segala kesalahan dan kehilafan.

Memasuki 10 hari paruh ketiga di bulan Ramadhan 1430 H agenda keluarga mulai berjalan normal, bershaf-shaf di mesjid sambil meperebutkan shaf terdepan pada shalat wajib, sebagian malam digunakan untuk takarrub Ilallah di mesjid, menbaca kitab suci Al-Qura’an serta berdo’a memohon kesempuranaan rahmat dan ampunan Allah sambil menanti kehadiran malam Lailatul Qadri. Siang hari mempersiapkan agenda membayar zakat dan membagi sedekah. Zakat fitrah dibayarkan melalui Badan Amil Zakat di Mesjid kampung tempat biasa shalat berjama’ah, zakat maal akan disalurkan melalui Badan Amil Zakat di Mesjid tempat kelahiran dan pertama kali belajar agama di kampung seberang. Sedekah dibagikan kepada fakir-miskin yang ada di tetangga dan kerabat di kampung seberang, untuk itu mudik lebaran harus dilaksanakan.

Rakor Badan Akreditasi Sekolah/Madrasah Propinsi Sutra tahun 2009 di Kendari

Rakor Badan Akreditasi Sekolah/Madrasah Propinsi Sutra tahun 2009 di Kendari

Mudik lebaran bukan berarti pulang kampung karena kampug saya disini, bukan berari mudik karena saya warga di tempat ini, pulang kampung atau mudik lebaran saya artikan menengok kampung halaman tempat kelahiran dan tempat dibesarkan sampai akhirnya memutuskan untuk hijrah ke daerah ini. Kegiatan ini adalah bagian dari agenda keluarga pada Ramadhan tahun ini, sayangnya istri dan anak-anak lebih memilih merayakan Idul Fitri di tempat. Mereka terikat dengan ziara ke kuburan orang tua dan mertua yang meninggal dunia di tempat ini, maka mudik menengok kampungpun dilakukan sendirian.

Menjelang tiga hari sebelum hari raya Idul Fitri, ibadah puasa dilakukan diatas kapal yang menuju pulau-pulau kecil di kawasan laut Banda, menyinggahi beberapa pulau di gugusan pulau-pulau kabupaten Wakatobi, untuk silaturahim dengan kerabat dan keluarga di sana, sehari sebelum Idul Fitri, tiba di Pulau Tomia sebuah pulau paling buncit di jazirah tenggara pulau Sulawesi, disana tempat kelahiran dan menimba ilmu, disana ada SD Negeri 2 Usuku dan SMP Negeri 1 Tomia, di kedua sekolah itu tamat dan memperoleh ijazah kemudian melanjutkan pendidikan di rantau, di sana ada amal usaha yang saya didirikan 30 tahun yang lalu. Berdirinya amal usaha itu berkenaan dengan saat-saat rencana Reuni Alumni SMP Negeri 1 Tomia (dulu bernama SMP Negeri Usuku), amal usaha itu bernama TK Bustanul Athfal Al-Hikmah Tongano Barat, di Tomia Timur ada kuburan kakek dan nenek, di sana ada famili dan teman-teman masa kecil, bahagia rasanya berada di antara mereka, mengenang masa lalu yang indah.

Ibadah Zakat Maal diserahkan melalui Badan Amil Zakat di Mesjid As-Shabirin tempat menimba pelajaran agama dimasa kecil, bekas tetangga berdatangan meminta oleh-oleh, alhamdulillah dapat berbagi alakadarnya dengan mereka. Di sebuah desa tempat kelahiran istri, saya didaulat untuk membaca Hutbah Idul Fitri 1430.

Hari Raya Idul Fitri dirayakan bersama keluarga di desa Kulati Tomia Timur. Dalam pesan Hutbah yang saya bacakan menyapaikan kepada jama’ah Idul Fitri untuk meningkatkan taqwa kepada Allah S.W.T, menjadikan Nabi Muhammad S.A.W. sebagai contoh teladan dalam beribadah, beramal dan menjalani kehidupan, meningkatkan kualitas mempelajari agama Islam yang sebanar-benarnya sebagai agama yang dianut oleh seluruh warga masyarakat, menghindari dan mencegah hadirnya ajaran sesat seperti yang dilakukan oleh kaum terorisme dan ajaran yang menyimpang dari ajaran Islam yang sesungguhnya.

Dalam pesan hutbah itu pula disampaikan kepada pemerintah dan masyarakat Wakatobi untuk meperlakukan secara adil seluruh warga Indonesia yang datang di Wakatobi, baik sebagai pedangang, wisatawan, pegawai negeri dan lain-lain dengan memberikan penghargaan yang pantas sesuai kualitas dan sumbangsihnya terhadap kemajuan daerah, menjauhi sifat perimordial dan tindakan nepotisme yang akan mengecewakan sesama rakyat Indonesia. Sebagai daerah wisata yang kedatangan wisatawan dunia ratusan bahkan ribuan orang setiap bulan diharapkan agar pemerintah dan warga masyarakat memperlihatkan dan menampilkan budaya Islam yang santun dan menyejukkan yaitu budaya yang dianut oleh warga masyarakat selama ini agar mereka tertarik mempelajari nilai-nilai Islam sebagai Agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam serta tidak memberi kesempatan kepada mereka yang ingin mengembangkan budaya hedonis dan budaya materialistis yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai kehidupan dan peradaban masyarakat Wakatobi yang sudah terpatri dan tertanam sejak ratusan tahun yang lalu.

Idul Fitri di desa kecil itu berlangsung damai, jama’ah mengikuti shalat Idul Fitri dengan khusyu, mendengarkan hutbah dengan tertib dan tenang. Selamjutnya silaturahim antar warga spontan terlaksana, kunjung-mengunjugi antar keluarga, sajian makanan dan minuman pada hari itu melimpah, Nampak kegembiraan di wajah setiap orang yang dijumpai, semoga saja kegembiraan ini karena kemengan setelah berhasil melaksanakan puasa sebulan penuh. Ziara kubur dilaksanakan oleh sebagian warga masyarakat, semoga saja ziara kubur dimaknai sebaga wahana mengingat mati bahwa sebentar lagi kita akan terbaring bersama merekan di sini, juga dimaknai sebagai wahana amal saleh bagi yang masih hidup untuk mengirim do’a keselamatan kepada almarhum orang tua dan mereka yang berjasa dalam kehidupan.

Hari-hari berikutnya berlangsung kegiatan kemasyarakatan, ada perkawinan, sunatan, dan acara kekeluargaan lainnya. Salah satu acara yang menarik adalah Reuni ke 6 Alumni SMP Negeri 1 Tomia. Oleh alumni yang hadir mengadakan seminar nasional pengembangan profesi guru, sunatan massal, pertandingan olahraga dan acara manga lewu-lewu (makan bersama) salah satu acara seni budaya di daerah ini, berkunjung ke lokasi wisata Tadu Sampalu (sebuah lokasi wisata yang paling keras ombaknya di kawasan Wakatobi) dan lokasi wisata Onemobaa (sebauah lokasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan manca negara yang melakukan diving menykaksikan keindahan bawa laut di kawasan itu). Pada acara puncak kegiatan Reuni itu terkumpul dana sumbangan alumni untuk membangun ruang osis SMP Negeri 1 Tomia sebesar Rp 45.000.000,-

Akhirnya teringat dengan kewajiban sebagai aparat, harus berada di kantor paling lambat 3 hari setelah Idul Fitri. Dengan kapal motor super cepat kembali menemui keluarga di Bau-Bau, delapan jam diperjalanan tiba kembali di rumah dan menemui istri dan anak sementara mejalankan puasa Syawal, mereka berkali-kali khatam bacaan Al-Qur’am, qiyamul lail tak pernah putus selama bulan suci Ramadhan ini. Subhanallah mereka pemenang dalam pergulatan ibadah Ramadhan tahun ini setidaknya dalam ageda Ramadhan keluarga. Dalam diri ada rasa iri dan bangga terhadap mereka, ada pengakuan dalam diri akan adanya kekurangan ibadah pada Ramadhan tahun ini. Semoga dengan ibadah yang dapat dilakukan itu, membawa dampak positif untuk menapaki kehidupan kedepan dan semoga saja panjang umur dan bertemu Ramadhan tahun-tahun berikutnya untuk meraih pahala ibadah sebayak-banyaknya di bulan yang mulia yang penuh rahmat, ampunan dan ridho Allah S.W.T.

Semoga dengan ibadah Ramadhan 1430 H tahun ini kita mencapai derajat Muttaqin. Wallahualam bisshawab.

Wastabiqul chairat.
Subair.


Responses

  1. Tadu Sampalu dekat dengan Binongko, sempat kesana? sudah lama saya tidak ke Binongko.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: